Kedua program tersebut yakni budidaya kaliandra dan pengelolaan sampah berbasis maggot, disampaikan oleh Tim Unit CSR yang dipimpin Ilham Akbar kepada Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, di rumah dinasnya, Sabtu (21/6/2025) malam.
Wawako Maigus Nasir menyambut positif program budidaya kaliandra dan langsung menawarkan pemanfaatan lahan tidur di 11 kecamatan se-Kota Padang.
“Kami melihat ini peluang besar. Lahan tidur bisa dimanfaatkan untuk menanam kaliandra, bukan hanya untuk penghijauan, tapi juga untuk energi alternatif,” ujar Maigus.
Selain itu, program pengelolaan sampah berbasis maggot dinilai dapat menjadi solusi konkret masalah sampah rumah tangga yang selama ini belum teratasi maksimal.
Limbah organik yang diolah menjadi pakan maggot akan memiliki nilai ekonomi, dan limbah bekas maggot juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
Semen Padang bahkan menawarkan skema pemanfaatan sampah anorganik. Sampah yang telah dicacah bisa dijual kembali ke pabrik sebagai bahan bakar alternatif pengganti batu bara.
“Ini bukan proyek jangka pendek, tapi investasi jangka panjang untuk kebersihan dan kesejahteraan warga Padang,” tegas Maigus.
Untuk mendukung inisiatif ini, Pemko Padang menargetkan setiap kecamatan memiliki minimal satu bank sampah dengan mesin pencacah pada 2026.
Dalam pertemuan tersebut, hadir pula sejumlah pejabat Pemko Padang, antara lain Asisten II Sekda Didi Aryadi, Kepala Bappeda Yenni Yuliza, Kepala Dinas Pertanian Yoice Yuliani, Kepala Dinas Sosial Heriza Syafani, Kepala Dinas Perikanan Alfiadi, Kepala DLH Fadelan Fitra Masta, serta para camat.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang, Fauzan Ibnovi, menyatakan dukungan penuh terhadap program ini dan menyebut Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes MP) dapat menjadi motor penggerak.
“Bisnis maggot, pengolahan sampah, hingga kaliandra memiliki model yang jelas dan pasarnya ada. Sinergi seperti ini ideal, manfaat ekonominya bisa langsung dirasakan warga,” ujar Fauzan.
PT Semen Padang pun siap menjadi pembeli utama panen kaliandra sebagai bahan bakar alternatif. “Kami siap menjadi offtaker. Kayu hasil panen akan kami serap untuk kebutuhan energi di pabrik,” jelas Ilham Akbar.
Selain itu, uji coba budidaya maggot sebagai pakan ikan nila juga telah dilakukan. Hasilnya menunjukkan pertumbuhan ikan tetap optimal dengan biaya pakan yang jauh lebih murah.
“Masalah utama budidaya ikan itu harga pakan yang mahal. Maggot ini solusinya, ada multiplier effect dari sampah yang diolah,” tambah Ilham.
Tak hanya itu, PT Semen Padang juga memaparkan sejumlah program tanggung jawab sosial lainnya. Di antaranya Program Beasiswa Anak Nagari (Bangsa) yang bekerja sama dengan Politeknik Negeri Padang (PNP), memberikan beasiswa penuh kepada 25 anak dari sekitar perusahaan.
Program lainnya mencakup penguatan guru MDA/MDTA, pengembangan Geosite Gua Kelelawar Padayo, revitalisasi budidaya ikan gariang, budidaya kopi Bantjah, Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting (Genting), program disabilitas, hingga Program Basinergi Mambangun Nagari (BMN).
Forum Nagari sebagai penggerak program BMN telah berjalan sejak 2015 dan telah mendukung 985 program dengan total dana Rp31,71 miliar.
“Sejak berdiri, Semen Padang sudah mengalokasikan Rp31,71 miliar untuk mendukung program-program BMN,” ungkap Ilham.
Dengan berbagai program ini, PT Semen Padang menegaskan komitmennya terhadap pemberdayaan masyarakat dan pencapaian Kota Padang yang bersih, makmur, dan mandiri secara energi. (*)
Editor : Hendra Efison