Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dulu Ditolak, Kini Jadi Istri

Novitri Selvia • Kamis, 6 April 2023 | 11:22 WIB
Ilustrasi.(M. Reza Febrino/Padek)
Ilustrasi.(M. Reza Febrino/Padek)
Perkara jodoh memang tidak ada yang tahu, kapan, dimana dan dengan siapa berjodoh. Bahkan terkadang orang yang dulunya tak disukai, malah berubah menjadi suka. Seperti yang dialami Rina (nama samaran) tatkala cintanya ditolak mentah-mentah oleh pemuda yang kini menjadi suaminya. Seperti apa kisahnya?

Peristiwa itu terjadi satu tahun lalu. Ketika Rina mengungkapkan cintanya kepada seorang pemuda bernama Roni (nama samaran). Penolakan itu sangat membekas di hatinya.
Kalau soal tampang, wajahnya biasa-biasa saja. Tidak tampan dan juga bukan rupawan.

Penampilannya pun biasa-biasa saja. Karena sikapnya lah membuat Rina jatuh hati kepadanya. Roni sosok pemuda yang berbudi baik, suka menolong dan ramah kepada siapa saja.

Roni dan Rina, teman satu kuliah. Keduanya berteman baik dan berkecimpung di organisasi yang sama. Inilah yang membuat keduanya saling akrab karena selalu bertemu di setiap kegiatan organisasi.

Selepas tamat kuliah, keduanya berpisah mencari kehidupan masing-masing. Roni bekerja di sebuah perusahaan swasta, sementara Rina punya usaha percetakan. Bisa dikatakan keduanya sudah mapan untuk berumah tangga.

Memang waktu itu, Rina punya masalah terhadap berat badan. Penampilannya yang gemuk mungkin dianggap kurang menarik. Berat badannya 90 Kg. Tapi, ia tidak peduli. Ia menjalani kehidupan seperti air mengalir. Cemoohan dari teman-temannya tak dipedulikan.

Sampai tiba waktunya, sang ayah bertanya soal jodoh kepadanya. Ayahnya ingin Rina segera menikah. Usianya sudah beranjak 27 tahun. Dirasa sudah mapan untuk berumah tangga. “Kamu sudah punya calon suami nak? Kalau ada, ayo bawa ke rumah. Kenalkan dengan ayah,” tanya sang ayah.

“Belum ada ayah. Belum ada pria yang jatuh hati sama Rina,” jawab sang anak. Waktu terus berjalan. Pertanyaan sang ayah terus terngiang-ngiang di telinganya. Setiap pulang kerja, sang ayah selalu bertanya tentang jodohnya.

Ini juga membuat Rina merasa terus “diteror”. Sampai akhirnya, ia mencoba untuk menjalin kembali komunikasi dengan Roni, pria yang disukainya.

“Assalamualaikum Roni. Apa masih ingat dengan aku? Rina. Kita pernah satu organisasi di kampus dulu,” tulis Rina melalui pesan WhatsApp kepada Roni. Pesan itu tak seketika dibalas. Tiga hari kemudian baru dibalasnya. “Iya?” jawabnya singkat.

Rina lalu menjawab pesan itu dengan mengenang masa-masa saat aktif di organisasi kampus. Namun, percakapan itu terasa hambar. Jawaban Roni selalu singkat dan tidak mengenakkan. Sampai di akhir percakapan Roni membalas, “Mohon jangan chat aku lagi,” tulis Roni.

Bagaikan disambar petir di siang bolong. Hatinya terluka. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Namun Rina tetap tegar. Ia tetap membalas percakapan cinta pertamanya itu. “Iya, aku tidak akan chat lagi. Aku ingin menyampaikan, kalau aku suka kamu,” tutur Rina sambil menangis.

Itulah percakapan terakhir Rina dan Roni. Ia harus bisa melupakan sang pujaan hati dan mencari pria lain sebagai penggantinya. Walaupun itu berat, tapi ia harus bisa melupakannya.

Ia sadar, cintanya ditolak karena tubuhnya yang gemuk. Mulai saat itu, ia bertekad mengubah penampilannya dengan menurunkan berat badannya hingga mencapai ideal.
Meski awalnya terasa sangat sulit, Rina terus berusaha.

Ia rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Dalam waktu tiga bulan, ia berhasil menurunkan berat badannya. Awalnya 90 Kg, kini berat badannya 52 Kg. Penampilan barunya ini mencuri perhatian banyak pria.

Tak sedikit pria berusaha menggodanya bahkan mengajaknya untuk menikah. Akan tetapi, Rina tak bergeming. Cintanya hanya untuk Roni, pria yang disukai dan dikaguminya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Sampai akhirnya mereka dipertemukan pada sebuah kegiatan amal di sebuah panti asuhan.

Saat itu, Rina bersama teman-temannya ingin menyerahkan bantuan sembako untuk anak-anak panti asuhan. Di saat bersamaan, Roni juga membagikan paket sembako. Rasa takut, kecewa dan cinta masih menghantui Rina.

Ia takut salamnya tak berbalas. Karena itu, ia tak berani dan terus menunduk dalam pandangan Roni. Roni melihat Rina gelisah. Ia tak lepas di kegiatan itu. Ada sesuatu yang disembunyikannya. Ia sadar, percakapan terakhir itu membuat hati Rina terluka. Ia merasa bersalah.

Tanpa pikir panjang, ia lalu menghampiri teman kampusnya itu. “Hai Rina, kamu sudah berubah sekarang. Hanya satu yang tidak berubah dari dirimu. Selalu peduli terhadap anak-anak panti asuhan. Sama seperti di kampus dulu,” ucap Roni sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rina.

“Aku minta maaf jika melukai hatimu. Berhubung ini bulan Ramadhan, bulan yang baik, ada baiknya kita saling memaafkan,” sambung Roni.

Hati Rina berdetak kencang. Pria yang dicintainya itu kini telah berubah. Ia tak peduli, kalau Roni berubah karena penampilan fisiknya. Apapun itu, ia masih dan tetap mencintai Roni.

“Hai juga Roni. Rasa pedulimu sama anak-anak panti asuhan juga tidak berubah. Tetap sama saat di kampus dulu. Saya juga minta maaf kalau ada salah,” jawab Rina dengan tersenyum.

Sesudah itu, suasana pun menjadi cair, keduanya saling tertawa lepas mengenang saat-saat di organisasi kampus. Sesudah pertemuan itu, mereka aktif berkomunikasi. Roni memberanikan diri datang ke rumah Rina untuk melamar. Hingga akhirnya mereka berdua menikah selepas Ramadhan. (Eri Mardinal) Editor : Novitri Selvia
#Eri Mardinal #Kini Jadi Istri #Dulu Ditolak