Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Menguji Mabrur di Altar Budaya Populer

Adriyanto Syafril • Rabu, 3 Juni 2026 | 21:49 WIB
Shofwan Karim.
Shofwan Karim.

Penulis : Shofwan Karim - Dosen Pascasarjana UM Sumbar, Pengamat, dan Penulis Esai

KEMARIN, seseorang mengirim video TikTok merekam sebuah ritus kepulangan yang kolosal. Sesosok pria bertubuh sedang turun dari perut pesawat haji. Ia mengenakan kopiah putih, kemeja putih, celana hitam, dan sepatu hitam mengilap. Di ruang VIP kedatangan, sanak famili menjemputnya dengan kehangatan yang tak biasa—sebuah protokoler alamiah bagi seorang tokoh tinggi Nusantara.

Namun, drama visual sesungguhnya baru dimulai di gerbang rumahnya. Di sepanjang koridor menuju pintu utama, barisan pemuda bergamis putih dan bersorban berdiri berjejer. Ketukan rebana mengalun energik, mengiringi bait-bait “Thala’al Badru ‘Alaina” yang syahdu namun bertenaga. Detik itu, ruang domestik tersebut seakan mengulang “folklore” kaum Anshar di Madinah ketika menyambut Sang Nabi dalam peristiwa Hijrah dari Yatsrib.

Di dalam rumah, atmosfer riuh merayap naik. Pak Haji yang baru ini, bersama sang istri, turun dari lantai atas untuk memeluk satu demi satu kerabatnya. Tangan-tangan menadah, bibir-bibir bergumam lembut, melangitkan doa yang paling karib bagi setiap hamba yang baru pulang dari Baitullah: “Allahumma Hajjan Mabruran”—Ya Allah, jadikanlah haji kami sebuah kemabruran yang Engkau dekap dengan kebaikan.

Populer: Ritual dan Sosio-religi

Realitas dalam layar TikTok itu bukanlah sebuah rekayasa artifisial, melainkan sebuah teks sosial yang hidup. Geliat visual tersebut seketika memicu sinopsis memori saya, melesat kembali ke era 1980-an. Saat itu, saya berkesempatan menjadi bagian dari “team teaching” bersama seorang profesor tamu dari salah satu universitas terkemuka di Belanda. Di bawah naungan salah satu universitas tersohor di kota ini, kami membedah diskursus Antropologi Agama, Sosiologi Agama, serta Manusia dan Kebudayaan Afrika.

Dalam ruang-ruang kuliah masa lalu itu, salah satu menu akademik yang hangat kami perdebatkan adalah fenomena “Popular Religion” (Agama Populer). Secara Antro-sosiologis, agama populer merupakan artikulasi, ekspresi, dan praktik keagamaan yang tumbuh subur dan mengakar dalam ruang kultural sehari-hari masyarakat awam.

Ritus ini sering kali menjauh dari kerumitan teks teologis yang dogmatis atau perdebatan syariat yang ortodoks. Ia lebih memilih memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis-eksistensial manusiawi. Pencarian rasa aman, permohonan keselamatan, keberuntungan, hingga penyembuhan mediatif, melalui medium simbol, doa, dan upacara komunal.

Secara teoretis, fenomena ini ditandai oleh tiga pilar utama: Pertama,  pragmatisme religius-magis. Berorientasi pada solusi konkret atas problem-problem duniawi (seperti ritual tolak bala atau istighasah dan bahkan perayaan kesuksesan) daripada pemenuhan doktrin formal yang kaku.

Kedua,  sinkretisme kultural lokalan. Adanya perkawinan estetis antara dogma agama resmi dengan tradisi, cerita rakyat, memori kolektif, dan kepercayaan lokal masyarakat setempat.

Ketiga, karakter komunal yang Inklusif. Berupa ruang kultural yang cair, merakyat, dan dapat diakses oleh seluruh strata sosial tanpa memandang batas usia.

Para sosiolog dan antropolog memetakan pop-religi ini ke dalam dua konteks ruang dan waktu. Pertama, sebagai Agama Tradisional/Folklorik, di mana masyarakat awam mengekspresikan spiritualitasnya lewat ziarah kubur, tradisi sedekah bumi, atau upacara adat bernuansa religius yang kerap dipandang sebelah mata oleh otoritas ortodoksi.

Kedua, yang bertransformasi menjadi, “Agama Budaya Populer Modern”. Di era kontemporer, simbol, nilai, dan bahkan sosok agamis mengalami komodifikasi melalui industri media massa, musik, mode (fashion), dan gaya hidup digital. Musik religi yang merajai tangga lagu, busana muslimah yang glamor, hingga status sosial baru di media sosial, menjadi ruang nyaman bagi manusia modern untuk merasa "telah beragama". Pertanyaannya kemudian: di manakah tali simpul yang menghubungkan ekspresi “pop-religi” ini dengan diksi sakral bernama "Haji Mabrur"

Kemabruran: Eksistensialisme Spiritual

Secara teologis, haji mabrur adalah ibadah haji yang sah dan diterima oleh Allah SWT. Namun, di dalam wilayah ontologis, hakikat kemabruran adalah rahasia absolut yang kuncinya hanya dipegang oleh Sang Khalik. Kendati demikian, para ulama memberikan sebuah konformitas sosiologis: bahwa kemabruran teologis harus membuahkan transformasi empiris pada perilaku sang hamba setelah kembali dari tanah suci.

Secara etimologis, “mabrur” berakar dari kata “al-birru” yang bermakna kebaikan atau kebajikan. Dalam bentangan syariat, haji mabrur adalah ziarah spiritual yang bersih dari noda dosa, tidak tercemar oleh riak maksiat, serta dihiasi oleh ketulusan yang sunyi dari kemewahan ragawi ataupun keangkuhan sosial. Rasulullah SAW menegaskan puncaknya dalam sebuah hadis-shahih:  Haji mabrur tidak ada balasannya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk membumikan predikat langit ini, implementasi kemabruran tersebut wajib mengejawantah ke dalam siklus hidup paska-haji melalui beberapa dimensi:

(1) Dimensi ritual yang puritan (sebelum dan selama ibadah).  Dibangun di atas fondasi dana yang halal, niat yang bersih dari motif keduniawian, serta ketaatan mutlak pada rukun dan syarat. Selama di Tanah Suci, sang jemaah wajib mengisolasi diri dari penyakit lisan dan hati, “rafats” (kata-kata kotor/porno), “fusuq” (perbuatan maksiat), dan “jidal” (berbantah-bantahan yang merusak ukhuwah).

(3) Dimensi sosial yang humanis (peduli sesama). Kemabruran menuntut lahirnya kesalehan sosial. Ia termanifestasikan dalam karakter “ith'amut tha'am” (gemar berbagi rezeki dan memberi makan mereka yang lapar) serta “ifsyatus salam” (menebar kedamaian, merawat harmoni, dan menjaga lisan dari menyakiti sesama makhluk).

(4) Dimensi etis-konsistensi (pasca-haji).  Gelar "Haji" bukanlah sebuah titik henti, melainkan sebuah titik mula. Kemabruran diuji saat jemaah kembali ke lingkungan asalnya; apakah shalatnya semakin terjaga, apakah kepeduliannya pada kaum duafa semakin mengental, dan apakah ia mampu menjaga kontinuitas (istiqamah) dalam kebaikan.

(5) Akhlaqul karimah. Menjadi pribadi yang memancarkan aura “tawadhu” (rendah hati) di tengah riuh rendahnya struktur sosial, menjauhkan diri dari kesombongan spiritual-fisikal, serta senantiasa menjadi mata air kearifan bagi lingkungan sekitar.

 

Jembatan Populer dan Esensial

Menyaksikan penyambutan haji yang megah dalam video TikTok di atas tadi, kita dihadapkan pada persilangan jalan yang estetis sekaligus kritis. Penyambutan dengan rebana, gamis putih, dan selawat “Thala’al Badru” adalah wujud dari ekspresi kegembiraan keagamaan—sebuah “popular religion” yang merayakan pencapaian spiritual dengan bahasa kulturalnya sendiri. Di satu sisi, ia adalah berkah kebudayaan yang memperkaya khazanah tradisi kita, memberikan rasa bahagia dan kehangatan komunal yang mengokohkan identitas Muslim Nusantara.

Namun di sisi lain, fenomena kultural ini menyimpan alarm filosofis. Jangan sampai gemerlap selebrasi populer, riuhnya tepuk tangan, dan mewahnya seremonial kepulangan mendistorsi esensi sejati dari “al-birru” (kebaikan) yang sunyi. Haji mabrur tidak diukur dari seberapa meriah lantunan rebana menyambut kita di pintu rumah, melainkan dari seberapa sunyi dan tulusnya kita bersujud di sepertiga malam, serta seberapa nyata tangan kita merangkul mereka yang papa di dunia nyata.

Pada akhirnya, biarlah kegembiraan populer itu mengalir sebagai riak-riak indah di permukaan telaga budaya. Namun, di kedalaman jiwanya, setiap jemaah haji harus tetap menjaga mutiara kemabruran yang sejati: sebuah kepasrahan total, kerendahan hati yang luhur, dan komitmen tanpa batas untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. (*)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#Haji 2026 #haji mabrur