Hal ini dikeluhkan nelayan Pantai Purus Kota Padang, Yon, 42, saat dijumpai Padang Ekspres usai menarik jaring hasil tangkapannya mengatakan semakin hari ikan makin susah didapatkan.
“Semakin hari ikan semakin susah saja didapatkan, malah hasil tangkapan jaring kami hari ini dipenuhi dengan sampah dan ikan hanya beberapa saja, hanya satu ember kecil paling tidak,” keluhnya, Senin (23/1).
Ia mengeluhkan dengan hasil tangkapan yang sedikit tentu pendapatan untuk menghidupi anak dan istri di rumah tidak seberapa.
“Hasil tangkapan saja sedikit tentu harga semakin mahal. Kalau dijual dengan harga yang mahal banyak pedagang yang juga tidak mau membeli maka kami memutuskan untuk menjualnya secara langsung di pantai ini kepada pengunjung yang datang,” katanya lagi.
Menurutnya, ia tidak mengetahui penyebab ikan di laut Kota Padang semakin berkurang karena beberapa tahun yang lalu pendapatan nelayan dan juga hasil tangkapan ikan bisa melimpah bahkan bisa mencapai tiga baskom.
“Tidak tahu lah apa penyebabnya makin hari makin sedikit saja ikan yang ada di sini. Meskipun kami menangkap menggunakan jaring tahun tahun lalu itu bisa mencapai dua baskom sampai tiga baskom dan juga untuk penjualannya lancar,” tuturnya lagi.
Menurutnya lagi, cuaca yang buruk memaksa nelayan menahan diri pergi melaut. Tidak hanya Yon yang merasakan peliknya mencari ikan menggunakan jaring di laut Pantai Purus Kota Padang.
Hal ini juga dirasakan oleh Bonar, 45, yang juga berprofesi sebagai seorang nelayan di Pantai Purus. Ia mengatakan, sampah yang ada di laut lebih mendominasi dibandingkan jumlah ikan.
“Kalau saat ini lebih banyak sampahnya daripada ikannya. Jadi di saat kami menjaring itu bukannya menjaring ikan tapi malah menjaring sampah yang ada di laut Purus ini,” tuturnya.
Ia berharap kepada pemerintah untuk dapat membersikan laut Kota Padang dari sampah sehingga ikan yang ada di laut kembali banyak dan nelayan dapat hidup sejahtera.
“Kalau menurut saya ikan berkurang karena banyaknya sampah-sampah yang ada di laut Padang ini sehingga ikan-ikan yang ada itu menjadi berkurang,” keluhnya lagi. (cr5) Editor : Novitri Selvia