Di antara deru mesin dan klakson yang saling bersahut, seorang pria berompi berdiri tegak. Di tangannya, sehelai bendera merah berkibar, menjadi isyarat sunyi di rel kereta api yang tak memiliki palang.
Namanya Rizki Rahmad Putra (39). Setiap hari, sejak pukul 13.00 hingga azan Magrib berkumandang, ia berdiri di titik rawan itu.
Hujan membasahi rompinya, terik matahari membakar kulitnya, namun langkahnya tak surut.
Ia mengatur arus kendaraan, mengangkat tangan ketika kereta akan melintas, memastikan roda besi raksasa itu melaju tanpa merenggut nyawa siapa pun.
Rizki bukan petugas resmi. Ia adalah relawan.
Polio yang dideritanya sejak usia empat tahun membatasi gerak tubuhnya. Namun di tengah keterbatasan itu, ia memilih berdiri di jalur kehidupan orang lain.
Warga Padang Sarai, tempat tinggalnya kini, mengenalnya sebagai “penjaga rel tanpa palang”.
Tiga tahun lalu, ia menerima permintaan warga untuk membantu mengatur lalu lintas di perlintasan tersebut.
Saat itu, ia baru kembali dari kampung halamannya di Payakumbuh, setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan tanpa hasil.
“Waktu itu saya tidak punya pekerjaan. Ditawari seperti ini, saya terima dengan rasa syukur,” ucap Rizki.
Tak ada gaji tetap. Tak ada seragam resmi. Sumber penghasilannya hanya dari pemberian sukarela para pengendara—lembaran uang kecil yang diselipkan, atau sekadar anggukan terima kasih.
Namun tidak semua kisah berjalan hangat.
“Ada yang marah-marah karena saya berhentikan saat kereta mau lewat,” katanya pelan.
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Kadang banyak juga pengendara mobil yang melemparkan uang begitu saja. Terasa rendah saya, serasa tidak dihargai sama sekali.”
Pernah ia berpikir, mungkin perlakuan itu muncul karena tubuhnya yang tak sempurna di mata banyak orang.
Tapi di antara bising mesin dan tatapan sinis, ia belajar mengusap dada, menelan perih, dan tetap bertahan. Bagi Rizki, berhenti bukan pilihan.
Di sela-sela tugasnya, ada momen-momen kecil yang menguatkannya. Pengendara yang menyelipkan nasi bungkus di tangannya.
Ibu-ibu yang memberinya sembako usai melintas. Anak-anak yang melambaikan tangan saat kereta lewat.
Ia menyimpan uang receh dan lembaran kertas yang ia dapat dalam sebuah tabungan kecil. Tujuannya sederhana namun penuh harapan: membuka usaha makanan dan minuman.
“Saya kumpulkan modal. Tidak mungkin selamanya saya berdiri di sini,” ujarnya.
Sebagian dari uang itu juga ia sisihkan untuk membantu orang tuanya. Baginya, berdiri di tengah persimpangan bukan hanya tentang keselamatan orang lain, tetapi juga tentang martabat dan masa depan.
Di bawah langit mendung atau terik, Rizki terus berdiri dengan bendera merahnya. Bukan sebagai petugas berseragam, melainkan sebagai manusia yang berjuang melawan takdir, waktu, dan pandangan yang kerap meremehkan.
“Saya cuma ingin diperlakukan seperti manusia yang sedang bekerja,” katanya pelan.(CR4)
Editor : Hendra Efison