Pagi itu, Usman sedang duduk di beranda rumah. Rumahnya yang menghadap matahari terbit itu mempunya view sungai dan persawahan yang masih asri. Di samping rumahnya ada pohon rambutan yang sudah mulai berbuah.
Hari itu Usman manusia yang paling bahagia di dunia, ia bisa menikmati secangkir kopi sambil melihat hamparan sawah di depannya. Kebahagiaan Usman tidak sendiri, burung-burung pun ikut bahagia.
Sambil berkicau dan melompat dari ranting ke ranting membuat suasana pagi itu semakin lengkap. Apalagi istri tercinta duduk pula di samping Usman. Senyumnya menambah semangat Usman pagi itu. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan!
Tapi kebahagian itu tidak bertahan lama. Ajakan teman Usman untuk mencoba bermain judi online telah menghilangkan kebahagiaan Usman. Man begitu Usman dipanggil Adun (bukan nama sebenarnya). Adun menceritakan ia baru saja memenangkan judi online.
“Saya pasang Rp 10.000 jadi Rp 600.000” ujar Adun ke Usman sambil berlari memperlihatkan rekeningnya.
Sejak itulah racun judi onlie itu merasuki jiwa Usman. Bahkan gajinya habis sebelum sampai ke tangan istrinya hanya untuk bermain judi online.
Pernah satu kali ia dapat Rp 15 juta dari modal Rp 25.000. Ia begitu bahagia. Usman yang bekerja pada sebuah perusahaan swasta itu mentaktir teman-temannya.
“Ayo-ayo ambil semuanya. Biar saya yang bayar, hari ini saya menang,” ujar Usman sambil memperlihatkan uang pecahan Rp 100.000.
Untuk hari-hari selanjutnya, Usman sering datang terlambat ke kantor. Terkadang, ia juga mengantuk karena habis begadang main judi online. Satu kali ia lupa mengerjakan tugas yang diberikan managernya di kantor.
Tugas itu dibawa pulang pada Jumat dengan harapan bisa diselesaikan di Sabtu atau Minggu. “Cukup sekali ini kamu lalai dalam mengerjakan tugas perusahaan, jika pada waktu yang lain masih seperti itu, saya tidak segan-segan memecatmu atau kamu pindah ke divisi lain,” ancam managernya.
Setelah kejadian di kantor, Usman juga bertengkar dengan istrinya. Biasanya Usman cukup memberikan uang dapur, tapi sekarang Usman hanya memberikan uang dapur kurang dari separuh dan terkadang tidak ada sama sekali.
“Bu, bulan ini pakai dulu uang tabungan kita untuk belanja keperluan rumah tangga,” ujar Usman sambil rebahan di kursi tamu.
Istri Usman mulai curiga. Kemana gaji Usman bulan ini. Apakah belum gajian atau dipakai untuk keperluan lain. Teka-teki itu akhirnya terjawab. Ada telpon dari petugas pinjaman online (Pinjol) menagih utang.
Rupanya Usman juga sudah terlilit pinjol untuk bermain judol. “Mas kamu rupanya sudah terlibat judol dan pinjol. Hari ini saya pulang dulu ke rumah mama. Kalau jiwa kamu sudah sehat dan tidak judol lagi, baru kamu datang jemput aku,” ujar istrinya sambil membawa kedua buah hatinya.
Usman tidak kuasa melarang istrinya pulang ke rumah orangtuanya. Karena memang ia tidak bisa mengelak karena ketahuan bermain judol dan juga meminjam pinjol untuk berjudi.
Ia melihat langsung istri dan anak-anaknya meninggalkan rumah dengan tentengan koper di tangannya. Dari kejauhan ia melihat istrinya begitu kecewa dengan perbuatan Usman. Lambaian tangan anak Usman membuatnya menahan tangis.
“Pa, Alya ke rumah nenek dulu, jemput nanti ya,” ujar anak sulung Usman sambil sambil mencium tangan ayahnya saat akan berangkat ke rumah nenek. “Ya, nanti kalau semuanya sudah beres papa jemput,” ujar Usman.
Sepeninggal istri dan anaknya, Usman menangis sejadi-jadinya. Rumah yang tadinya nyaman dengan kicauan burung dan percikan air sungai dan hijaunya hamparan sawah, tidak bisa mengobati hati Usman yang luka. Rumah warisan itu terasa sunyi seperti kuburan.
Dua bulan Usman ditinggal orang-orang yang disayanginnya. Dua bulan itu ia membersihkan diri dan membayar semua utang. “Saya mesti tinggalkan penyakit ini,” ujar Usman membatin dalam kesendiriannya.
Teman Usman yang lain, Haikal, datang ke rumah. Ia melihat Usman sedang sendiri. “Man rumahmu kok sepi,” tanya Haikal.
Pertanyaan itu membuat Usman terdiam. Lalu ia bercerita panjang lebar tentang kejadian itu. Dari cerita Usman, ia menarik kesimpulan agar Usman minta maaf dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang memalukan itu.
“Begini Man, tindakanmu itu sudah salah. Yang namanya judi tidak akan membuat seseorang kaya, malah merusak sendi-sendi kehidupan. Contoh bertengkar dengan istri kemudian merusak tali silaturahmi. Kenapa bagitu, tanya Haikal. “Ya, kamu pasti pinjam sana-pinjam sini, lalu tidak bisa mengembalikan sesuai jadwal. Nah, ini kan merusak persudaraan atau persahabatan bukan,” tanya Haikal lagi.
Jadi begitu, ujar Haikal, sambil memperbaiki duduknya. “Sekarang kamu datangi istrimu, yakinkan dia perbuatan itu tak akan terulang lagi. Dan pastikan juga meminta maaf sama mertua, karena sudah menyakiti anak serta cucunya,” ujar Haikal menyakinkan Usman.
Kemudian dengan lagkah yang percaya diri ia kembali menjemput istrinya untuk kembali ke rumah. Ia menemui mertuanya dan berjanji tidak akan membuat kesalahan yang sama. Hari itu, suasana hari-hari pertama Usman tinggal di rumah warisan itu kembali hadir.
Usman dan istri serta kedua anaknya kembali menjadi keluarga bahagia. Penuh canda dan tawa. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan! (juf)
Editor : Adetio Purtama