Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Membangun Bisnis Dimulai dari Membangun Diri

Nurul Sukawati • Kamis, 2 Juli 2026 | 09:30 WIB
Nurul Sukawati
Nurul Sukawati

Oleh: Nurul Sukawati, S.H., M.M. (Woman Entrepreneur)

Di tengah situasi ekonomi yang terus berubah, semakin banyak generasi muda yang mulai melirik dunia usaha. Berbagai kemudahan teknologi membuat siapa pun dapat memulai bisnis, bahkan hanya bermodal telepon genggam dan media sosial.

Namun, membangun bisnis ternyata tidak cukup hanya mengandalkan modal, strategi pemasaran, atau kemampuan membaca peluang pasar. Ada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu karakter seorang pengusaha.

Pemikiran tersebut saya dapatkan ketika mengikuti Diskusi Sesi Kewirausahaan bersama Christine Hakim dalam rangka Pendidikan dan Pelatihan Cabang (Diklatcab) BPC HIPMI Kota Padang pada Kamis, 25 Juni 2026. Alih-alih membahas teori bisnis yang rumit, beliau justru mengajak peserta memahami nilai-nilai sederhana yang menjadi fondasi keberhasilan seorang entrepreneur.

Yang menarik, nasihat-nasihat tersebut tidak hanya lahir dari pengalaman, tetapi juga dari perjalanan hidup beliau sendiri.

Christine Hakim merupakan sosok pengusaha perempuan yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Dalam diskusi tersebut, beliau menceritakan bahwa kesempatan menempuh pendidikan formalnya tidak sampai tuntas, bahkan sejak jenjang sekolah dasar. Namun, keadaan itu tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Semangat belajar itulah yang kemudian mengantarkan usaha keripik balado yang dirintisnya berkembang menjadi Christine Hakim Idea Park (CHIP), sebuah kawasan terpadu yang tidak hanya menjadi pusat oleh-oleh khas Sumatera Barat, tetapi juga destinasi wisata keluarga di Kota Padang.

Di kawasan ini tersedia toko oleh-oleh yang menjual beragam produk UMKM lokal, area kuliner, restoran dan kafe, serta berbagai wahana bermain, seperti Ice Land (ice skating), Bounceland (trampolin), Sugarbear Playground, waterpark, hingga Wondergolf. Konsep ini menjadikan CHIP bukan sekadar tempat berbelanja oleh-oleh, melainkan juga ruang rekreasi yang menggabungkan hiburan, kuliner, dan pemberdayaan produk lokal dalam satu kawasan.

Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan formal memang penting, tetapi kemauan untuk terus belajar jauh lebih menentukan perjalanan seorang pengusaha.

Salah satu prinsip pertama yang beliau tekankan adalah jangan suka pamer atau sombong.

Di era media sosial saat ini, banyak orang berlomba-lomba menunjukkan simbol kesuksesan. Mobil baru, rumah mewah, kantor besar, hingga gaya hidup sering kali menjadi ukuran keberhasilan yang dipertontonkan kepada publik. Padahal, tidak sedikit bisnis yang terlihat besar dari luar justru rapuh di dalam.

Menurut saya, pesan ini sangat relevan. Seorang pengusaha seharusnya lebih fokus membangun fondasi usahanya daripada membangun citra semata. Kerendahan hati membuat seseorang lebih terbuka menerima kritik, lebih mudah belajar, dan tidak cepat merasa puas dengan pencapaiannya.

Prinsip berikutnya adalah jangan pernah mengeluh ketika menjalankan bisnis.

Dunia usaha memang penuh ketidakpastian. Ada masa ketika penjualan meningkat, tetapi ada pula saat-saat sulit ketika pasar melemah, pelanggan berkurang, atau kondisi ekonomi tidak berpihak. Semua pengusaha pasti pernah mengalami fase tersebut.

Namun, mengeluh tidak pernah menjadi solusi. Justru dari setiap tantangan lahirlah inovasi dan peluang baru. Pengusaha yang bertahan bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang mampu bangkit setiap kali menghadapi kegagalan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah terus belajar mengikuti perkembangan zaman.

Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat. Kecerdasan buatan (artificial intelligence), pemasaran digital, hingga perubahan perilaku konsumen memaksa pelaku usaha untuk terus beradaptasi. Pengusaha yang berhenti belajar akan tertinggal oleh perubahan yang tidak bisa dihentikan.

Semangat belajar inilah yang menurut saya menjadi benang merah dari seluruh perjalanan hidup Christine Hakim. Pendidikan formal beliau mungkin terbatas, tetapi semangat belajarnya tidak pernah berhenti.

Masih banyak pelaku usaha yang memiliki produk berkualitas, tetapi enggan memperkenalkannya kepada masyarakat karena merasa malu atau takut ditolak. Padahal, tidak ada orang yang lebih memahami kualitas sebuah produk selain pemilik usahanya sendiri.

Untuk menggambarkan pentingnya keberanian tersebut, Christine Hakim membagikan pengalaman yang hingga kini masih beliau kenang.

Pada masa-masa awal membangun usaha Keripik Balado Christine Hakim, beliau menjadi salah satu pelaku usaha di Sumatera Barat yang berani memasang papan reklame (billboard) berukuran besar dengan menampilkan wajahnya sendiri sebagai identitas merek. Pada saat itu, langkah tersebut terbilang tidak lazim. Banyak orang mempertanyakan, bahkan menganggapnya terlalu berani.

Namun, beliau justru yakin bahwa sebagai pemilik usaha, dirinya harus menjadi orang pertama yang percaya terhadap produk yang dijual dan tidak boleh malu memperkenalkannya kepada masyarakat.

Keberanian itulah yang kemudian menjadi bagian dari strategi membangun kepercayaan konsumen. Nama "Christine Hakim" tidak hanya menjadi sebuah merek dagang, tetapi juga menjadi jaminan kualitas yang melekat pada produk yang ditawarkan.

Dari sana kita belajar bahwa membangun sebuah merek membutuhkan keberanian untuk tampil, konsistensi dalam menjaga kualitas, dan kesiapan menerima berbagai respons dari masyarakat.

Kepercayaan diri bukan berarti membanggakan diri, melainkan keyakinan bahwa apa yang kita hasilkan memiliki manfaat bagi orang lain. Tanpa keberanian memperkenalkan produk, sebagus apa pun kualitasnya akan sulit dikenal pasar.

Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, rasa malu justru sering kali menjadi penghambat terbesar. Sebaliknya, keberanian untuk memperkenalkan karya sendiri dapat menjadi langkah awal menuju kesuksesan.

Nasihat lain yang paling membekas bagi saya adalah tentang pengelolaan keuangan.

Beliau menyampaikan prinsip sederhana yang sarat makna, yaitu apabila memperoleh sepuluh bagian keuntungan, maka tujuh bagian sebaiknya disimpan sebagai modal dan tabungan usaha, sedangkan tiga bagian digunakan untuk kebutuhan.

Di tengah budaya konsumtif saat ini, pesan tersebut terasa sangat relevan. Banyak usaha yang sebenarnya menghasilkan keuntungan cukup besar, tetapi gagal berkembang karena keuntungan tersebut habis untuk memenuhi gaya hidup.

Seorang entrepreneur harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Keuntungan usaha seharusnya diputar kembali agar bisnis semakin kuat, bukan habis untuk menunjukkan kesuksesan yang belum tentu nyata.

Selain berbicara mengenai bisnis, Christine Hakim juga menyampaikan satu pesan yang menurut saya sangat menyentuh, yakni pentingnya memilih pendamping hidup yang mampu mendukung setiap hal positif yang kita perjuangkan.

Sering kali kita hanya membahas strategi bisnis, modal, atau jaringan usaha, tetapi melupakan bahwa lingkungan terdekat memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan seseorang.

Membangun bisnis bukanlah perjalanan yang mudah. Ada saat-saat ketika semangat menurun, usaha mengalami kerugian, atau keputusan yang diambil tidak berjalan sesuai harapan. Dalam kondisi seperti itulah kehadiran pasangan yang memberikan dukungan, kepercayaan, dan doa menjadi kekuatan yang tidak ternilai.

Pendamping hidup yang baik bukanlah mereka yang selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan, melainkan mereka yang tetap percaya ketika kita sedang berjuang mewujudkan mimpi. Dukungan sederhana dari keluarga sering kali menjadi energi terbesar untuk terus melangkah.

Bagi saya, pesan ini memperlihatkan bahwa kesuksesan seorang pengusaha tidak hanya dibangun oleh kecerdasan bisnis, tetapi juga oleh lingkungan yang sehat dan saling menguatkan.

Diskusi bersama Christine Hakim memberikan pelajaran bahwa menjadi entrepreneur sejatinya adalah proses membangun diri: membangun disiplin, menjaga kerendahan hati, mengendalikan ego, terus belajar, berani mengambil peluang, mengelola keuangan dengan bijak, dan membangun hubungan yang saling mendukung.

Di tengah era yang sering kali mengukur kesuksesan dari apa yang tampak di media sosial, nilai-nilai tersebut justru menjadi pengingat bahwa bisnis yang bertahan lama lahir dari karakter yang kuat.

Sebab, pada akhirnya aset terbesar seorang pengusaha bukan hanya modal atau jaringan, melainkan integritas, semangat belajar, dan kemampuan untuk terus bertumbuh bersama orang-orang yang mendukungnya.(***)

Editor : Hendra Efison
#kewirausahaan #membangun bisnis #karakter entrepreneur #Christine Hakim #pengelolaan keuangan