Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bola: Peradaban Tanpa Diskriminasi

Hendra Efison • Minggu, 14 Juni 2026 | 12:30 WIB
Shofwan Karim
Shofwan Karim

Oleh: Shofwan Karim, Dosen UM Sumbar, Pengamat, dan Penulis Esai

SEPAK BOLA lahir dari sejarah panjang manusia. Dari cuju Tiongkok abad ke-2 SM hingga lahirnya Football Association Inggris pada tahun 1863. Ia bukan sekadar olahraga, melainkan cermin peradaban. Bola yang digulirkan dari kaki ke kaki, dari bangsa ke bangsa, adalah metafora tentang keterhubungan manusia yang melampaui batas geografis, ras, dan kelas sosial.

Di abad pertengahan, permainan bola di jalanan Eropa memang brutal. Dimainkan dengan bola dari kulit babi, penuh benturan fisik. Namun, ketika aturan resmi lahir di Inggris, permainan ini mulai ditata sebagai ruang pertemuan yang lebih beradab. Tahun 1904, FIFA dibentuk di Paris, menandai sepak bola sebagai bahasa universal umat manusia. Di Indonesia, permainan ini hadir sejak masa kolonial Belanda sekitar 1914, lalu berkembang menjadi wadah ekspresi kebangsaan melalui PSSI.

Metafora Peradaban

Bola adalah lingkaran sempurna, tanpa sudut, tanpa diskriminasi. Ia bergulir ke segala arah, tidak mengenal kasta. Dalam lapangan, setiap pemain memiliki kesempatan yang sama untuk menyentuhnya, menendangnya, bahkan mencetak gol. Filosofi ini mengajarkan bahwa peradaban sejati adalah peradaban yang meniadakan diskriminasi.

Bila ditarik ke peradaban Muslim yang profetik, maka Al-Qur’an menegaskan: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini adalah fondasi peradaban nirdiskriminatif. Sepak bola, dengan jutaan penggemarnya dari berbagai bangsa, adalah praktik nyata dari pesan Qur’ani: saling mengenal, saling menghargai, dan saling bekerja sama.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026 Fase Grup Resmi FIFA: Tanggal, Jam Tayang WIB dan Stadion

Bola, meskipun begitu tidaklah punya agama. Siapapun bisa menjadi pemainnya. Pada abad lalu ada tokoh revolusianer bola: Pele dan Maradona. Pelé, anak miskin dari Brasil, menjelma menjadi ikon dunia. Ia membuktikan bahwa sepak bola adalah jalan mobilitas sosial, ruang di mana diskriminasi ekonomi bisa ditaklukkan oleh bakat dan kerja keras.

Diego Maradona adalah wajah lain dari revolusi sepak bola. Dengan “Gol Tangan Tuhan” dan “Gol Abad Ini” pada Piala Dunia 1986, ia menunjukkan bahwa sepak bola adalah drama manusia yang penuh paradoks.

Di tengah itu, pemain muslim dunia mengenal Salahg dan Ozil. Mohamed Salah menghadirkan simbol spiritualitas Islam melalui sujud syukur di lapangan. Mesut Özil dikenal karena doa sebelum pertandingan dan sikap kritis terhadap diskriminasi.

Begitu pula Pemain Asia, di antaranya: Park Ji-sung dan Son Heung-min. Park Ji-sung membuktikan bahwa pemain Asia mampu bersaing di level tertinggi. Son Heung-min menjadi inspirasi bagi jutaan anak muda Asia bahwa bola adalah bahasa universal.

Dari Afrika ada Didier Drogba dan Samuel Eto’o. Didier Drogba bukan hanya pencetak gol bagi Chelsea, tetapi juga tokoh perdamaian yang menyerukan rekonsiliasi nasional di Pantai Gading. Samuel Eto’o adalah simbol kebanggaan Afrika, vokal melawan rasisme, dan ikon kejayaan klub-klub besar dunia.

Dari  Amerika Latin ada Ronaldinho dan Neymar. Dimensi Amerika Latin memperkaya warna budaya sepak bola dunia. Ronaldinho, maestro Brasil, dikenal dengan senyum dan gaya bermain penuh kreativitas. Ia mengajarkan bahwa sepak bola adalah seni, bukan sekadar kompetisi. Ronaldinho menari dengan bola, menghadirkan kegembiraan yang melampaui batas stadion.

Neymar, generasi penerus Brasil, adalah simbol modernitas sepak bola Amerika Latin. Dengan teknik brilian dan gaya flamboyan, ia menunjukkan bahwa sepak bola adalah ekspresi budaya yang hidup. Neymar membawa semangat samba ke panggung global, memperkaya narasi bahwa bola adalah bahasa kegembiraan.

Ronaldinho dan Neymar menegaskan bahwa Amerika Latin adalah jantung estetika sepak bola. Mereka memperlihatkan bahwa bola bukan hanya alat kompetisi, tetapi juga medium ekspresi budaya yang penuh warna.

Baca Juga: Prediksi 12 Juara Grup Piala Dunia 2026, Siapa yang Berpeluang Sapu Bersih Fase Grup?

Bola, Persaudaraan dan Amanah

Sepak bola adalah ruang di mana persaudaraan manusia menemukan bentuknya. Stadion menjadi tempat berkumpulnya ribuan orang dengan latar belakang berbeda, tetapi bersatu dalam sorak sorai. Di sinilah kita melihat nilai ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan) yang diajarkan Islam.

Sementar itu Indonesia, dengan  bola dan berkibar semangat kebangsaan. Sepak bola bukan hanya olahraga, melainkan bagian dari perjuangan kebangsaan. PSSI yang lahir pada 1930 adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Stadion menjadi ruang di mana rakyat bersatu, melampaui sekat etnis dan agama.

Sepak bola Indonesia, meski penuh tantangan, tetap menjadi wadah ekspresi identitas kolektif. Ketika tim nasional bertanding, jutaan rakyat bersatu mendukung, melupakan perbedaan politik atau sosial.

Sepak bola mengajarkan bahwa dunia bisa lebih adil, lebih setara, lebih manusiawi. Bola yang bergulir adalah Amanah. Jangan biarkan diskriminasi menghentikan perjalanannya. Islam menegaskan amanah itu melalui prinsip keadilan, persaudaraan, dan penghargaan terhadap keberagaman.

Pelé dan Maradona menunjukkan bahwa bola bisa menjadi revolusi sosial. Salah dan Özil membuktikan bahwa Islam bisa hadir sebagai kekuatan moral di panggung global. Park Ji-sung dan Son Heung-min menegaskan bahwa Asia adalah bagian penting dari peradaban sepak bola. Drogba dan Eto’o memperlihatkan bahwa Afrika adalah suara perdamaian dan kebanggaan. Ronaldinho dan Neymar memperkaya narasi dengan estetika budaya Amerika Latin. PSSI membuktikan bahwa bola bisa menjadi simbol kebangsaan.

Generasi baru produk Wolrd Cup 2026 kita tunggu. Mari kita belajar dari bola: bahwa peradaban sejati adalah peradaban tanpa diskriminasi. Lapangan hijau adalah simbol dunia yang damai, di mana setiap manusia berhak berlari, menendang, dan mencetak gol kehidupan. (***)

Editor : Hendra Efison
#sejarah olahraga #peradaban manusia #sepak bola #pssi #fifa