Rian merupakan seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang sibuk menyusun tugas akhirnya. Sedangkan Diana adalah dosen yang pernah mengajar Rian di kelas, dan bahkan saat ini menjadi dosen pembimbing tugas akhir Rian.
Mungkin ini yang dikatakan jodoh Tuhan. Tuhan membuat Rian dan Diana bisa berkomunikasi secara intens membicarakan banyak hal, mulai dari tugas akhir, pengalaman, dan kehidupan pribadi masing-masing.
Jarak yang hanya terpaut lima tahun, membuat mereka saling cocok berhubungan satu sama lain. Bahkan kedekatan antara Rian dan Diana sudah menjadi rahasia umum di kampus, meskipun keduanya bersikap profesional ketika berada di kampus.
Dengan perjuangan yang begitu keras, akhirnya Rian berhasil menyelesaikan sidang tugas akhirnya dan dinyatakan lulus. Dengan begitu ia pun sekarang hanya menunggu waktu untuk diwisuda, yang rencananya dilaksanakan bulan depan.
Sembari menunggu prosesi wisuda, Rian mulai berpikir untuk menjalani kehidupan dan hubungan yang serius dengan dosen pembimbingnya, Diana. Apalagi Rian mengetahui bahwa mereka sama-sama single.
Maka dengan semangat yang tinggi, Rian memberanikan diri untuk mengajak Diana bertemu di salah satu kafe untuk menceritakan maksud dan tujuannya mulianya tersebut.
Hari yang ditunggu pun tiba. Rian dan Diana sudah duduk di dalam kafe. Awalnya mereka memilih makan terlebih dahulu sebelum membicarakan hal serius yang ingin disampaikan Rian.
Diana sendiri sudah tahu alasan kenapa dirinya diajak bertemu oleh Rian. Rian ingin membicarakan sesuatu. Namun, pembicaraan apa yang akan disampaikan, Diana belum mengetahuinya.
Setelah semua hidangan ludes dimakan. Rian pun mencari momen yang tepat untuk memulai pembicaraannya. Ia tampak sedikit gelisah dan ragu. Namun, dengan sedikit menarik nafas panjang, Rian pun siap untuk menyatakan maksud hatinya.
”Buk, eh Diana. Aku mau ngomong sesuatu yang serius. Aku harap kamu tidak marah dan melempar piring yang ada di depanmu ke wajahku,” kata Rian.
”Memangnya kamu mau ngomong apa sampai segitunya takut aku bakal marah? Apa kamu mau aku yang bayarin semua makanan ini,” jawab Diana.
Dengan sedikit terbata-bata, Rian mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. ”Diana, sebenarnya aku sudah cinta sama kamu sejak lama. Dan sekarang aku ingin menjalin hubungan serius dengan kamu, bahkan ke jenjang pernikahan,” ungkap Rian.
Kepercayaan diri Rian untuk segera menikah dengan Diana bukan hanya modal cinta saja. Rian meskipun sedang kuliah, dia sudah memiliki usaha sendiri dari toko kelontong yang telah ia mulai sejak masih duduk di semester 2. Diana pun mengetahui hal tersebut.
Setelah mendengar ungkapan hati dari Rian, Diana sedikit terdiam. Ada sekitar 10 menit ia terdiam mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Rian. Akhirnya Diana berani untuk menjawab pertanyaan Rian tersebut.
”Kamu serius? Apa kamu tidak keberatan atau malu punya pasangan yang lebih tua dari usiamu? Kamu tahu kan, saat ini aku tidak mau main-main dalam menjalani hubungan,” jawab Diana.
”Aku serius Diana. Apa hubungannya dengan jarak usia. Usia bukanlah sebuah halangan Diana. Aku tidak akan malu. Aku juga sudah bilang ke orangtuaku. Dan mereka tidak mempersalahkanya. Aku yakin, dengan niat baik ini, Tuhan akan meridhoinya,” jelas Rian.
Mendengar perkataan Rian yang sungguh-sungguh tersebut, Diana pun menangis. Baru pertama kali ini ada seorang laki-laki yang gentle mengungkapkan perasaan kepadanya. Dengan hati penuh haru bercampur kebahagiaan, Diana pun menerima lamaran dari Rian.
Tiga bulan pasca Rian diwisuda, Rian pun resmi mempersunting kekasih hatinya yang dulunya merupakan mantan dosen pembimbing, yakni Diana. Mereka pun kemudian hidup damai dan bahagia. (adt)
Editor : Adetio Purtama