Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Damai : AS–Iran Menyelamatkan Bumi

Adriyanto Syafril • Selasa, 16 Juni 2026 | 22:19 WIB
Shofwan Karim.
Shofwan Karim.

Penulis : Shofwan Karim - Wantim MUI dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar

MENJELANG penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran pada Jumat, 19 Juni 2026 di Jenewa, Swiss, dunia seakan menahan napas. Perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 telah menelan ribuan korban jiwa, meninggalkan luka mendalam pada tubuh kemanusiaan global.

Data resmi memperkirakan korban tewas mencapai 7.400 hingga lebih dari 10.000 jiwa, dengan puluhan ribu lainnya terluka. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan jeritan manusia yang kehilangan keluarga, anak-anak yang terenggut masa depannya, dan bumi yang tercabik oleh dentuman senjata. “Detak jantung manusia global menjadi dag dig dug,” itulah sketsa kegelisahan universal.

Luka, Damai dan Nego 60-hari

Di Iran, serangan udara intensif terhadap fasilitas nuklir dan infrastruktur sipil menewaskan lebih dari 3.600 orang, menurut Kementerian Kesehatan Iran. Sementara klaim intelijen AS-Israel menyebut angka lebih dari 6.000 jiwa. Data lain  mengungkap lebih dari 26.500 warga Iran terluka, termasuk ratusan anak-anak dan perempuan. Tragedi paling memilukan terjadi pada hari pertama perang, ketika rudal menghantam Sekolah Dasar Minab dan menewaskan 156 warga sipil, sebagian besar anak sekolah.

Di Lebanon, lebih dari 3.700 orang tewas akibat serangan Israel terhadap Hizbullah. Amerika Serikat sendiri kehilangan 13–15 prajurit, sementara lebih dari 500 personelnya terluka. Israel mencatat 61 korban jiwa dan lebih dari 9.000 luka-luka. Negara Teluk pun tak luput. Korban tewas tercatat di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Arab Saudi. Semua ini menunjukkan bahwa perang bukan hanya benturan militer, melainkan tragedi lintas bangsa yang merobek jalinan kemanusiaan.

Dalam perspektif profetik-sufistik, perang adalah bentuk keterputusan manusia dari hakikat kasih sayang Ilahi. Al-Qur’an menegaskan: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kamu kepadanya dan bertawakallah kepada Allah” (QS. Al-Anfal: 61). Ayat ini menegaskan bahwa damai bukan sekadar strategi politik, melainkan panggilan spiritual. Damai adalah jalan kembali kepada Tuhan, karena setiap nyawa adalah amanah-Nya.

Kesepakatan damai AS–Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar menjadi momentum untuk mengembalikan manusia kepada fitrah, menjaga kehidupan. Proses awal mencakup penghentian operasi militer, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan pencabutan blokade pelabuhan Iran. Semua ini bukan hanya langkah teknis, melainkan simbol bahwa manusia masih mampu memilih kehidupan daripada kematian.

Kesepakatan damai AS–Iran mendapat dukungan kuat dari Eropa E4 (Inggris, Prancis, Jerman, Italia), yang siap mencabut sanksi jika Iran patuh pada pembatasan nuklir. Media merelis, pasar energi global langsung merespons. Harga minyak Brent turun ±4% ke USD 83 per barel, WTI ke USD 80,8, menandakan optimisme stabilitas pasokan. Terhadap USD, Rupiah pun turut menguat beberapa poin dua hari terakhir.

Walaupun begitu, jangan bereforia. Penandatanganan MoU di Swiss hanyalah gerbang awal. Selama 60 hari ke depan, kedua pihak akan membahas pembatasan nuklir, rudal balistik, serta pencairan aset Iran senilai $24 miliar. Iran menuntut penghapusan sanksi ekonomi, sementara AS menekankan jaminan bahwa Iran tidak akan memproduksi senjata nuklir.

Jalan damai ini penuh tantangan. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan ketidakpercayaan terhadap AS. Israel, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menolak terikat pada kesepakatan ini dan berjanji melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Ketidakpercayaan dan penolakan ini menunjukkan bahwa damai bukan sekadar dokumen, melainkan perjuangan panjang melawan ego politik dan dendam sejarah.

Menyulam Luka Menjadi Cinta

Dalam tradisi tasawuf, damai adalah buah dari tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Jalaluddin Rumi pernah menulis: “Di luar benar dan salah, ada sebuah taman. Aku akan menemuimu di sana.” Damai AS–Iran adalah taman itu, ruang di mana manusia melampaui benar-salah politik untuk menemukan kembali cinta sebagai energi kosmik.

Perang telah menunjukkan betapa rapuhnya peradaban ketika dikuasai oleh nafsu kuasa. Damai adalah jalan untuk mengembalikan keseimbangan. Ia bukan sekadar menghentikan peluru, melainkan menyembuhkan luka batin manusia. Damai adalah doa yang ditadahkan ke langit, agar bumi kembali menjadi rahim kehidupan, bukan kuburan massal.

Selain dimensi kemanusiaan dan ketuhanan, damai AS–Iran memiliki implikasi ekologis. Perang di Selat Hormuz sempat memblokade jalur minyak vital dunia, mengancam stabilitas energi global. Dentuman rudal dan bom bukan hanya membunuh manusia, tetapi juga merusak ekosistem, mencemari udara, dan menghancurkan tanah. Damai berarti memberi bumi kesempatan untuk bernapas kembali.

Dalam perspektif manusia beragama, bumi adalah amanah Tuhan. Menjaga bumi sama dengan menjaga kehidupan. Damai AS–Iran adalah langkah untuk memelihara bumi dari kehancuran lebih lanjut. Oleh karena itu damai adalah amanah universal.

Kesepakatan damai AS–Iran adalah dambaan global. Ia bukan hanya urusan politik dua negara, melainkan amanah kemanusiaan, ketuhanan, dan ekologis. Data korban menunjukkan betapa mahal harga perang.

Doa semua makhluk bumi berharap damai itu terwujud. Damai bukan sekadar tanda tangan di Swiss, melainkan komitmen untuk menyembuhkan luka manusia dan bumi. Damai adalah jalan kembali kepada Tuhan, jalan menjaga kehidupan, jalan memelihara bumi. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#AS Iran Damai #opini #Opini Padek