Salah satu pedagang yang masih konsisten menjual kue pancong adalah Mar’aman (33), yang berjualan di kawasan Pasar Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah.
Mar’aman mengaku telah berjualan kue pancong sejak 2012. Awalnya ia berjualan di lingkungan sekolah, lalu berpindah ke kawasan Pasar Lubuk Buaya sejak pandemi Covid-19. Saat ini, ia berjualan mulai pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB.
“Awalnya saya jualan di sekolah, setelah Covid baru mangkal di sini. Sudah enam tahun di sini,” kata Mar’aman saat ditemui, Senin (17/11/2025).
Kue pancong dibuat dari bahan tepung beras, santan, parutan kelapa, dan garam. Proses pembuatannya masih menggunakan cetakan besi tradisional dan tanpa bahan pengawet. Mar’aman menyebut resep adonan dipelajarinya dari perantau asal Medan.
“Saya belajar dari orang Medan. Dari sebelum menikah sudah jualan pancong sampai sekarang sudah punya dua anak,” ujarnya.
Di tengah menjamurnya jajanan kekinian, permintaan kue pancong disebutnya tidak menurun. Dalam sehari, omzet penjualannya berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu.
“Sekarang sehari bisa Rp400 ribu sampai Rp500 ribu,” kata Mar’aman.
Salah satu pembeli, Jingga Elkhanza (21), mengaku menyukai kue pancong karena teksturnya.
“Teksturnya lembut, serat kelapanya terasa, dan cukup mengenyangkan,” ujarnya.
Kue pancong masih diminati karena cita rasa gurih khas kelapa dan sensasi hangat saat dikonsumsi, terutama pada pagi hari. (CR6)
Editor : Hendra Efison