PADEK.JAWAPOS.COM-Terbakarnya pabrik karet PT Teluk Luas berpengaruh terhadap petani dan pengepul karet di Sumatera Barat. Hingga kini belum bisa dipastikan pabrik tersebut akan terus beroperasi atau tutup permanen
"Kami belum bisa pastikan. Hingga sekarang belum bisa berkoordinasi dengan PT Teluk Luas, karena masih dalam penyelidikan polisi dan suasana duka," kata Novrial, Kadis Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar ketika dihubungi Padang Ekspres, Selasa 20 Mei 2025
Pantauan Padang Ekspres, di lokasi tidak terlihat adanya aktifitas pabrik yang mulai terbakar hari minggu itu. Hingga Selasa pagi tadi, masih dilaporkan adanya kobaran api di area pabrik.
Gerbang pabrik terlihat ditutup dan wartawan hanya diizinkan mengambil gambar sampai dekat gerbang. Di sekitar lokasi juga Masih terpasang garis polisi, sebagai tanda area itu masih dalam penanganan kepolisian.
Novrial memperkirakan kebakaran PT Teluk Luas berdampak pada berkurangnya permintaan bahan baku karet di Sumbar. Hal itu juga akan mengurangi pendapatan yang akan diterima oleh petani
"Namun itu tidak berpengaruh besar, karena saat inu ada beberapa pabrik karet yang aktif termasuk di daerah sekitar seperti Jambi dan Riau," kata pamong senior tersebut
Perlu diketahui, sistem perdagangan karet di Sumbar saat ini masih sampai pengolahan karet menjadi barang setengah jadi. Tata niaga perdagangan karet sejauh ini, sebut Novrial masih dengan alur, petani produsen - pengepul - pabrik, dan karet memproduksi meniadi barang setengah jadi
Berdasarkan data di Disperindag Sumbar, sebutnya kapasitas produksi crum rubber di PT Teluk Luas, sekitar 48.000 ton/ tahun. PT Teluk Luas merupakan satu dari delapan pabrik karet yang ada di Sumbar. Dalam beberapa tahun terakhir lima pabrik karet di Sumbar, telah tutup
Kelima perusahaan yang tutup yaitu, PT Lembah Karet Padang, PTNPN VI, PT Batanghari Barisan, PT Transco Pratama - CRF dan PT Kilang Lima Gunung.
Sedangkan tiga pabrik karet yang masih aktif yaitu, PT Teluk Luas di Kota Padang, PT Abai Siat Daya di Pesisir Selatan dan PT Famili Raya, Kota Padang
Lebih lanjut, sebut Novrial yang juga mantan Kadis Pustaka Sumbar itu, kapasitas hasil kebun karet di Sumatera Barat telah mengalami penurunan.
"Dari Informasi distributor penurunan itu akibat adanya alih kebun karet menjadi kebun sawit," katanya
Novrial, menyebutkan penurunan itu membuat "keseimbangan baru" supply dan demand. Di satu sisi produksi turun, di sisi lain permintaan bahan untuk produksi dari pabrik - pabrik juga jauh menurun. "Dominannya penutupan pabrik karena harga pasar yang turun," tambahnya
Dijelaskannya, masalah industri karet saat ini adalah karena turunnya permintaan dan harga karet dunia, baik karena barang substitusi maupun karena kompetisi kualitas dan harga dari negara lain seperti malaysia dan vietnam.
Pemprov Sumbar dibawah kepemimpinan Mahyeldi - Vasko sebut Novrial melalukan dukungan usaha karet melalui sosialisasi produksi karet yang berkualitas kepada para petani produsen
"Sosialisasi ini diharapkan menghasilkan karet yang berkualitas, sehingga petani bisa mendapatkan harga yang layak," tegasnya
Disperindag Sumbar ke depan, juga mendorong berkembangnya industri karet yang membuat barang jadi
"Kita mengupayakan timbuhnya IKM karet yang membuat produk karet seperti suku cadang kendaraan bermotor, mainan, alat2 rumah tangga dan lainnya," jelasnya (tep)
Editor : Novitri Selvia