PADEK.JAWAPOS.COM—Curah hujan tinggi yang melanda Sumatera Barat beberapa hari terakhir berdampak pada aktivitas pendidikan tinggi.
UIN Imam Bonjol Padang terpaksa meliburkan perkuliahan tatap muka menyusul bencana longsor yang terjadi di kawasan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (Febi) beberapa hari lalu.
Keputusan meliburkan sementara aktivitas perkuliahan itu diambil setelah mempertimbangkan tingkat keselamatan mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan di tengah cuaca ekstrem yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pihak kampus menilai situasi saat ini belum cukup kondusif untuk menggelar kegiatan belajar mengajar secara normal.
Juru Bicara UIN Imam Bonjol, Afrinal, 58, saat dikonfirmasi pada Kamis (27/11) menyampaikan bahwa seluruh kegiatan perkuliahan dialihkan ke platform daring hingga kondisi kembali stabil. Menurutnya, langkah ini menjadi pilihan paling aman bagi seluruh civitas akademika.
“Perkuliahan kami liburkan sementara dan dialihkan ke online. Beberapa karyawan masih tetap masuk untuk memastikan operasional kampus berjalan, terutama yang terkait dengan penanganan darurat,” ujarnya menjelaskan.
Di tengah liburnya aktivitas tatap muka, upaya pemulihan terus dikebut. Pihak kampus telah berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait untuk mempercepat proses normalisasi, khususnya di lingkungan FEBI yang mengalami kerusakan cukup parah akibat longsor.
Wakil Rektor II UIN IB, Lukmanul Hakim menyebut pemerintah kota juga telah meninjau lokasi kejadian untuk melihat langsung tingkat kerusakan dan langkah lanjutan. Ia menegaskan bahwa kampus tidak tinggal diam dan terus mengupayakan percepatan pemulihan.
Namun situasi di lapangan semakin kompleks ketika longsor susulan kembali terjadi pada Kamis siang. Longsor tersebut menghantam area dekat gerbang utama kampus, membuat sebagian badan jalan tertutup material tanah dan menyulitkan akses keluar masuk kendaraan.
Kondisi itu diperburuk oleh hujan intensitas tinggi yang terus mengguyur sejak pagi. Kemungkinan pergerakan tanah lanjutan pun menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga kampus yang berada di area sekitar.
Menyikapi situasi tersebut, pihak kampus segera memperketat akses masuk. Mahasiswa dilarang mendekati kawasan rawan longsor, baik di area FEBI maupun di sekitar gerbang utama. Pihak kampus juga meminta mahasiswa untuk mematuhi seluruh imbauan resmi yang disampaikan melalui kanal komunikasi kampus.
Mahasiswa juga diminta untuk terus berkoordinasi dengan dosen masing-masing terkait perubahan jadwal dan teknis pelaksanaan pembelajaran daring. Kampus memastikan seluruh informasi resmi akan diperbarui secara berkala untuk menghindari simpang siur.
Hingga Kamis sore, kondisi cuaca belum menunjukkan perbaikan berarti. Pihak kampus menyatakan masih menunggu perkembangan beberapa hari ke depan untuk memutuskan langkah selanjutnya. Evaluasi terhadap kemungkinan dibukanya kembali kuliah tatap muka akan dilakukan apabila situasi dianggap benar-benar aman.
Meski demikian, pimpinan kampus menegaskan bahwa keselamatan sivitas akademika menjadi prioritas utama. Di tengah tingginya intensitas hujan yang melanda Sumbar sejak awal November, kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi seperti longsor menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Ia berharap seluruh mahasiswa dan staf yang tidak berkepentingan mendesak agar tetap berada di tempat aman dan menghindari area rawan. Langkah kolektif ini dinilai penting untuk menekan risiko korban jiwa di tengah kondisi alam yang belum bersahabat. (cr7)
Editor : Adetio Purtama