Hal itu disampaikan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton. Hendri menjelaskan, pemasangan papan peringatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana.
“Kami berharap masyarakat dapat lebih waspada dan tidak panik. Kami tidak tahu kapan bencana akan datang. Tetapi kami berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan mitigasi bencana dan kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Hendri.
BPBD Kota Padang telah memasang 25 titik papan peringatan di zona merah tsunami. Papan-papan peringatan ini dipasang di lokasi-lokasi strategis yang rawan terhadap potensi tsunami, seperti di sepanjang Pantai Padang, Padang Utara, Padang Selatan, Kecamatan Bungus, dan Kototangah.
Ia menambahkan, pemasangan papan peringatan ini tidak hanya bertujuan sebagai pengingat bagi masyarakat, tetapi juga sebagai panduan evakuasi jika terjadi gempa besar yang berpotensi menimbulkan tsunami.
Papan peringatan ini dilengkapi dengan informasi tentang jalur evakuasi dan titik kumpul aman, sehingga masyarakat dapat dengan cepat mencari perlindungan jika terjadi gempa atau tsunami.
“Kami ingin masyarakat Padang siap dan sigap menghadapi bencana. Papan-papan ini akan membantu mengarahkan masyarakat ke tempat yang aman saat situasi darurat kami juga memperbaiki ulang papan,” ujarnya.
Selain pemasangan papan peringatan, BPBD Kota Padang juga aktif melakukan sosialisasi dan pendidikan kebencanaan ke berbagai elemen masyarakat. Program ini melibatkan sekolah-sekolah, kampus, serta kelurahan di seluruh Kota Padang.
Tujuannya adalah agar setiap lapisan masyarakat memiliki pemahaman yang baik tentang cara menghadapi bencana, baik secara individu maupun kolektif.
Hendri menyampaikan, dalam kegiatan sosialisasi ini, masyarakat diajarkan tentang pentingnya memiliki rencana evakuasi, mengenali tanda-tanda alam, serta tindakan yang harus diambil saat bencana terjadi.
Pihak sekolah dan kampus juga diberikan pelatihan khusus tentang evakuasi dan penanganan pertama terhadap korban bencana. Hal ini penting mengingat banyaknya institusi pendidikan yang berada di zona rawan bencana, seperti di kawasan Kototangah, Bungus, dan Padang Utara.
“Melalui program ini, kami ingin membentuk generasi yang cerdas bencana, generasi yang tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Kami berupaya melibatkan semua pihak, mulai dari anak-anak sekolah hingga masyarakat di tingkat kelurahan, untuk meningkatkan kesiapsiagaan mereka,” ujar Hendri.
Selain pemasangan papan peringatan dan sosialisasi, pemerintah juga telah menyiapkan shelter-shelter (tempat perlindungan) di beberapa lokasi strategis yang dapat digunakan oleh masyarakat saat terjadi bencana.
Menurut data BPBD Kota Padang, daerah-daerah dengan ketinggian lebih dari 10 meter dari permukaan laut, seperti Alai lebih aman dari ancaman tsunami dibandingkan dengan daerah pesisir pantai. Oleh karena itu, masyarakat yang berada di zona merah tsunami dianjurkan untuk segera bergerak menuju daerah-daerah ini ketika terjadi gempa besar.
Ia juga mengatakan selain shelter, pemerintah juga telah memasang rambu-rambu dan sirene peringatan di sepanjang wilayah pesisir. Sirene ini akan berbunyi ketika terdeteksi adanya potensi tsunami, memberi peringatan dini kepada masyarakat untuk segera melakukan evakuasi.
Rambu-rambu evakuasi juga dipasang di sepanjang jalur evakuasi, memandu masyarakat menuju titik-titik aman yang telah ditentukan.
Lebih lanjut Hendri mengatakan, Padang dan wilayah Sumbar pada umumnya berada di kawasan yang sangat rentan terhadap gempa bumi dan tsunami karena berada dekat dengan Zona Megathrust Mentawai dan Sesar Semangko.
Zona Megathrust Mentawai merupakan salah satu sumber gempa bumi besar di dunia yang berada di lempeng tektonik di bawah Samudra Hindia. Aktivitas di zona ini telah menyebabkan beberapa gempa besar dalam sejarah, termasuk gempa bumi pada 30 September 2009.
BPBD Kota Padang juga terus melakukan simulasi bencana secara berkala, melibatkan berbagai elemen masyarakat, sekolah, dan institusi lainnya. Simulasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua pihak siap menghadapi situasi darurat, serta mampu melakukan evakuasi dengan cepat dan tepat.
“Mitigasi bencana bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua. Kita harus berbenah diri dan terus belajar dari pengalaman masa lalu,” ujar Hendri.
Menghadapi potensi bencana di masa depan, BPBD Kota Padang mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan siap siaga. Pemerintah telah melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan kesiapsiagaan, namun peran aktif masyarakat juga sangat dibutuhkan.
Setiap warga diharapkan untuk mengetahui jalur evakuasi terdekat dari tempat tinggal mereka, serta selalu mempersiapkan diri dengan perlengkapan darurat yang memadai.
“Yang terpenting adalah jangan panik. Kami tidak tahu kapan bencana akan datang, tapi dengan kesiapsiagaan yang baik, kita bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan. Kami terus berupaya untuk memberikan sosialisasi dan simulasi, agar masyarakat siap menghadapi bencana,” tutup Hendri. (cr1)
Editor : Adetio Purtama