Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Usaha Setrika Arang di Padang, Rul Tanjung Bertahan di Tengah Modernisasi

Adetio Purtama • Jumat, 3 Oktober 2025 | 10:39 WIB

Rul Tanjung saat menyetrika pakaian pelanggang menggunakan setrika arang di Pasar Raya Padang, kemarin
Rul Tanjung saat menyetrika pakaian pelanggang menggunakan setrika arang di Pasar Raya Padang, kemarin
PADEK.JAWAPOS.COM—Di tengah perkembangan teknologi dan dominasi setrika listrik maupun uap, masih ada usaha tradisional yang bertahan dengan cara lamanya. Adalah Rul Tanjung, 66, , warga Padang, yang sejak tahun 1991 hingga kini tetap menggeluti usaha jasa penggosokan pakaian dengan menggunakan setrika arang.

Usaha tersebut berlokasi di lantai dua Pasar Raya Padang, tepatnya di kawasan Padang Teater. Setiap hari, Rul menghabiskan waktunya melayani pelanggan yang datang untuk merapikan pakaian.

Menurut Rul, meski zaman sudah berubah, setrika arang masih memiliki keunggulan dibandingkan setrika listrik. “Kalau setrika listrik itu gampang mati kalau air padam, panasnya tidak bisa stabil. Sedangkan arang ini api bertahan, tekanannya kuat. Cocok untuk kain yang keras,” ujar Rul, Kamis (2/10).

Tarif jasa penggosokan yang dipatok bervariasi, mulai dari Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu per potong untuk pakaian rumahan. Sementara kain yang lebih tebal atau sulit digarap dikenakan biaya lebih tinggi.

Meski hasil yang diperoleh tidak selalu besar, Rul mengaku pendapatan dari usahanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Omzet yang didapat bergantung pada jumlah pelanggan yang datang dan jenis kain yang digarap. “Tidak menentu, tapi cukup lah untuk kebutuhan hidup,” ujarnya.

Pelanggan utama Rul umumnya berasal dari kalangan penjahit atau tailor. Mereka sering menggunakan jasanya untuk menyelesaikan pesanan dalam jumlah banyak. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, kondisi tidak seramai dulu.

“Kalau tailor sepi, saya juga ikut sepi. Kadang ada yang bawa borongan, seribu lembar atau lima ratus lembar. Kalau ada itu, baru kerjaan banyak. Tapi kalau harian, ya lihat-lihat saja,” kata Rul.

Selain berkurangnya pelanggan, Rul juga menghadapi tantangan dari sisi bahan bakar. Arang, yang menjadi inti dari pekerjaannya, kini semakin sulit didapatkan dan harganya terus naik.

“Kini arang susah dicari, mahal pula. Itu tantangan yang berat. Kalau bahan bakar sulit, ya kerjaan juga ikut terhambat,” jelasnya.

Meski menghadapi tantangan tersebut, Rul tetap bertahan. Ia menegaskan akan terus melanjutkan usaha ini selama masih ada orang yang membutuhkan jasanya. Baginya, profesi tersebut bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga menjaga warisan tradisi yang sudah jarang ditemukan.

Di tengah dominasi setrika listrik dan uap, jasa setrika arang masih diminati sebagian orang, terutama untuk kain tebal dan pakaian tertentu. “Kalau kain keras, setrika listrik tidak sanggup. Hanya arang yang bisa,” tambahnya.

Rul juga berharap pemerintah atau pihak terkait memberi perhatian pada usaha kecil tradisional seperti miliknya. Menurutnya, meski sederhana, usaha ini ikut membantu roda perekonomian di lingkungan pasar.

Dengan penuh ketekunan, ia terus menjaga bara arang di dalam setrikanya. Bara yang menyala itu seakan menjadi simbol semangatnya yang tidak pernah padam untuk bertahan, meski tantangan datang silih berganti. (mg8)

Editor : Adetio Purtama
#modernisasi #pasar raya padang #Setrika arang #padang