Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Aroma Kelapa Panggang: Kisah Afrizal dan Yurnida, Penjual Kue Singgang di Jalan Andalas

Muhammad Reza Bayu Permana • Jumat, 7 November 2025 | 05:10 WIB

Afrizal dan Yurnida telah tiga dekade menjaga cita rasa otentik Kue Singgang di Jalan Andalas Padang, kuliner tradisional khas Minangkabau. (Foto: Muhammad Reza Bayu Permana/Padeks)
Afrizal dan Yurnida telah tiga dekade menjaga cita rasa otentik Kue Singgang di Jalan Andalas Padang, kuliner tradisional khas Minangkabau. (Foto: Muhammad Reza Bayu Permana/Padeks)
PADEK.JAWAPOS.COM—Asap tipis mengepul dari tungku arang di pinggir Jalan Andalas, Padang, sore itu.

Aroma kelapa panggang yang hangat perlahan menyelimuti udara, mengundang langkah pejalan kaki berhenti sejenak.

Di balik kepulan asap itu, tampak sepasang suami istri paruh baya bekerja dalam ritme yang terlatih — Afrizal (60) dan Yurnida (54).

Sejak awal tahun 1990-an, pasangan ini telah setia menjaga warisan kuliner khas Minangkabau: Kue Singgang, atau yang oleh sebagian orang disebut Kue Bika.

Bagi mereka, kue berbahan dasar kelapa ini bukan sekadar jajanan pasar, melainkan bagian dari identitas dan kenangan masa kecil masyarakat Sumatera Barat.

Afrizal tampak cekatan menuang adonan ke dalam cetakan tanah liat yang disusun rapi di atas bara api.

Sementara Yurnida dengan sabar membolak-baliknya hingga permukaannya berubah kecokelatan.

Dari tungku sederhana itu, aroma gurih manis berpadu dengan kehangatan bara, menghasilkan cita rasa otentik yang tak tergantikan oleh teknologi modern.

“Rahasia rasanya ada di proses panggangnya,” ujar Afrizal, sambil tersenyum di sela aktivitasnya.

“Kalau dipanggang di oven, hasilnya beda. Tidak ada wangi kelapa bakarnya,” lanjutnya.

Setiap pagi, pasangan ini menyiapkan bahan dari rumah — parutan kelapa segar, tepung, gula, dan sedikit garam.

Tak ada bahan pengawet, tak ada tambahan modern. Semua serba alami, sebagaimana mereka pelajari dari orang tua di kampung halaman.

Baca Juga: Maigus Nasir Tegaskan Pembaruan Data PKH untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran di Padang

Menariknya, meski dikenal luas, kue ini memiliki sebutan berbeda di berbagai daerah Sumatera Barat.

“Di Solok, orang menyebutnya Singgang. Di sini (Padang), lebih sering dibilang Bika,” jelas Afrizal sembari melayani pelanggan yang datang silih berganti.

Lapak mereka sederhana, hanya berpayung tenda kecil dan meja kayu. Namun, bagi banyak orang, tempat itu ibarat penjaga rasa — pengingat masa lalu dan simbol kesetiaan pada tradisi.

Tiga dekade berlalu, bara api di tungku Afrizal dan Yurnida tak pernah padam. Mereka tetap menjaga nyala cita rasa yang diwariskan dari generasi ke generasi.(CR2)

Editor : Hendra Efison
#Kue Bika tradisional #Afrizal dan Yurnida Andalas #Kue Singgang Padang #Aroma Kelapa Panggang #kuliner Minangkabau