Didirikan sejak 2014, JSTC hadir sebagai respons atas maraknya perburuan liar penyu dan pengambilan telur di wilayah tersebut. Gerakan ini dipelopori oleh Pati Hariyose, 47, pegiat lingkungan yang kini menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pasir Jambak.
Yose mengaku terdorong memulai konservasi karena rasa prihatin mendalam terhadap kondisi pantai yang dulunya menjadi lokasi favorit penyu bertelur namun kerap menjadi ajang perburuan.
“Dulu, penyu dibunuh dengan cara dibelah perutnya, telurnya diambil untuk dijual. Saya prihatin sekali, populasi penyu semakin sedikit,” ujar Yose kepada Padang Ekspres, Selasa (11/11).
Berbekal kepedulian dan modal pribadi, Yose mulai melakukan konservasi secara swadaya. Hingga kini, JSTC telah berhasil menyelamatkan sekitar 60 ribu butir telur penyu dari empat spesies berbeda, yaitu Penyu Lekang, Penyu Hijau, Penyu Sisik, dan Penyu Belimbing yang tergolong langka.
Selain menjaga populasi, JSTC juga berfungsi sebagai pusat edukasi dan ekowisata, dengan misi meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran penyu dalam ekosistem laut. Penyu diketahui berperan penting sebagai pengendali populasi ubur-ubur, penyubur perairan melalui kotorannya, serta indikator kesehatan terumbu karang.
Sebagai bentuk kontribusi ekologis lebih luas, JSTC juga melakukan restorasi lingkungan melalui penanaman mangrove di lahan bekas tambang ilegal.
Berbeda dari pendekatan represif, Yose dan tim JSTC mengedepankan metode persuasif dalam melindungi sarang penyu. Masyarakat yang menemukan telur atau sarang penyu diberikan kompensasi uang sebesar Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu per sarang, tergantung kualitasnya. Dana tersebut berasal dari swadaya pribadi Yose yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang IT dan ekonomi.
Meski Pemerintah Kota Padang telah menetapkan penyu sebagai ikon kota, Yose menilai perhatian terhadap perlindungan satwa tersebut masih minim. Ia menyoroti masih maraknya praktik jual beli telur penyu yang luput dari pengawasan.
“Penyu adalah ikon Kota Padang, tapi upaya melindunginya kurang. Masih banyak jual beli telur penyu yang tidak ditindak. Kami melihat Pemko malah saling lempar tanggung jawab dengan Pemerintah Provinsi,” kritiknya.
Lebih lanjut Yose berharap pemerintah dan masyarakat dapat bersinergi menjaga keberlangsungan populasi penyu. Menurutnya, upaya konservasi bukanlah pekerjaan singkat karena penyu memiliki siklus hidup panjang dan ancaman perburuan terus ada.
“Untuk memastikan penyu tetap eksis, kita harus saling bersinergi, baik pemerintah, masyarakat, maupun kami para pegiat wisata,” tegasnya.
Sebagai bagian dari kegiatan ekowisata, JSTC rutin menggelar program adopsi dan pelepasan tukik (anak penyu) ke laut. Pelepasan biasanya dilakukan pada sore hari menjelang matahari terbenam, satu hingga dua hari setelah menetas, guna menghindari ancaman predator dan aktivitas kapal nelayan.
Ia menyebut, kini, Jambak Sea Turtle Camp bukan sekadar penangkaran, tetapi simbol perjuangan masyarakat Pasir Jambak dalam menjaga alam. Dengan dukungan semua pihak, JSTC diyakini mampu menjadi ikon ekowisata berkelanjutan sekaligus contoh nyata harmonisasi antara konservasi dan pariwisata di Kota Padang. (cr3)
Editor : Adetio Purtama