Oleh: Dasrul, SS., M.Si
PADEK.JAWAPOS.COM- Sako dan pusako adalah identitas. Ia bukan sekadar gelar, tanah, atau rumah gadang, tetapi sistem nilai yang mengatur bagaimana orang Minangkabau hidup bermasyarakat: malu dan sopan, musyawarah mufakat, rasa pareso, dan tagak bagak jo adaik. Di era digitalisasi, warisan ini sedang diuji. Anak nagari hari ini lahir dan tumbuh dengan gawai di tangan, bukan dengan duduk di surau atau balai adat. Akibatnya, muncul gejala yang mengkhawatirkan: anak nagari menjadi tamu di budayanya sendiri.
Fakta Negatif Anak Nagari di Era Digitalisasi
Pengamatan lapangan dan diskusi dengan pemuda nagari di Agam, Tanah Datar, dan Padang Pariaman menunjukkan pola yang konsisten:
Baca Juga: Jon Firman Pandu Semangati Karateka Menuju Porprov 2026
1. Sibuk dengan android – Rata-rata waktu layar remaja Minangkabau 5-7 jam per hari berdasarkan survei internal komunitas pemuda nagari 2024. Konten yang dikonsumsi dominan hiburan singkat, bukan konten budaya atau diskusi nagari.
2. Tangan lebih banyak dari pada mulut – Kemampuan berdialog langsung menurun. Anak muda lebih fasih mengetik komentar 500 karakter daripada menyampaikan pendapat 2 menit di musyawarah pemuda.
3. Telinga mendengar, respon sosial rendah – Banyak yang hadir di acara adat, tetapi tidak memahami makna, tidak bertanya, tidak terlibat. Mereka menjadi penonton, bukan pelaku.
4. Malas berinteraksi langsung – Undangan gotong royong sering dijawab “sibuk”, tetapi aktif di grup WhatsApp. Interaksi dialihkan ke ruang digital yang minim tanggung jawab sosial.
5. Suka berkomentar namun tidak menguasai realitas – Komentar tajam di media sosial tentang kebijakan nagari sering tidak berdasar data. Opini mengalahkan fakta, emosi mengalahkan musyawarah.
6. Cuek di dunia nyata, aktif di dunia maya – Kehadiran fisik di nagari minim, tetapi digital persona sangat aktif. Akibatnya, modal sosial nagari melemah.
Baca Juga: Trantibum dan Penguatan Pesantren Disorot
Analisa Dampak terhadap Keberlangsungan Budaya
Ketika enam indikator di atas menjadi norma, yang terjadi adalah pemutusan rantai transmisi budaya. Budaya Minangkabau diturunkan secara lisan, melalui praktik, dan melalui partisipasi. Jika anak nagari tidak lagi duduk mendengar, tidak lagi bicara dalam musyawarah, tidak lagi terlibat gotong royong, maka sako hanya tinggal tulisan di dokumen.
Dampaknya nyata:
- Krisis regenerasi pemimpin adat dan pemuda – Calon penghulu dan ketua pemuda nagari minim yang paham adat dan tata cara.
- Pudarnya bahasa dan sastra lisan – Anak nagari tidak lagi fasih berbahasa Minang halus, apalagi pantun, kaba, dan salawat dulang.
- Melemahnya gotong royong – Nagari yang dulu kuat karena bagotong royong, kini kesulitan mengumpulkan 20 orang untuk kerja bakti.
- Fragmentasi identitas – Anak nagari lebih mengenal budaya Korea, K-pop, dan influencer asing daripada struktur suku, kaum, dan rumah gadang mereka sendiri.
Baca Juga: 3 Tempat Usaha Terbakar di Payakumbuh, Terduga Pelaku Diringkus
Ini adalah kondisi “mamakai baju urang, baju kita di bakar”. Kita sibuk memakai budaya orang lain, bangga dengan tren luar, sementara pakaian adat, bahasa, dan tata nilai kita sendiri terbakar karena tidak dirawat.
Analisa Akar Masalah
Masalah bukan pada teknologi. Android, TikTok, dan Instagram adalah alat. Masalahnya pada tidak adanya kurasi dan arah. Pendidikan formal, informal, dan adat belum berhasil menerjemahkan nilai sako ke dalam bahasa digital yang relevan. Sekolah mengajar sejarah Minangkabau, tetapi tidak melatih anak berpidato adat. Lembaga adat mengadakan acara, tetapi tidak menarik bagi anak muda karena dikemas monoton.
Solusi: Digitalisasi Sako, Bukan Digitalisasi Menggilas Sako
Solusinya bukan melarang gawai, tetapi mengisi ruang digital dengan konten dan praktik sako yang aplikatif.
Baca Juga: Lonjakan Nilai Demokrasi Sumbar Sorotan Nasional
1. Bagi Pemerintah Daerah
Dinas Pendidikan, Pariwisata, dan Kominfo perlu membuat program “Nagari Digital Budaya”. Misalnya, lomba konten TikTok adat, podcast musyawarah nagari, dan database digital silsilah kaum. Anggaran Dana Nagari bisa dialokasikan untuk pelatihan digital storytelling berbasis adat.
2. Bagi Lembaga Adat dan Kerapatan Adat Nagari
Adat harus hadir di platform anak muda. Niniak mamak perlu belajar menjadi konten kreator adat. Sesi “Balai Adat Live” di Instagram atau YouTube bisa membahas masalah nagari dengan bahasa ringan. Gelar adat tidak cukup disandang, harus dijelaskan maknanya.
3. Bagi Orang Tua
Rumah adalah sekolah pertama. Orang tua perlu membatasi waktu layar, menghidupkan kembali tradisi kaba malam, dan membawa anak ke acara adat. Anak yang tidak pernah diajak ke baralek, tidak akan paham mengapa ia harus menjaga marwah kaum.
Baca Juga: Milad ‘Aisyiyah Payakumbuh Dongkrak Ekonomi Warga
4. Bagi Swasta dan Pelaku Ekonomi Kreatif
Dorong brand lokal Minangkabau untuk memakai narasi adat dalam produk mereka. Fashion, kuliner, dan game edukasi bisa menjadi pintu masuk. Swasta bisa mensponsori program “Duta Digital Nagari” yang dilatih oleh pemuda kreatif.
5. Bagi Lingkungan Sosial dan Pemuda
Hidupkan kembali “surau digital”. Buat grup WhatsApp/Telegram nagari yang isinya bukan gosip, tetapi diskusi kebijakan nagari, sejarah kaum, dan jadwal gotong royong. Jadikan offline dan online saling menguatkan.
Penutup: Jangan Jadi Tamu di Rumah Sendiri
Anak nagari Minangkabau tidak boleh hanya pandai berkomentar tentang Minangkabau di kolom komentar. Ia harus paham, mengamalkan, dan mewariskannya. Sako adalah pakaian kita. Jika kita sibuk memakai baju orang lain dan membiarkan baju kita terbakar, maka di masa depan anak cucu kita akan bertanya: “Nenek moyang kami itu siapa sebenarnya?”
Baca Juga: Gelombang Tinggi Ancam Nelayan di Perairan Sumbar
Digitalisasi adalah keniscayaan. Tugas kita adalah memastikan bahwa di dalam setiap gawai anak nagari, ada nilai sako yang hidup. Karena nagari yang kuat adalah nagari yang warganya tidak hanya ada di dunia maya, tetapi juga hadir, bersuara, dan bertanggung jawab di dunia nyata.
Mari jaga sako, agar anak nagari tidak menjadi tamu di budayanya sendiri.
Editor : Tandri Eka Putra