Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perang Digital Menjelang Pilpres 2029

Adriyanto Syafril • Kamis, 11 Juni 2026 | 22:44 WIB
Dr. Gusrizal
Dr. Gusrizal

Penulis : Dr. Gusrizal - Bidang Hubungan Luar Negeri Universitas Fort de Kock

PILPRES memang masih 2,5 tahun lagi, tapi baunya sudah terasa. Ndak ada salahnya kok membicarakan PILPRES sebagai pembelajaran bagi masyarakat. PILPRES 2029 tentu saja akan semakin seru, saya menyebutnya dengan Perang Digital. Sebagai gambaran, jika pemilu 1999 kita kenal dengan perang spanduk dan stiker di tiang listrik, pemilu 2004 dengan perang baliho dan orasi di lapangan, maka PILPRES 2029 nanti kita akan menghadapi medan yang jauh lebih senyap, lebih masifdan lebih berbahaya. Saya sebut “berbahaya” bukan karena melebih-lebihkan, tapi karena pelurunya tidak berbunyi, korbannya tidak berdarahdan jejaknya bisa dihapus dengan satu klik “delete”. Padahal lukanya menganga di publik kita bertahun-tahun.Kerja digital dimulai dari sekarang. Kenapa? karena algoritma butuh waktu untuk “belajar”. Bot butuh waktu untuk “tumbuh”. Narasi butuh waktu untuk “ditancapkan” ke kepala kita, pelan-pelan, sampai terasa seperti kebenaran sendiri.

Masih ingat PILPRES 2024 kemarin? Konten-konten polarisasi, buzzer, deepfake, framing, itu tidak muncul 2 minggu sebelum nyoblos. Benihnya sudah disebar sejak awal. Akun-akun “buzzer organik” sudah dibangun. Data pemilih sudah dipetakan sejak lama. Jadi kalau kita baru “siaga” di 2029, maka kita sudah kalah 2 langkah. Seperti orang baru pasang pagar setelah kebunnya habis dimakan kambing.

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti. Saya belajar satu hal, perang paling merusak bukan yang menghancurkan gedung, tapi yang menghancurkan kepercayaan antar manusia. Perang digital 2029 nanti sasarannya tepat di situ,kepercayaan, akal sehat, dan silaturahmi kita. Logika perang digital tidak pakai kalender KPU.

Medan perang 2029 bukan lagi Jalan Medan Merdeka. Medannya ada diTikTok & Reels. 15 detik cukup untuk bikin orang marah. Emosi lebih cepat dari logika. Tidak hanya itu, grup WhatsApp keluarga, juga menjadi penentu. Serangan paling efektif datang dari “orang yang kita percaya”. Om bilang, tante share, ponakan forward. X/Twitter, juga termasuk medan tempur narasi cepat. Siapa yang paling nyaring, dia yang “menangtren”, walau faktanya ngawur. YouTube & Podcast, ini sebuah konten panjangyang dibungkus “bongkar fakta” tapi isinya opini berulang. Tanpa kita sadari, medan perang ini bekerja 24 jam nonstop. Tidak ada jeda kampanye. Tidak ada “hari tenang”. Algoritma tidak kenal libur.

Masyarakat juga harus tau, senjata baru itu,bukan bedil, tapi “Kata + Kode”. Kalau perang konvensional pakai peluru, perang digital pakai 4 senjata utama. Ini yang harus kita bedah sejak sekarang. Pertama: "Narasi & Framing". Ini senjata paling halus. Datanya bisa 20% benar, tapi dibingkai 80% agar menimbulkan kebencian. Contoh: “Calon A korupsi!” Padahal yang terjadi adalah audit rutin. Tapi framing-nya bikin kita langsung menghakimi. Narasi yang bagus bisa bikin orang waras jadi ikut berteriak.Kedua: "Buzzer & Bot". Dulu buzzer itu orang beneran yang dibayar. Sekarang Bot + AI (ArtificialIntelligence) bisa bikin 10.000 akun yang seolah “rakyat kecil marah”. Mereka tidak capek, tidak tidur, tidak punya rasa malu. Tugasnya cuma satu, bikin suara tertentu terdengar seperti “suara mayoritas”, padahal itu suara mesin.Ketiga: "Deepfake & AIGeneratif". Ini yang paling ngeri. 2024 kita sudah lihat video palsu tokoh bicara. 2029 nanti, teknologinya 10x lebih halus. Suara CAPRES bisa dipakai bilang “Saya mundur dari pencalonan” padahal yang bersangkutan lagi makan di warung. Wajah tokoh bisa dibuat nangis, marah, ngaku salah. Kalau mata dan telinga kita sudah dibohongi, lalu kita mau percaya apa? Terakhir, "Polarisasi & Adu Domba". Tujuan akhir semua senjata di atas bukan “menang pilpres”, tujuan akhirnya, membelah kita. Bikin anak vs bapak berantem di grup keluarga gara-gara beda pilihan. Bikin tetangga curiga sama tetangga. Kalau rakyat sibuk berantem, maka yang di atas bebas main"Divide et impera" versi digital.

Orang mungkin banyak yang salah paham. Dikira perang digital itu cuma menyerang calonA atau calon B,tidak. Sasaran utamanya adalah kita, rakyat.Tujuannya bikin 3 hal. Pertama agar kita capek. Kita dibanjiri informasi sampai akhirnya bilang, “ah, semua sama aja, nggak usah nyoblos”. Apatisme = kemenangan bagi yang mau pilpres sepi.  Kedua menimbulkan rasa "Benci'. Kita diprovokasi sampai benci ke orang yang beda pilihan. Padahal 5 tahun lalu kita masih satu meja makan. Terakhir "membuat masyarakat bingung". Banjir hoax + fakta + opini + deepfake bikin kita nggak bisa bedakan mana yang benar. Kalau bingung, orang cenderung ikut yang paling keras teriaknya. Lalu apa yang harus dilakukan? Perang digital tidak bisa dilawan dengan perang digital juga. Tidak bisa dilawan dengan hoax balasan. Perang digital hanya bisa dilawan dengan 3 hal: akal sehat, hati yang ademdan silaturahmi yang dijaga.

Mari kita “bongkar mesinnya”. Siapa yang main, pakai jurus apadan kenapa kita rakyat biasa jadi korban paling empuk.Para pemain di balik layar, bukan cuma “Tim Sukses”. Kalau pemilu 1999 pemainnya jelas, partai, relawan, ormas. Kalau 2029 nanti, pemainnya jauh lebih banyak dan lebih tidak kelihatan wajahnya. Siapa saja mereka?. Pertama, mereka adalah Tim Pemenangan Digital. Ini versi upgrade dari “tim sukses”. Isinya bukan cuma relawan bawa atribut. Ada ahli data, ahli psikologi, ahli meme, ahli algoritma. Kerja mereka bukan pasang baliho, tapi “pasang narasi” di kepala 10 juta orang. Mereka nggak tidur 24 jam karena server nggak kenal malam.

Kedua, Buzzer Profesional + Bot.  Buzzer 2024 masih banyak yang manusia. 2029 nanti, Bot + AI generatif akan mendominasi. Satu orang bisa kendalikan 50.000 akun. Akun ini bisa pura-pura jadi “Ibu rumah tangga marah”, “Petanikecewa”, “Mahasiswa galau”. Tujuannya, bikin narasi tertentu kelihatan seperti “suara rakyat”, padahal itu suara mesin. Terus apa lagi? Selanjutnya "Vendor Data & Pedagang Profil”. Data kita itu seperti minyak baru. Kebiasaan scroll, like, share, jam online, semua dijual. Dari situ mereka bisa tahu, kita marahnya dipicu isu apa, kita takutnya apa dan kita paling percaya sama siapa. Lalu iklan politik disuntikkan pas di titik lemah itu. Namanya “microtargeting”. Kita ngerasa “kok iklannya pas. Yang terakhir ya kita sendiri, “Rakyat relawan tanpa sadar”.  Inilah pemain paling banyak. Kita yang tanpa dibayar rela jadi “penyebar utama”. Cukup 1 klik “forward ke 5 grup”, misi mereka selesai. Tanpa sadar kita jadi kurir hoax gratis. Inilah yang bikin perang digital 2029 lebih dahsyat dari 2024.

Lalu bagaimana cara mereka bermain? Cara-cara ini sebetulnya sudah mulai mereka mainkan sebelumnya, 2029 nanti bungkusnya lebih halus lagi, dan AI (Artificial Intelligence) itu, sangat membantu mereka. Pertama dengan “Banjir Informasi” / Information Overload. Tujuannya bikin kita capek. Sehari sebelum debat, tiba-tiba muncul 200 konten, grafik, video, dokumen “bocoran”, meme, thread panjang. Otak kita nggak bisa proses semua. Akhirnya kita pilih jalan pintas, percaya yang paling sering muncul di feed. Kualitas kalah sama kuantitas. Terus “Deepfake + Cheapfake”. Cheapfake = video asli tapi dipotong, dikasih caption ngawur. Deepfake = video palsu total. 2024 kita sudah kena versi kasarnya. 2029 nanti bayangkan, video seseorang pidato bilang “Saya dukung X” padahal dia entah di mana berada. Suaranya 99% mirip, gerak bibirnya pas. Kalau orang dekat aja bisa ketipu 3 detik pertama, apalagi orang di luar sana yang nggak kenal dekat, tentu akan percaya. Selanjutnya melalui “Operasi Bendera Palsu” / False Flag.  Akun yang ngaku-ngaku “pendukung calon A” tapi kelakuannya paling brutal, paling kasar, paling rasis. Tujuannya bukan menangkan A, tapi bikin calon A dibenci orang. “Lihat tuh pendukungnya barbar”. Padahal yang ngatur akun itu tim lawan. Ini jurus kotor tapi efektif buat bakar emosi. Terus “Serangan ke grup WhatsApp keluarga”. Ini medan paling rawan. Kenapa rawan?  Karena kepercayaan tinggi.Coba bayangkan, yang share om sendiri, tante sendiri. Jadi verifikasi = 0%.  Terus "Echo chamber". Isinya orang sepemikiran. Kalau ada 1 hoax masuk, semua mengamini. Terus lagi, nggak ada faktachecker,nggak ada Kominfo di grup keluarga, yang ada cuma “amin, betul itu nak”. Satu hoax di grup RT bisa lebih mematikan dari 1000 tweet di X. Yang terakhir dari cara-cara mereka bermain, yaitu “Bermain dengan emosi dasar”. Algoritma paling suka 3 emosi: marah, takut dan bangga. Jadi semua narasi 2029 akan dibungkus 3 bungkusan itu.  Marah. “Mereka hina ulama kita”. Takut. “Kalau X menang, negara bubar". Bangga. “Kita kubu paling cerdas, yang lain cebong/kadrun!” 

Kalau emosi sudah naik, akal sehat turun. Itu hukum alam digital."Rakyat jadi target empuk". Kenapa kita rakyat biasa jadi target empuk?Kita harus jujur sama diri sendiri. Ada 4 lubang di benteng kita. Pertama Lubang “Mager Verifikasi”.  Baca judul doang, langsung share. Liat video 5 detik, langsung komen “kurang ajar!”. Padahal kalau digoogling 10 detik, ketahuan itu berita PILPRES sebelumnya. Kita lebih rajin share daripada cek. Terus lubang“Identitas = Kebal kritik”. Sekali kita merasa “saya kubu X”, maka otak kita otomatis tolak semua info yang jelekkan X. Itu namanya bias konfirmasi. Akun yang kita follow juga isinya orang sepemikiran semua. Akhirnya kita hidup di gelembung. Keluar gelembung = marah. Selanjutnya lubang “Lupa Digital = Permanen”. Kita kira internet itu kayak omongan di warung, hilang ditiup angin. Padahal screenshot, arsip, AI bisa ngorek lagi 10 tahun ke depan. Satu emosi sesaat di 2029 bisa jadi dosa digital seumur hidup. Terakhir lubang“Rasa > Data”. Ini khas kita manusia. Kita lebih percaya sama “rasa” daripada "data". “Saya ngerasa calon ini zhalim” lebih kuat dari “datanya bilang dia bersih”. Perang digital mainnya di rasa. Makanya mereka pakai video anak nangis, nenek kecewa, mesjid dirusak. Rasa dulu, logika belakangan.

Kapan masa Titik Kritis. Titik kritis itu 6 bulan sebelum pencoblosan. Kalau ditanya “kapan paling bahaya?”, jawabannya, H-6 bulan sampai H+1 bulan. KenapaH-6 bulan. Tim mulai “panaskan mesin”. Narasi diuji, Bot disebar, Data dipetakan. H-2 bulan,banjir konten, debat, kampanye, semua platform jadi medan perang. H-7 hari. “Black campaign” paling kotor keluar. Karena sudah mepet, korban nggak sempat klarifikasi. H+1 bulan. Bahayanya belum selesai. Justru dimulai. Narasi “curang”, “kecurangan terstruktur” disebar biar yang kalah nggak terima, yang menang nggak tenang. Tujuannya: bikin negara nggak stabil.

Sekarang kita tahu, musuhnya bukan orang. Musuhnya adalah kelalaian kita sendiri.Mereka menang bukan karena hebat. Tapi karena kita lengah. Karena kita lebih suka marah daripada mikir. Karena kita lebih cepat sharedaripada cek.Tapi kabar baiknya, mesin bisa dibongkar, maka mesin bisa dilawan. Kuncinya bukan di KPU, bukan di polisi cyber. Kuncinya ada sama kita.

Kesimpulan saya cuma satu,benteng terakhir PILPRES 2029 bukan KPU, bukan TNI, bukan Polisi cyber. Benteng terakhirnya adalah kita. Rakyat waras yang masih mau menjaga “raso jo pareso”.Kalahnya perang digital,bukan di server, tapi di hati. Kita lawan perang digital pakai undang-undang bisa, pakai patroli cyber bisa. Tapi itu cuma motong rumputnya, akarnya tetap di hati manusia.Akar masalahnya ada tiga,"malas cek","gampang marah", "cinta berlebih ke kubu”. Kalau 3 akar ini masih subur, maka tiap 5 tahun sekali kita akan ribut lagi. Ganti calon, ganti platform, tapi polanya sama.

Jadi solusi jangka panjangnya cuma satu, bangun imunitas rakyat. Imunitas itu bukan dibentuk 2 minggu sebelum nyoblos. Tapi dilatih tiap hari. Resepnya ada “3S” melawan perang digital: Stop – Saring – Sambung. Saya sederhanakan jadi 3S. Gampang diingat emak-emak, bapak-bapak, sampai anak TikTok. S pertama: "STOP 3 detik sebelum share". Ini jurus paling sakti tapi paling susah. Sebelum jempol pencet “kirim/forward”, tahan 3 detik. Tanya ke diri sendiri, benar nggak? Sumbernya dari mana? Dari media resmi, KPU, Bawaslu, atau akun “@infongaco”. Terus perlu nggak kalau saya share, ini bikin adem atau bikin gaduh? Terakhir, baik nggak?5 tahun dari sekarang saya masih bangga udah share ini nggak?3 detik itu bisa nyelametin 1 keluarga dari berantem. Bisa nyelametin 1 kampung dari fitnah. Murah, tapi efeknya luar biasa.Orang Minang punya falsafah, “Raso jo Pareso”. Rasa dulu, periksa dulu. Rasa kemanusiaan, kasihan nggak kalau yang difitnah itu ibu saya? Periksa, datanya valid nggak? Kalau 2 ini jalan, 80% hoax mati di tangan kita sendiri.S Kedua: SHARING lingkaran digital kita. Algoritma itu kayak air. Dia ngalir ke tempat paling rendah, emosi kita. Kalau feed kita isinya orang marah-marah semua, maka lama-lama kita ikut marah. Caranya, follow akun yang ngajarin, bukan yang ngomporin. Kurangi akun yang kerjaannya cuma “hujat 24 jam”. Tambah akun literasi digital, akun sejarah, akun agama yang adem.  Terus, keluar dari grup yang isinya cuma lempar hoax. Grup keluarga nggak bisa keluar? Ya jadi “rem” nya, kalau ada hoax masuk, jangan dilawan pakai marah. Lawan pakai link klarifikasi dari http://cekfakta.comatau http://turnbackhoax.id. Kasih pelan-pelan. Terakhir, latih “ot skeptis”. Skeptis bukan berarti nggak percaya siapa-siapa. Skeptis itu, “oh gitu ya, biar saya cek dulu”. S ketiga: SAMBUNG silaturahmi di dunia nyata. Ini jurus pamungkas lawan polarisasi. Perang digital menang kalau kita lupa muka asli kawan kita. Dia cuma jadi “akun buzzer kubu lawan” di kepala kita.Jadi resepnya, banyakin ngopi offline, kurangin debat online. 2029 nanti, Anda undang kawan yang beda pilihan ke rumah, ngobrol cuaca atau yang ringan-ringan aja. Nggak usah bahas calon. Bahas anak, bahas sawah, bahas kesehatan.

Ingat: Pilpres cuma 1 hari. Tapi tetangga itu seumur hidup. Jangan gadaikan silaturahmi 20 tahun demi debat 20 menit di kolom komentar. Kita harus berperan masing-masing. Nggak ada yang “Cuma Rakyat Biasa”“Ah saya kan orang kecil, nggak ngaruh”, itu salah besar. Di perang digital, justru “orang kecil” yang paling ngaruh. Karena korbannya juga orang kecil. Masyarakat harus harus mengambil peran. Buat emak-emak &bapak-bapak admin grup WA, Anda harus jadi “satpam digital”. Kalau ada hoax, jangan dihapus pakai marah. Hapus pakai ilmu. Kasih tau, “Bu, ini berita lama, nih link klarifikasinya”. Lembut tapi tegas.Buat anak muda &content creator, Anda jadi “vaksin digital”. Bikin konten lucu tapi ngajarin cek fakta. Bikin meme “jangan share sebelum googling”. Lawan hoax nggak pakai ceramah, tapi pakai bahasa anak muda. 15 detik TikTok bisa lebih kuat dari seminar 3 jam.Buat Guru, Ustadz, Tokoh Adat, Anda jadi “benteng moral”. Masukkan literasi digital ke pengajian, ke sekolah, ke rapat nagari. Ingatkan jamaah, “berkata benar itu ibadah, menyebar hoax itu zhalim”. Itu vaksin paling tua tapi paling ampuh.Buat kita semua,jadilah “pemilih yang berdaulat”. Daulat itu artinya punya kuasa atas diri sendiri, nggak gampang diprovokasi, nggak gampang dijual datanya, nggak gampang dibentur-benturkan. Harapan untuk 2029, menang bersama, bukan menang melawan.

Harapan saya 2029 nanti, Yang menang bukan buzzer paling nyaring, tapi rakyat paling sabar.Yang kalah tetap bisa ngopi bareng yang menang, karena beda pilihan bukan berarti beda bangsa.  Yang rusak cuma spanduk, bukan persaudaraan.Yang viral bukan fitnah, tapi video orang saling maaf setelah pemilu.

Sebagai pesan penutup saya buat semua yang baca opini ini, jangan jadi prajurit perang digital. Jadilah penjaga yang kalau ada orang ribut, dia lerai, yang kalau ada hoax lewat, dia tahan. Karena Indonesia ini rumah kita bersama. Pilpres ganti presiden, tapi rumah ini tetap harus kita jaga. Atapnya bocor kita tambal bareng. Lantainya kotor kita sapu bareng. Perang digital paling hebat bukan yang dimenangkan AI atau Bot. Tapi yang dimenangkan akal sehat dan hati yang tetap adem. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#opini #Opini Padek