PADEK.JAWAPOS.COM—Peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Sumatera Barat kini memasuki fase yang lebih mengkhawatirkan. Jika sebelumnya didominasi kalangan dewasa, kini jaringan narkoba disebut telah merambah hingga ke kelompok usia remaja dan anak-anak.
Fenomena ini mencuat setelah dua remaja diamankan oleh Tim Rajawali Satresnarkoba Polresta Padang karena diduga terlibat dalam peredaran narkotika beberapa waktu lalu.
Sosiolog Universitas Negeri Padang (UNP) Erianjoni menyebut keterlibatan usia muda dalam jaringan narkoba bukanlah hal baru, namun kini semakin meluas dan sistematis.
“Selama ini banyak yang menganggap bisnis narkoba dijalankan oleh orang dewasa. Faktanya, pengedar sudah melibatkan anak-anak dan remaja karena pemakainya juga meningkat di usia itu,” ujarnya kepada Padang Ekspres, Rabu (5/11).
Menurut Erianjoni, kelompok usia muda kerap dimanfaatkan karena memiliki jaringan sosial yang luas dan kemampuan berinteraksi yang tinggi di lingkungan sebaya.
“Dalam jaringan pengedar, mereka dipakai karena dianggap lebih mudah bergerak dan jarang terendus aparat. Selain itu, banyak dari mereka tidak menyadari bahwa sudah dijadikan bagian dari rantai peredaran narkoba,” jelasnya.
Ia menilai, kebijakan pencegahan yang selama ini difokuskan kepada kalangan dewasa perlu segera diubah. “Kepolisian dan pihak terkait harus mulai mengarahkan pendekatan ke kelompok usia anak dan remaja. Ini penting karena fakta di lapangan menunjukkan anak-anak sudah dijadikan agen pengedar,” katanya.
Lebih lanjut, Erianjoni menekankan bahwa kontrol keluarga menjadi faktor paling krusial dalam mencegah keterlibatan anak dalam penyalahgunaan narkoba. “Banyak kasus berawal dari keluarga yang tidak peduli, membiarkan anak bergaul tanpa pengawasan. Padahal, keluarga merupakan benteng pertama dari segala bentuk pengaruh negatif,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar aktivitas kelompok remaja seperti komunitas motor, geng sekolah, atau perkumpulan nongkrong harus mendapat perhatian khusus.
“Perkumpulan semacam itu sangat rawan dimasuki jaringan pengedar. Saat ini pengaruh narkoba bahkan sudah menjangkau usia SMP, bahkan SD. Ini bukan isu kecil, tapi ancaman serius bagi masa depan generasi kita,” ujarnya dengan nada prihatin.
Sebagai langkah pencegahan dini, Erianjoni mendukung pelaksanaan tes urin di sekolah. “Tes urin perlu diterapkan terutama bagi siswa SMA, bahkan SMP kelas akhir. Ini bukan untuk menghukum, tapi untuk mendeteksi sejak dini sejauh mana paparan narkoba di kalangan pelajar,” katanya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa Sumatera Barat termasuk daerah dengan tingkat penyalahgunaan narkoba cukup tinggi, terutama di wilayah pedesaan yang selama ini dianggap aman.
“Banyak kasus muncul karena kurangnya pengawasan sosial di masyarakat pedesaan. Kita sering lupa bahwa jaringan pengedar bergerak di mana saja, bukan hanya di kota,” ungkapnya.
Erianjoni pun mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk bersinergi dalam memerangi narkoba. “Ketika narkoba sudah menyasar anak-anak, maka keluarga, sekolah, masyarakat, dan aparat harus bergerak bersama. Kita perlu membangun ketahanan sosial dan keluarga agar generasi muda tidak hilang karena narkoba,” pungkasnya. (yud)
Editor : Adetio Purtama