Oleh: Nur Halimah
Mahasiswa UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi
PADEK.JAWAPOS.COM- Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan ekonomi global, tingginya suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, serta keluarnya modal asing dari negara berkembang membuat rupiah berada dalam posisi rentan terhadap dolar AS. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi sektor keuangan, tetapi juga berdampak langsung terhadap masyarakat melalui kenaikan harga barang impor dan menurunnya daya beli.
Berdasarkan berbagai laporan ekonomi nasional, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh Rp17.600 per dolar AS. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap perekonomian Indonesia tidak dapat dianggap ringan. Meski belum separah krisis moneter 1998, pelemahan rupiah tetap menjadi alarm bagi pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Dalam situasi seperti ini, kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjadi sorotan utama publik dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi keuangan negara.
Di tengah tekanan tersebut, kondisi fiskal dan moneter Indonesia sebenarnya masih menunjukkan sejumlah indikator positif. Pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di kisaran 5 persen, sementara nilai ekspor pada kuartal pertama 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan impor. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia masih cukup kuat dalam menopang perekonomian nasional. Namun demikian, tekanan terhadap rupiah tetap perlu diwaspadai karena ketidakpastian ekonomi global masih berlangsung.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan berupaya menjaga stabilitas fiskal dengan mengendalikan defisit anggaran, menjaga kepercayaan investor, serta meningkatkan penerimaan negara. Selain itu, pemerintah juga terus mendorong hilirisasi industri sumber daya alam agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat cadangan devisa dan meningkatkan daya tahan ekonomi nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional melalui kerja sama bilateral dengan beberapa negara. Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan. Upaya tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan adanya strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas rupiah.
Namun demikian, kebijakan pemerintah masih menghadapi berbagai tantangan. Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku, pangan, dan energi. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat dan akhirnya mendorong kenaikan harga barang di dalam negeri. Dampaknya sangat dirasakan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah yang harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.
Masyarakat di daerah, termasuk di Sumatera Barat, juga mulai merasakan dampak pelemahan rupiah. Harga beberapa barang kebutuhan yang bergantung pada distribusi dan impor mengalami kenaikan. Pelaku usaha kecil dan UMKM pun menghadapi tantangan karena biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat cenderung melemah. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka pertumbuhan ekonomi daerah dapat ikut terdampak.
Selain itu, pemerintah juga perlu berhati-hati dalam mengelola pembiayaan pembangunan nasional. Program pembangunan yang membutuhkan anggaran besar tentu memerlukan sumber pendanaan yang kuat. Jika pengelolaan utang tidak dilakukan secara efektif, maka kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia dapat menurun dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Sementara itu, Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo mengambil langkah stabilisasi melalui intervensi pasar valuta asing dan penyesuaian suku bunga acuan. BI juga terus memperkuat cadangan devisa guna menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan kenaikan suku bunga dilakukan agar investasi asing tetap bertahan di Indonesia dan arus modal keluar dapat ditekan.
Baca Juga: Saksi Sebut Pasar Sungaibatang sempat Berfungsi Baik, Ahli Soroti Hak Tersangka
Langkah tersebut cukup efektif untuk menjaga kepercayaan pasar. Akan tetapi, kebijakan suku bunga tinggi juga memiliki konsekuensi terhadap sektor riil. Dunia usaha dapat mengalami perlambatan akibat meningkatnya biaya pinjaman. Pelaku UMKM yang bergantung pada akses kredit juga berpotensi kesulitan mengembangkan usaha mereka. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi nasional dapat melambat jika kebijakan moneter terlalu ketat dalam jangka panjang.
Karena itu, Bank Indonesia perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. Stabilitas rupiah memang penting, tetapi perlindungan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat juga harus menjadi perhatian utama. Kebijakan moneter tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan pasar keuangan, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi masyarakat secara luas.
Pelemahan rupiah pada dasarnya menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih rentan terhadap tekanan eksternal. Oleh sebab itu, solusi jangka panjang harus difokuskan pada penguatan fundamental ekonomi nasional. Pemerintah perlu mempercepat industrialisasi, mengurangi ketergantungan impor, memperkuat sektor pertanian dan energi, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan ekonomi yang lebih mandiri, Indonesia tidak akan mudah terguncang oleh perubahan ekonomi global.
Baca Juga: Multipolaritas: Jalan dari Beijing
Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi kunci utama menghadapi situasi ini. Kebijakan fiskal dan moneter harus berjalan selaras agar stabilitas ekonomi dapat terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan masyarakat. Pada akhirnya, kekuatan rupiah bukan hanya ditentukan oleh kondisi pasar global, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia membangun ekonomi yang kuat, produktif, dan mandiri. (*)
Editor : Tandri Eka Putra