Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bapak Kos Nikahi Anak Kos

Adetio Purtama • Selasa, 21 Mei 2024 | 10:20 WIB

(REZA FEBRINO)
(REZA FEBRINO)
PADEK.JAWAPOS.COM—Cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Cinta juga tidak mengenal usia dan status. Bahkan di antara pemilik kos dan anak kos. Seperti yang dialami Pak Didi (bukan nama sebenarnya), pemilik kos yang menikahi anak kosnya. Seperti apa ceritanya?

Di sebuah kota kecil terdapat sebuah rumah kos yang dikelola oleh Pak Didi. Ia adalah seorang duda yang ramah dan baik hati. Istrinya meninggal setahun yang lalu, karena menderita sakit. Kini ia tinggal bersama anak semata wayangnya, Ranti, berumur 6 tahun.

Kosan Pak Didi terkenal murah dan nyaman, sehingga banyak diminati para mahasiswa dan pekerja muda. Salah satu penghuninya adalah Rara (nama samaran), mahasiswi jurusan ekonomi di sebuah perguruan tinggi negeri di kota itu.

Rara dikenal sebagai anak yang rajin dan ulet. Di samping kuliah, untuk memenuhi kebutuhan hidup di kota, ia bekerja sampingan. Sebagai pelayan toko.

Meski bekerja, terkadang gajinya tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhannya. Dengan kondisi itu membuatnya sering menunda pembayaran uang kos kepada Pak Didi.

Suatu hari, Rara datang kepada Pak Didi dengan wajah pucat dan sedih. Dia memberanikan diri untuk memberitahu kalau dia tidak mampu membayar uang kos bulan ini.

Didi mendengarkan cerita Rara dengan penuh perhatian. Dia mengerti kesulitan yang dihadapi Rara. Karena itu, Pak Didi tidak ingin memintanya untuk meninggalkan kosnya.

”Rara, kamu jangan khawatir. Kamu tidak perlu memikirkan uang kos bulan ini. Saya mengerti kondisimu,” ujar Pak Didi meyakinkan Rara.

Rara merasa lega mendengar kata-kata Pak Didi. Air mata menetes di pipinya karena rasa haru dan bersyukur.

Sejak saat itu, Pak Didi tidak hanya membebaskan Rara dari uang kos, tetapi dia juga sering membantunya dengan kebutuhan lainnya. Pak Didi sering memberikan Rara makanan, dan bahkan memberinya uang saku untuk membeli keperluan sehari-hari.

Bahkan Pak Didi menawarkan Rara untuk membantunya mengurus beberapa pekerjaan rumah. ”Bagaimana kalau kamu membantu saya mengurus beberapa pekerjaan rumah tangga sebagai ganti uang kos?” tawar Pak Didi dengan senyum.

Tanpa pikir panjang, Rara langsung menerima tawaran Pak Didi dengan senang hati. Sejak saat itu, Paka Didi dan Rara semakin dekat. Mereka sering berbincang-bincang dan saling membantu. Rara membantu Pak Didi membersihkan rumah, mengurus taman dan beberapa pekerjaan lainnya.

Kedekatan mereka pun berkembang menjadi benih-benih cinta. Pak Didi merasa kagum dengan sikap dan semangat Rara. Begitu pula Rara juga terpesona oleh kebaikan hati dan ketulusan Pak Budi.

Namun, mereka berdua sama-sama ragu untuk mengungkapkan perasaan mereka karena terhalang oleh perbedaan usia dan status sosial.

Suatu hari, Pak Didi memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Rara. Ia mengatakan telah jatuh cinta dengan Riri dan ingin menjadikannya pendamping hidup. Rara pun tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Ia mengaku ia pun menyukai Pak Didi.

Namun, hubungan mereka tidak berjalan mulus. Keluarga Rara tidak menyetujui hubungan mereka karena perbedaan usia. Orang tuanya khawatir Rara tidak bahagia.

Di sisi lain, beberapa penghuni kos pun merasa keberatan dengan hubungan Pak Didi dan Rara. Mereka merasa tidak nyaman dengan kedekatan mereka dan takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Meskipun banyak rintangan yang harus dihadapi, Pak Didi dan Rara tetap teguh pada pendirian mereka. Mereka yakin cinta mereka tulus dan akan mampu melewati semua rintangan.

Akhirnya, dengan tekad yang kuat dan cinta yang tulus, Pak Didi dan Rara berhasil meyakinkan keluarga dan orang-orang di sekitar mereka.

Mereka pun akhirnya menikah. Pernikahan mereka dilangsungkan dengan sederhana namun penuh kebahagiaan. Para penghuni kos dan keluarga mereka turut hadir untuk memberikan doa dan restu kepada pasangan yang berbahagia itu.

Setelah menikah, Pak Didi dan Rara hidup bahagia bersama di rumah kos. Rara ditugasi untuk mengelola kos. Di tangan Rara, kos mereka menjadi semakin ramai dan membuat nyaman bagi para penghuninya. (eri)

Editor : Adetio Purtama