Melalui program pengabdian masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) yang dipimpin oleh Dr Susi Evanita MS, berbagai pelatihan kewirausahaan dan pemasaran digital berhasil membuka peluang ekonomi baru bagi anggotanya.
Program ini melibatkan tim dosen UNP yakni Rita Syofyan SPd MPdE dan Prof Yasmir Syukur, serta sejumlah mahasiswa sebagai fasilitator dan pendamping digital.
Kegiatan difokuskan pada peningkatan kapasitas ekonomi dan wawasan kewirausahaan anggota majelis taklim yang sebagian besar terdiri dari ibu rumah tangga, pensiunan, dan perempuan muda.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin majelis taklim menjadi ruang pemberdayaan yang mandiri, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga keberadaannya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat,” ujar Dr. Susi Evanita dalam keterangannya.
Berbagai pelatihan digelar secara bertahap, mulai dari kewirausahaan, manajemen usaha sederhana, hingga strategi pemasaran digital.
Peserta juga mengikuti workshop berbasis praktik langsung untuk mengasah keterampilan produksi kuliner khas seperti rendang belut dan rendang ikan, tata rias, serta kerajinan sulaman berupa tas dan dompet.
Produk-produk tersebut kemudian dikembangkan dengan identitas merek “Noeris” (Nurul Islam) dan mulai dipasarkan melalui media sosial dengan sistem pre-order.
Dukungan strategi branding dan kemasan menarik membuat produk yang semula dikonsumsi internal kini mulai dikenal masyarakat sekitar dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Selain itu, anggota majelis taklim juga dilatih dalam manajemen usaha sederhana agar aktivitas produksi berjalan lebih terorganisir dan berkelanjutan.
Program ini mendorong peningkatan kepercayaan diri dan pola pikir wirausaha yang lebih modern.
Beberapa anggota bahkan telah memperoleh tambahan penghasilan dari hasil penjualan produk mereka.
Ketua tim pengabdian, Dr Susi Evanita, menegaskan bahwa capaian program sudah sesuai target, namun penguatan masih diperlukan di beberapa aspek.
“Kami akan terus mendampingi, terutama dalam legalitas merek, sertifikasi halal, izin edar, dan optimalisasi pemasaran digital melalui marketplace,” katanya.
Keberhasilan Majelis Taklim Nurul Islam menjadi contoh bahwa lembaga keagamaan juga bisa berperan sebagai motor penggerak ekonomi umat.
Melalui sinergi antara spiritualitas, keterampilan, dan teknologi digital, program ini menunjukkan bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai religius dan kebutuhan zaman.
Dengan semangat kolaborasi dan pendampingan berkelanjutan, Majelis Taklim Nurul Islam diharapkan menjadi model inspiratif bagi majelis taklim lain di Sumatera Barat, bahkan di Indonesia, dalam mengembangkan potensi ekonomi berbasis komunitas.(*)
Editor : Hendra Efison