Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Damai yang Merangkak di Gaza

Novitri Selvia • Selasa, 7 Juli 2026 | 13:29 WIB
Shofwan Karim.(IST)
Shofwan Karim.(IST)

 

Oleh: Shofwan Karim (Pengamat, Penulis Esai, dan Dosen Pascasarjana UM Sumbar)

PADEK.JAWAPOS.COM-Perdamaian di Timur Tengah selalu berjalan dengan langkah merangkak, seakan kaki sejarah tersandung oleh batu dendam yang tak kunjung lapuk. Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mencoba menyalakan lilin di tengah badai.

Namun, lilin itu kerap padam oleh tiupan tragedi. Pada awal Juli, prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, membuat perundingan jeda. Sejarah seakan menunggu, menahan napas, sebelum babak baru dimulai.

Di Gaza, denyut lain bergetar. Hamas, setelah 18 tahun berkuasa sejak kudeta 2007, akhirnya menyerahkan otoritas sipil kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG).

Langkah ini bukan sekadar teknis birokrasi, melainkan simbol pergeseran dari pemerintahan ideologis menuju tata kelola teknokrat. Seperti sungai yang dialihkan alirannya, Gaza kini dititipkan kepada para profesional yang diharapkan mampu mengelola luka perang dengan rasionalitas dan keahlian.

Gaza: Dari Ideologi ke Teknokrasi

Pada 6 Juli 2026, Hamas resmi membubarkan Komite Darurat dan menyerahkan pemerintahan sipil kepada NCAG. Ismail Al Thawabta mengonfirmasi pengunduran diri Mohammed Al Farra, sekaligus menutup babak panjang Hamas sebagai penguasa de facto Gaza.

NCAG yang beranggotakan 15 teknokrat dipimpin oleh Ali Shaath, mantan Wakil Menteri Otoritas Palestina. Mereka bukan pejuang bersenjata, melainkan ekonom, dokter, pengacara, dan profesional sipil.

Nama-nama seperti Bashir Rayyes, pakar ekonomi lulusan Imperial College London; Dr. Aed Mahmoud Yaghi, dokter urologi yang memimpin pemulihan fasilitas kesehatan; Hanaa Hanna Nicola Tarazi, pengacara yang menangani perlindungan sosial; serta Omar Shamali, ahli telekomunikasi, menunjukkan wajah baru Gaza.

Wajah teknokrat yang berupaya menata reruntuhan dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman, bukan dengan senjata.

Namun, transisi ini tidak berjalan mulus. Israel hingga kini masih memblokir akses masuk anggota NCAG dari Kairo menuju Gaza. Perlintasan Rafah, satu-satunya gerbang Gaza ke dunia luar selain melalui Israel, masih menjadi titik tawar. Hamas pun menuntut agar Rafah dibuka sepenuhnya sehingga Gaza tidak lagi menjadi penjara terbuka.

Perdamaian yang Merangkak

Langkah Hamas menyerahkan Gaza kepada NCAG merupakan sebuah paradoks. Di satu sisi, langkah ini membuka peluang rekonsiliasi dan pemulihan. Di sisi lain, muncul ketidakpastian baru. Apakah Israel akan menerima pemerintahan teknokrat ini? Apakah NCAG mampu menata Gaza tanpa kembali terseret ke pusaran konflik?

Sejarah Hamas sejak 1987 adalah sejarah perlawanan. Sejak didirikan oleh Sheikh Ahmed Yassin, memenangkan pemilu 2006, hingga mengambil alih Gaza melalui kudeta pada 2007, Hamas selalu menjadi simbol resistensi.

Kini, dengan menyerahkan otoritas sipil, Hamas seakan mengakui bahwa perlawanan bersenjata saja tidak cukup untuk membangun kehidupan. Gaza membutuhkan administrasi yang baik, rumah sakit, sekolah, listrik, dan aktivitas perdagangan.

Namun, perdamaian bukan sekadar persoalan administrasi. Perdamaian adalah jiwa yang harus dipulihkan. Luka perang tidak akan sembuh hanya dengan protokol birokrasi. Perdamaian membutuhkan keadilan, pengakuan, dan kebebasan. Tanpa ketiganya, Gaza akan tetap menjadi luka terbuka di tubuh Palestina.

Metafora Timur Tengah

Perdamaian Israel–Palestina–Hamas adalah jalan yang merangkak. Ia tidak berlari, tidak melompat, bahkan sering kali terhenti. Namun, setiap langkah kecil tetap memiliki arti. Seperti bayi yang belajar berjalan, perdamaian membutuhkan kesabaran, dukungan, dan keberanian untuk jatuh lalu bangkit kembali.

Diplomasi Amerika Serikat–Iran, transisi Gaza menuju NCAG, serta tuntutan pembukaan Rafah merupakan fragmen dari sebuah mosaik besar. Mosaik yang belum selesai, penuh retakan, tetapi masih menyimpan harapan.

Dalam perspektif sufistik, perdamaian merupakan perjalanan jiwa. Ia bukan sekadar kesepakatan politik, melainkan transformasi batin, dari dendam menuju maaf, dari kekerasan menuju kasih sayang.

Jalan merangkak ini menjadi ujian, apakah manusia mampu melampaui sejarah yang dipenuhi pertumpahan darah dan membentangkan permadani perdamaian.

"Jalan Merangkak Perdamaian" menjadi metafora bagi kondisi Timur Tengah saat ini. Gaza yang dititipkan kepada teknokrat, diplomasi yang tersendat oleh tragedi, Israel yang masih menutup pintu, serta rakyat Palestina yang terus menantikan kebebasan merupakan langkah-langkah kecil yang merangkak menuju horizon yang belum sepenuhnya jelas.

Namun, sejarah mengajarkan bahwa bahkan langkah yang merangkak tetap membawa manusia bergerak maju. Perdamaian mungkin berjalan lambat dan penuh luka, tetapi tetap mungkin diwujudkan.

Seperti doa yang dipanjatkan setiap hari, harapan terus menyala bahwa suatu saat tikar sejarah yang dipenuhi darah akan berganti menjadi permadani damai yang abadi.

"Jalan Merangkak Perdamaian" bukan sekadar strategi politik, melainkan panggilan nurani. Al-Qur'an menegaskan:

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal [8]: 61).

Rasulullah SAW juga bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad).

Karena itu, jalan merangkak ini merupakan jalan iman. Ia mungkin lambat dan penuh rintangan, tetapi setiap langkah adalah doa yang bergerak.

Perdamaian Israel–Palestina–Hamas bukan sekadar kesepakatan politik, melainkan amanah spiritual untuk menutup luka dengan kasih, mengganti dendam dengan maaf, serta menyalakan harapan bahwa suatu hari bumi yang berlumur darah akan menjadi taman damai yang diridai Allah. (*)

Editor : Novitri Selvia
#Damai yang Merangkak #Shofwan Karim #gaza