Main Sabun

Two Efly • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 15:06 WIB
Two Efly
Two Efly

Oleh: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres

Saya bukan wartawan olahraga. Saya juga bukan orang yang paham betul tentang teknik sepak bola. Saya hanya penikmat tontonan sepak bola. Itu pun saya pilih-pilih untuk menontonnya.

Tetapi tiga pertandingan Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 ini membuat saya duduk lebih lama di depan televisi. Bukan semata karena sepak bolanya. Ada cerita lain yang membuat saya tertarik.

Ada perjuangan. Ada drama. Ada kejutan. Dan pada pertandingan terakhir, ada sesuatu yang membuat saya bertanya-tanya.

Main Sabun?

Istilah itu tentu tidak boleh dilempar begitu saja. Apalagi kepada sebuah pertandingan sepak bola internasional. Harus ada bukti. Harus ada pemeriksaan. Harus ada fakta.

Tapi sebagai penonton, saya tentu boleh bertanya.

Indonesia vs Singapura

Jumat, 25 September, saya menonton Indonesia menghadapi Singapura.

Singapura bermain bagus. Mereka membuat Indonesia harus bekerja keras untuk mencetak gol. Tidak mudah bagi Indonesia membongkar pertahanan The Lions.

Tetapi pada menit ke-15, Ragnar Oratmangoen berhasil menyambut umpan tarik dari sisi kanan dan membawa Indonesia unggul 1-0. Skor itu bertahan sampai turun minum.

Babak kedua berjalan lebih terbuka. Indonesia akhirnya menggandakan keunggulan melalui Ole Romeny pada menit ke-74.

Indonesia menang 2-0. Secara angka memang hanya dua gol. Tetapi selama 90 menit pertandingan, saya melihat Singapura bukan tim yang mudah ditaklukkan. Indonesia harus bekerja keras untuk mengamankan kemenangan.

Itu yang membuat saya kemudian bertanya-tanya ketika melihat pertandingan terakhir.

Sebab lawan yang sama, Singapura, beberapa hari kemudian menghadapi Malaysia.

Dan ceritanya menjadi sangat berbeda.

Indonesia vs Malaysia: 11 lawan 10

Senin malam, 28 September, saya kembali menonton. Kali ini lawannya Malaysia.

Indonesia versus Malaysia memang bukan pertandingan biasa. Sejak era Piala AFF dan berbagai pertemuan sebelumnya, dua negara bertetangga ini selalu menghadirkan tensi tersendiri.

Di lapangan panas. Di luar lapangan juga panas. Memes berseliweran. Saling sindir bermunculan. Bahkan pertandingan persahabatan pun kadang terasa seperti pertandingan final.

Namun malam itu tidak ada gol. Indonesia bermain dengan sepuluh orang setelah Thom Haye mendapat kartu merah pada menit ke-37 karena pelanggaran keras. Keputusan itu diambil setelah wasit melihat VAR.

Indonesia harus bertahan dalam kondisi 10 melawan 11. Malaysia memiliki keunggulan jumlah pemain. Secara logika, situasi itu seharusnya memberi keuntungan besar kepada Harimau Malaya.

Tetapi apa yang terjadi? Tidak ada gol. Sampai peluit panjang berbunyi, skor tetap 0-0.

Indonesia bertahan mati-matian. Martin Paes tampil penting di bawah mistar. Lini pertahanan Indonesia juga bekerja keras.

Malaysia gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Hasil itu membuat Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi empat poin, sementara Singapura mengumpulkan tiga poin setelah menang 1-0 atas Bangladesh. Artinya, pertandingan terakhir akan menentukan segalanya.

Indonesia menghadapi Bangladesh. Malaysia menghadapi Singapura. Dan kedua pertandingan dimainkan bersamaan.

Indonesia vs Bangladesh, Malaysia vs Singapura

Inilah bagian yang menarik. Pertandingan terakhir memang dimainkan bersamaan untuk menghindari kemungkinan sebuah tim mengetahui hasil pertandingan lain sebelum pertandingan mereka berakhir.

Indonesia bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Malaysia menghadapi Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.

Klasemen sebelum pertandingan sangat sederhana. Indonesia empat poin. Malaysia empat poin. Singapura tiga poin. Bangladesh nol poin.

Indonesia dan Malaysia sama-sama memiliki peluang menuju final. Karena itulah selisih gol menjadi sangat penting. Dan drama itu benar-benar terjadi.

Indonesia langsung tancap gas menghadapi Bangladesh. Mitchell Baker mencetak gol pada menit ke-11. Menit ke-20, Baker kembali mencetak gol. Rizky Ridho menambah gol pada menit ke-32. Bangladesh sempat membalas melalui Shahriar Emon pada menit ke-36.

Tetapi Indonesia terus menyerang. Baker kembali mencetak gol pada menit ke-37. Lalu menit ke-42. Justin Hubner mencetak gol keenam pada menit 45+1. Babak pertama berakhir 6-1.

Menariknya, para pemain Indonesia tidak banyak melakukan selebrasi.

Mengapa? Karena mereka tahu pertandingan lain sedang berjalan. Mereka tahu Malaysia juga sedang mengejar gol.

Setiap gol menjadi penting. Setiap menit menjadi berharga. Setiap bola harus dimanfaatkan. Indonesia tidak sedang sekadar mengejar kemenangan. Indonesia sedang mengejar tiket final.

Dari Jalak Harupat datang kabar buruk. Di Bandung, Malaysia juga bermain menyerang. Bergson membuka keunggulan Malaysia melalui penalti pada menit ke-8. Stuart Wilkin menambah gol pada menit ke-26.

Babak pertama Malaysia unggul 2-0. Di Jakarta, Indonesia unggul 6-1.

Untuk sementara Indonesia masih berada di depan. Tetapi pertandingan belum selesai.

Babak kedua dimulai. Dan drama semakin gila. Malaysia kembali mencetak gol. Bergson mencetak gol keduanya pada menit ke-62. Paulo Josué membuat Malaysia unggul 4-0 pada menit ke-76. Muhamad Syahir Bashah mencetak gol kelima pada menit ke-87. Lalu Bergson mencetak hat-trick pada masa injury time. Malaysia menang 6-0.

Singapura kalah 0-6. Dan di Jakarta, Indonesia sedang menghadapi persoalan sendiri.

Kiper Bangladesh menjadi tembok

Indonesia yang unggul 6-1 pada babak pertama ternyata tidak mudah mencetak gol pada babak kedua. Kiper Bangladesh Mehedi Hasan Srabon beberapa kali menggagalkan peluang Indonesia.

Indonesia terus menyerang. Tetapi bola seperti enggan masuk. Waktu terus berjalan. Di Bandung, Malaysia sudah 6-0. Sementara Indonesia masih 6-1.

Kemudian Indonesia akhirnya mencetak gol ketujuh melalui Luke Vickery pada menit ke-90.

Seharusnya itu menjadi kabar baik. Tetapi hanya sesaat. Bangladesh membalas. Farhaan Ali Wahid mencetak gol pada menit ke-90+1. Skor berubah menjadi 7-2.

Di titik itu saya mulai pesimis. Malaysia sudah menang 6-0. Indonesia baru unggul 7-2. Secara produktivitas gol, Indonesia masih tertinggal. Waktu tinggal sedikit.

Teman dan junior saya mengingatkan: Nonton bola itu sampai selesai. Jangan mengambil keputusan sebelum peluit panjang berbunyi. Pesan sederhana itu ternyata benar.

Dua menit yang mengubah semuanya

Menit ke-90+6. Indonesia mendapatkan peluang. Kevin Diks mencetak gol. Skor berubah menjadi 8-2. Tetapi itu belum cukup. Indonesia masih membutuhkan satu gol lagi. Satu gol. Hanya satu gol.

Dan pada menit ke-90+7, Mitchell Baker kembali mencetak gol. 9-2. Stadion meledak. Indonesia lolos ke final. 

Dramanya luar biasa.

Baker mencetak lima gol dalam pertandingan tersebut. Yang menarik perhatian saya justru selebrasinya. Delapan gol pertama Indonesia praktis tidak dirayakan secara berlebihan.

Bola cepat-cepat diambil. Dibawa kembali ke tengah lapangan. Mereka tahu waktu terus berjalan. Tetapi gol kesembilan berbeda. Gol kesembilan dirayakan.

Karena gol itulah yang menentukan. Gol itulah yang mengantarkan Indonesia ke final.

Indonesia dan Malaysia sama-sama tujuh poin

Akhirnya klasemen Grup A menjadi:

1. Indonesia — 7 poin, gol 11-2, selisih +9

2. Malaysia — 7 poin, gol 9-0, selisih +9

3. Singapura — 3 poin, gol 1-8, selisih -7

4. Bangladesh — 0 poin, gol 2-13, selisih -11

Indonesia dan Malaysia sama-sama mengumpulkan tujuh poin dan sama-sama memiliki selisih gol +9. Tetapi Indonesia mencetak 11 gol, sedangkan Malaysia sembilan. Produktivitas gol itu yang membawa Indonesia ke final.

Sementara Malaysia harus puas menjadi runner-up Grup A dan memainkan pertandingan perebutan tempat ketiga pada 5 Oktober.

Nah, di sinilah pertanyaan saya muncul

Saya tidak ingin memprovokasi. Saya juga tidak ingin mengintervensi opini siapa pun. Saya tidak mengatakan pertandingan Malaysia versus Singapura diatur.

Saya tidak punya bukti untuk mengatakan itu. Tetapi sebagai penonton sepak bola, saya boleh bertanya:

Apa yang terjadi dengan Singapura?

Tim yang ketika menghadapi Indonesia mampu memberikan perlawanan selama 90 menit, beberapa hari kemudian kalah 0-6 dari Malaysia.

Ini bukan sekadar kalah. Enam gol tanpa balas.

Padahal Singapura sebelumnya mampu mengalahkan Bangladesh 1-0. Bahkan dalam pertandingan melawan Indonesia, mereka membuat Indonesia bekerja keras sebelum akhirnya kalah 0-2.

Yang membuat saya semakin berpikir adalah pertandingan Indonesia melawan Malaysia.

Indonesia bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-37. Malaysia unggul jumlah pemain. Tetapi Malaysia tidak mampu mencetak satu gol pun. 0-0 skore nya

Kemudian Singapura bermain melawan Malaysia. Hasil akhirnya? 0-6!!! 

Inilah yang membuat saya sebagai penonton bertanya. Bukan karena saya merasa Indonesia harus lolos. Bukan pula karena saya ingin Malaysia gagal.

Tetapi karena perbedaan performa itu terlalu mencolok untuk tidak menjadi bahan pertanyaan.

Main sabun?

Di kampung saya, ada istilah sederhana: main sabun. Artinya kurang lebih pertandingan yang hasil atau jalannya permainan tidak berjalan sebagaimana semestinya karena ada kepentingan tertentu.

Tetapi sekali lagi, istilah itu bukan kesimpulan.

Itu hanya pertanyaan. Dan pertanyaan seperti ini seharusnya dijawab dengan data, bukan dengan emosi.Sebab sepak bola modern sudah memiliki teknologi.

Ada VAR. Ada rekaman pertandingan. Ada data pertandingan. Ada pergerakan pemain. Ada statistik. Bahkan ada sistem pemantauan integritas pertandingan dan aktivitas taruhan.

Kalau memang tidak ada apa-apa, tentu pertandingan itu bisa diperiksa dan dijelaskan secara objektif.

Kalau memang ada sesuatu yang tidak beres, biarlah lembaga yang berwenang yang menemukannya.

Bukan netizen. Bukan saya. Bukan pula suporter.

Jangan bunuh sepak bola dengan kecurigaan

Saya justru berharap tidak ada apa-apa. Sebab kalau memang pertandingan berlangsung normal, kemenangan Malaysia 6-0 harus dihormati.

Malaysia bermain efektif. Bergson mencetak tiga gol. Stuart Wilkin, Paulo Josué dan Syahir Basyah masing-masing menyumbang satu gol.

Sebaliknya, kalau ada indikasi serius, FIFA, AFF atau otoritas sepak bola terkait tentu memiliki kewenangan untuk memeriksanya.

Sebab integritas pertandingan jauh lebih penting daripada siapa yang lolos ke final. Sepak bola tidak boleh kehilangan kepercayaan penonton.

Saya menonton sepak bola bukan hanya untuk melihat siapa menang dan siapa kalah. Saya menonton karena di dalamnya ada perjuangan.

Ada sportivitas. Ada kejutan. Ada drama. Dan ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: kepercayaan. Karena itu, saya tetap memilih duduk sebagai penonton.

Saya tidak mau menuduh. Saya hanya bertanya. Ada apa dengan Singapura?

Mengapa ketika menghadapi Indonesia mereka begitu sulit dikalahkan, tetapi ketika menghadapi Malaysia mereka bisa dicukur enam gol tanpa balas?

Apakah memang Malaysia sedang sangat hebat malam itu? Apakah Singapura sedang mengalami hari yang sangat buruk?

Ataukah ada cerita lain yang belum kita ketahui?

Saya tidak tahu. Dan justru karena saya tidak tahu, saya bertanya.

Main sabun?

Biarlah fakta yang menjawab. Bukan prasangka. Bukan emosi. Dan bukan pula rivalitas Indonesia-Malaysia.

Sebab pada akhirnya, sepak bola hanya akan tetap menjadi sepak bola kalau kemenangan benar-benar lahir dari perjuangan di lapangan. Bukan dari permainan di balik lapangan. (***)

Editor : Hendra Efison
sepak bola malaysia indonesia singapura