Selama lebih dari 10 tahun, bengkel tambal ban beratap terpal itu menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarganya.
“Dulu saya tidak punya biaya untuk sewa tempat, jadi buka saja di pinggir jalan ini. Meski sederhana, pelanggan tetap datang,” ujar Yasmanto, Rabu (29/10/2025).
Ia menuturkan, usaha tambal bannya bermula dari pengalaman membantu seorang teman yang mengalami kecelakaan.
Setelah memperbaiki mobil temannya, ia diberi sepeda motor bekas yang kemudian diubah menjadi becak, hingga akhirnya bisa membuka bengkel sendiri.
Setiap hari, Yasmanto membuka bengkel dari pagi hingga malam. Tarif jasa yang ia tawarkan tergolong terjangkau: Rp15 ribu untuk satu lubang ban motor dan Rp25 ribu untuk ban mobil.
“Pelanggan saya kebanyakan pengendara yang lewat dan warga sekitar,” jelasnya. Meski hanya bermodal peralatan sederhana, ia tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik.
Selain tambal ban, Yasmanto juga melayani isi angin dan perbaikan ban tipis dengan menambalnya menggunakan ban bekas.
Keberadaan bengkel tambal ban seperti milik Yasmanto dinilai sangat membantu masyarakat, terutama pengendara yang mengalami kendala di jalan.
“Saya merasa tertolong, karena ban motor saya bocor dan tidak perlu jauh-jauh mencari bengkel lagi,” ujar Warsan (58), salah satu pelanggan.
Di tengah panasnya aspal dan deru kendaraan yang tiada henti, bengkel kecil milik Yasmanto menjadi bukti bahwa usaha kecil masih memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat kota.(fadli zikri/cr6)
Editor : Hendra Efison