Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Perang Bukan Lagi Soal Peluru

jpg • Senin, 22 Juni 2026 | 19:00 WIB
Teddy Hadi Yumitra
Teddy Hadi Yumitra

Oleh: Teddy Hadi Yumitra, Mahasiswa Universitas Andalas

Dalam teori hubungan internasional, Clausewitz mengatakan bahwa perang adalah kelanjutan politik yang tidak terselesaikan melalui jalur diplomasi dan berakhir dengan cara-cara lain, seperti perang. Pada abad ke-21, rumusan ini perlu diperbarui karena banyak kejadian politik yang tidak terjamah oleh teori terdahulu.

Saat ini, dunia sedang dihadapkan pada fenomena unik, yaitu perang menjadi arena politik ketika suatu aktor negara membagikan video dalam bentuk animasi Lego berdurasi dua menit di platform YouTube.

Pada konflik AS-Iran yang meledak pada awal 2026, dunia menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi dalam skala seperti ini sebelumnya. Sebuah kelompok media Iran bernama Explosive Media memproduksi video AI bergaya The Lego Movie yang dalam hitungan minggu meraup 50 juta tayangan dari puluhan akun YouTube.

Video-video itu tidak ditujukan kepada warga Iran karena seluruh konten yang diproduksi menggunakan bahasa Inggris, diiringi trap beats, serta penuh referensi budaya pop Amerika yang secara eksplisit dirancang untuk mengubah cara warga Amerika memandang negaranya sendiri.

Inilah dimensi kontemporer perang yang paling sering luput dari analisis. Konflik bersenjata modern tidak lagi hanya memperebutkan wilayah atau sumber daya, tetapi juga memperebutkan sesuatu yang jauh lebih sulit dipertahankan, yaitu legitimasi atau pengakuan di mata publik global, bahkan lebih krusial lagi di mata warga negara musuh itu sendiri.

Dalam studi hubungan internasional, konsep ini dikenal sebagai strategic narrative, yaitu upaya aktor negara membentuk cara publik memahami identitas, peristiwa, dan tujuan suatu konflik. Perlu diketahui bahwa yang baru bukan konsepnya, melainkan instrumennya.

Emma Briant, pakar information warfare dari Inggris, menyatakan bahwa teknologi AI kini memberi Iran kemampuan memanfaatkan budaya dengan cara yang sebelumnya tidak pernah bisa mereka lakukan. “Bahkan lima tahun lalu, menciptakan sesuatu yang menghibur secara budaya dan melekat bagi audiens Barat akan sangat, sangat sulit,” katanya.

Yang membuat fenomena ini berbeda secara kualitatif dari propaganda konvensional adalah siapa yang disasar. Video-video Lego Iran tidak menyasar mereka yang aktif mengikuti berita. Namun, sebaliknya, dengan meniru bahasa budaya internet sehari-hari, fenomena konten ini menjangkau jutaan orang yang sama sekali tidak mengikuti perkembangan di Timur Tengah.

Dalam video ini, instrumen humor menjadi mekanisme yang dapat menarik perhatian audiens. Ketika seseorang tertawa melihat animasi Lego Trump tersandung Epstein files, ia tidak sedang membaca propaganda, tetapi sedang disuguhi propaganda tanpa menyadarinya.

Seperti yang dicatat TIME, ketika meme menjadi teks utama dan berita aktual terdorong ke latar belakang, konten semacam ini tidak harus mengubah pikiran seseorang; ia cukup memenangkan pertarungan perhatian.

Implikasi dari dinamika ini bagi studi hubungan internasional sangat serius. Dalam hybrid warfare, yakni kombinasi operasi militer dan nonmiliter untuk mencapai tujuan strategis, ruang informasi bukan lagi arena pendukung, melainkan medan tempur utama.

Holly Dagres dari The Washington Institute menyebut video-video ini secara jelas ditujukan kepada audiens Amerika yang bersikap anti-Trump dan anti-perang, dengan mengintegrasikan tema-tema politik domestik AS secara mendalam.

Artinya, Iran tidak sedang mencoba meyakinkan seluruh dunia. Mereka menargetkan celah polarisasi yang sudah ada di dalam masyarakat Amerika itu sendiri dan memperlebarnya.

Ini adalah strategi yang cerdas secara asimetris. Iran tidak perlu mengalahkan AS di medan militer untuk menang secara strategis. Mereka cukup melemahkan dukungan publik domestik AS terhadap perang tersebut, menciptakan tekanan politik dari dalam, bukan dari luar.

Narges Bajoghli, antropolog budaya dari Johns Hopkins University yang mengkaji produksi konten Iran selama dua dekade, menyebutnya sebagai pertama kalinya Iran mampu berkomunikasi langsung dengan audiens Amerika menggunakan bahasa mereka sendiri. Kemenangan dalam perang moral—memosisikan diri sebagai pihak yang teraniaya, bukan agresor—jauh lebih bernilai diplomatik daripada kemenangan di satu titik pertempuran.

Yang ironis, pihak AS justru tampak tidak siap menghadapi situasi ini. Di saat kampanye Lego Iran meledak secara viral, Washington justru membubarkan Global Engagement Center Departemen Luar Negeri, badan yang bertugas mendeteksi propaganda asing dan membangun narasi tandingan.

Nancy Snow, sarjana propaganda, merangkum situasi ini dengan mengatakan bahwa Iran kini “menggunakan budaya populer melawan negara nomor satu budaya populer dunia, Amerika Serikat.” Senjata yang digunakan adalah produk budaya Amerika itu sendiri, yang diputarbalikkan menjadi proyektil.

Bagi Indonesia, fenomena ini bukan sekadar tontonan konflik orang lain. Sebagai negara demokrasi dengan lebih dari 200 juta pengguna internet aktif dan posisi nonblok yang selalu diuji dalam setiap krisis global, Indonesia perlu memahami satu hal: di era ini, negara yang kalah dalam perang narasi bisa kehilangan ruang diplomatiknya bahkan sebelum mengeluarkan satu pernyataan resmi.

Ketahanan informasi, yakni kemampuan masyarakat membedakan antara hiburan dan instrumen geopolitik, bukan lagi urusan kementerian komunikasi semata. Ia merupakan komponen pertahanan nasional.

Perang abad ini tidak selalu diumumkan. Ia berlangsung di ruang redaksi, lini masa media sosial, grup percakapan digital, hingga percakapan sehari-hari warga tanpa deklarasi resmi dan tanpa sirene perang.

Ketika sebuah animasi Lego mampu menggerakkan opini jutaan warga negara musuh lebih efektif daripada siaran pers kementerian mana pun, maka sudah saatnya kita mendefinisikan ulang apa arti menang dalam sebuah perang.(***)

Editor : Hendra Efison
#Konflik AS Iran #perang narasi #propaganda digital #strategic narrative #artificial intelligence AI