Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Tak Ada Sopir Kedua

Adetio Purtama • Kamis, 5 Desember 2024 | 06:30 WIB

Photo
Photo
PADEK.JAWAPOS.COM—Kesialan berturut-turut dialami oleh Niko (nama samaran) bersama teman-temannya. Niat hati untuk pergi liburan melepas beban pikiran, malah masalah yang bertambah. Sempat dia berpikir, kesalahan apa yang telah dilakukan, sehingga mendapatkan kesialan bertubi-tubi. Seperti apa ceritanya?

Momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) tentu sangat ditunggu-tunggu oleh setiap orang, apalagi bagi karyawan seperti Niko. Waktu libur yang bertambah di momen itu bisa dimanfaatkan untuk pergi liburan, baik sendiri, bersama keluarga, dan teman-teman.

Itu lah yang dilakukan dan direncanakan oleh Niko bersama rekan-rekan kerjanya di kantor. Mereka berenam berencana pergi ke objek wisata alam terbaru di provinsi tempat mereka tinggal. Kebetulan objek wisata itu sedang viral di posting di berbagai media sosial.

Karena penasaran ingin melihat langsung, mereka memutuskan untuk pergi ke sana. Rencana pun disusun. Karena Niko yang paling semangat, maka secara tidak langsung rekan-rekannya menjadikan Niko sebagai ketua dalam perjalanan liburan itu.

Semua persiapan sudah dilakukan, termasuk menyewa mobil. Karena di antara mereka berenam tidak pandai mengemudi mobil, maka Niko dan teman-temannya sepakat untuk menyewa sopir yang akan membawa mereka ke objek wisata itu.

Singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Mengambil titik kumpul di kafe depan kantor, Niko dan kelima temannya sudah berada di sana menunggu jemputan mobil sewa. Tepat pukul 08.00, mobil dan sopir tiba. Mereka sengaja pergi pagi hari, karena waktu tempuh ke lokasi memakan waktu sekitar 3 jam.

Sepanjang perjalanan, apalagi mendekati tempat tujuan, mereka disuguhi dengan pemandangan perbukitan dan hamparan kebuh teh. Suasana sejuk juga sangat terasa meskipun berada di dalam mobil dengan AC yang dimatikan.

Tepat pukul 11.00, mereka tiba di objek wisata alam yang viral itu. Tanpa pikir panjang, Niko dan temannya langsung masuk dan mencoba berbagai wahana permainan yang ada di objek wisata itu seperti, ayunan gantung, balap mobil-mobilan, flying fox, dan lainnya.

Setelah puas dengan wahana permainan itu, Niko dan lainnya memilih untuk beristirahat sembari menyantap makan siang di salah satu rumah makan yang berada di kawasan objek wisata. Rencananya, setelah makan siang dan istirahat, mereka ingin mencoba wahana permainan paintball.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Mereka kemudian memutuskan untuk pulang. Namun ketika mobil hendak dinyalakan, tiba-tiba sopir mengeluh sakit perut yang teramat serta kepala yang pusing seperti berputar-putar.

Melihat kondisi itu, salah seorang teman Niko berinisiatif untuk membawa sopir itu ke klinik kesehatan yang berada di dalam kawasan objek wisata. Niko dan kelima temannya bergantian memapah dan menggendong sopir tersebut sampai di klinik kesehatan.

Setelah diperiksa, ternyata asam lambung dari sopir naik. Dia terpaksa diinfus dan diberikan suntikan obat. Perawatan sopir itu di klinik memakan waktu berjam-jam. Sampai pukul 20.00, sang sopir mulai berangsur membaik, namun tidak bisa mengendarai mobil untuk pulang.

Mulailah kecemasan menyeruak dalam diri Niko dan temannya. Bagaiamana tidak, selain sopir tersebut, mereka berenam tidak bisa mengendarai mobil. Padahal mereka semua adalah laki-laki yang notabenenya tentu sudah bisa mengendarai mobil.

Niko berusaha mencari ide bagaimana mereka bisa pulang. Memutuskan membuang rasa gengsi dan malu, Niko berusaha menanyakan kepada setiap pengunjung yang masih ada di sana untuk menolong mereka mengendarai mobil tersebut.

Tetapi usaha Niko itu sia-sia. Setiap pengunjung laki-laki yang ditanyakan, ternyata mereka juga menjadi sopir untuk kendaraan mereka masing-masing. Niko merasa malu dan putus asa dengan kondisi yang dia alami saat ini. Bahkan ia teringat kata ibunya yang bawel menyuruhnya belajar menyetir mobil, namu sering ia abaikan.

Di tengah keputusasaan itu, tiba-tiba ada seorang wanita yang sebaya dengannya menghampiri. Wanita itu sudah tahu kalau rombongan Niko sedang mencari pengemudi. Dengan niat yang baik wanita itu mau menolong mengemudi mobil. Selain pandai menyetir, arah tujuan wanita itu searah dengan rombongan Niko.

Mendengar hal itu jauh di lubuk hati Niko dia merasa malu. Namun mau bagaimana lagi. Jadilah wanita itu yang menggantikan sopir yang sakit. Sementara sopir pindah ke kursi belakang sambil beristirahat.

Tetapi masalah belum selesai. Masalah baru pun datang. Wanita itu ternyata pergi ke objek wisata itu mengendarai sepeda motor. Tentu jika dia menyetir mobil, harus ada orang yang mengendarai sepeda motor miliknya.

Melihat kondisi itu, Niko dan kelima temannya saling memandang satu sama lain. Dengan kondisi waktu menunjukkan pukul 21.30, perjalanan selama 3 jam, dan kondisi cuaca yang sebentar lagi hujan, pastinya mereka berenam ragu untuk mengendarai sepeda motor itu.

Niko pun memutuskan untuk menjadi orang yang mengendarai sepeda motor. Apalagi dia merasa bertanggungjawab karena mengusulkan ide jalan-jalan. Namun Niko mengatakan, dia hanya mengemudi di setengah perjalanan dan harus diganti dengan teman lain.

Akhirnya mereka sepakat dengan keputusan itu. Tapi sialnya bagi Niko, dia yang mengendarai sepeda motor dari lokasi objek wisata sampai pertengahan perjalanan, harus menghadapi hujan badai. Mantel yang dipakai tak mempan menahan derasnya hujan.

Beruntung bagi temannya lain yang menggantikannya, persis di pertengahan perjalanan sampai di depan kantor, cuaca sangat baik. Niko pun menjadi bahan tertawaan dan candaan bagi teman-temannya.

Dengan apa yang dialaminya itu, Niko kemudian bertekad untuk belajar menyetir mobil di tempat pelatihan. Niko tidak ingin pengalaman buruk tersebut terjadi kembali di masa depan. (adt)

Editor : Adetio Purtama