Oleh Shofwan Karim (Pengamat, Penulis Esai dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)
PADEK.JAWAPOS.COM--Peradaban manusia sedang mengalami transformasi besar. Era disrupsi menghadirkan teknologi yang menggantikan sistem lama dengan cara kerja yang lebih cepat, efisien, dan instan.
Gawai, komputer, laptop, hingga kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemudahan itu, muncul paradoks: manusia merasa beruntung sekaligus buntung.
Generasi muda, khususnya pelajar, menjadi kelompok paling rentan. Mereka mengalami candu digital—digital-whokholic—yang menurunkan minat membaca buku cetak dan menulis tangan. Padahal, keterampilan dasar ini merupakan fondasi kognitif yang membentuk daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir kritis
Baca Juga: Pabrik Pinang Ekspor di Akabiluru Serap 600 Pekerja, Mahyeldi: Contoh Investasi Hilirisasi Sumbar
Swedia dan Finlandia: Menyadari “Buntung”
Swedia menjadi sorotan dunia ketika Menteri Pendidikan Lotta Edholm pada Agustus 2023 menghentikan pembelajaran digital bagi anak-anak di bawah enam tahun. Kebijakan ini lahir dari penurunan skor literasi: dari 555 pada 2016 menjadi 544 pada 2021. Pemerintah menyimpulkan bahwa ketergantungan layar menurunkan konsentrasi dan merusak pemahaman membaca.
Swedia lalu kembali mewajibkan siswa membaca buku cetak, menulis tangan, dan berinteraksi langsung dengan guru. Penelitian kognitif menunjukkan bahwa membaca fisik meningkatkan retensi memori dan pemahaman mendalam. Selain itu, menulis tangan memperkuat koordinasi motorik halus serta fungsi otak.
Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik, mengambil langkah serupa. Setelah satu dekade membagikan laptop, banyak distrik sekolah kembali menyediakan buku cetak. Kota Riihimäki menjadi contoh nyata transisi ini. Penurunan skor literasi dan kekhawatiran orang tua mendorong kebijakan pembatasan screen time. Finlandia menekankan keseimbangan: keterampilan mengetik tetap diajarkan, tetapi tulisan tangan dipertahankan sebagai dasar perkembangan kognitif.
Baca Juga: PLN UID Sumbar Sembelih 13 Hewan Kurban Iduladha 2026, Daging Dibagikan untuk Kaum Dhuafa
Singapura: AI dengan “Pagar Pendidikan”
Berbeda dengan Nordik, Singapura tidak menolak teknologi, tetapi mengatur penggunaannya secara ketat. Kementerian Pendidikan (MOE) menerapkan kebijakan berbasis usia: Sekolah Dasar Bawah (Kelas 1–3): AI dilarang, metode cetak diutamakan. Sekolah Dasar Atas (Kelas 4–6): AI diperkenalkan secara terbatas dengan perangkat edukasi khusus. Sekolah Menengah: AI digunakan untuk tugas tertentu, tetapi siswa wajib mengikuti pelatihan literasi AI.
AI di Singapura hanya beroperasi dalam platform resmi Student Learning Space (SLS) dengan fitur Learning Assistant (LEA). Sistem ini tidak memberi jawaban instan, melainkan pertanyaan pemantik agar siswa berpikir mandiri.
Selain itu, integritas akademik dijaga: AI dilarang dalam ujian nasional, dan penggunaan untuk tugas sekolah harus disertai deklarasi sitasi. Perlindungan data siswa juga diatur sesuai Personal Data Protection Act (PDPA). Mulai Januari 2026, smartphone dan smartwatch dilarang di sekolah menengah untuk menjaga fokus belajar.
Baca Juga: BMKG: Prakiraan Cuaca Tujuh Kota di Sumbar Jumat 29 Mei 2026, Waspadai Perubahan Cuaca
UNESCO: Literasi sebagai Fondasi
UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB) melalui Global Education Monitoring Report menegaskan bahwa teknologi digital harus menjadi alat bantu, bukan pengganti interaksi, membaca, dan menulis dasar. Laporan ini mendukung kebijakan negara-negara yang menyeimbangkan media cetak dan digital.
Buku Cetak, cocok untuk deep learning, membangun fokus, dan memahami narasi panjang. Membaca fisik meminimalkan gangguan digital serta merangsang daya ingat spasial. Narasi Digital, unggul dalam kepraktisan, akses literatur besar, dan pencarian cepat.
Keduanya bukanlah pilihan biner, melainkan komplementer. Buku cetak dan tulisan tangan menjadi fondasi kognitif utama, sementara perangkat digital berfungsi sebagai pelengkap seiring bertambahnya usia pelajar.
Baca Juga: Catatan dari Ujung Sumbar
Indonesia: Tantangan dan Harapan
Indonesia menghadapi tantangan serius. Menurut Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2022, skor literasi Indonesia hanya 64,48 dari skala 1–100. Rendahnya angka ini dipengaruhi keterbatasan akses perpustakaan dan ketergantungan teknologi selama pandemi Covid-19.
Pemerintah menekankan bahwa pengembangan sumber daya manusia harus holistik: literasi, numerasi, karakter, dan talenta prestasi memiliki kepentingan yang sama. Program “Ayo Menulis SiDU” yang diluncurkan sejak 2017 menjadi salah satu inisiatif positif.
Program ini mendorong anak-anak menulis tangan untuk melatih kemampuan neuro-motorik, kognitif, dan linguistik. Domestic Business Head Stationery APP Sinar Mas, Adi Kurniawan, menegaskan: “Menulis tangan adalah keterampilan penting yang harus dikuasai anak-anak.”
Baca Juga: Kurban: Bahimiyah ke Muthmainnah
Skor Literasi Swedia (PISA): 2016 = 555 → 2021 = 544 (turun 11 poin).
IPLM Indonesia 2022: 64,48/100 (kategori rendah).
Kebijakan Finlandia: 70% sekolah dasar kembali menggunakan buku cetak sejak 2023.
Singapura: 100% sekolah menengah melarang smartphone mulai Januari 2026. Data ini menunjukkan tren global: negara maju sekalipun menyadari pentingnya literasi analog.
Sufistik: Zikir Intelektual
Peradaban digital memang menawarkan kecepatan, tetapi literasi analog memberi kedalaman. Membaca buku cetak dan menulis tangan adalah latihan kesabaran, fokus, dan keintiman dengan pengetahuan. Dalam perspektif sufistik, menulis tangan adalah zikir intelektual: gerakan pena menjadi meditasi yang menghubungkan pikiran dengan jiwa.
Baca Juga: Sawit Turun, Minyak Goreng masih Mahal
Teknologi seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti. Jika manusia kehilangan keterampilan dasar, maka ia kehilangan akar peradaban. Seperti pepatah Latin “Verba volant, scripta manent”—kata-kata terbang, tulisan tetap.
Literasi analog bukan nostalgia, melainkan kebutuhan mendesak. Swedia dan Finlandia membuktikan bahwa kembali ke buku cetak dan tulisan tangan meningkatkan kualitas pendidikan. Singapura menunjukkan bahwa AI bisa diatur dengan pagar etika. UNESCO menegaskan pentingnya keseimbangan.
Indonesia harus belajar dari pengalaman global. Membaca buku cetak dan menulis tangan perlu digiatkan kembali, bukan hanya sebagai keterampilan, tetapi sebagai fondasi peradaban. Dengan demikian, bangsa ini tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan pencipta peradaban yang berakar pada literasi mendalam. (*)
Editor : Adetio Purtama