Kerusakan infrastruktur irigasi di sejumlah wilayah membuat ribuan hektare sawah kini terancam kekeringan dan berpotensi gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, menyebutkan, tiga kecamatan menjadi kawasan paling terdampak akibat bencana besar tersebut. Kecamatan Kototangah, Pauh, dan Kuranji kini menghadapi gangguan serius karena irigasi yang rusak tidak lagi mampu mengalirkan air ke lahan persawahan.
“Sekarang kondisi irigasi Gunung Nago serta Bendungan Kototuo rusak, kiri kanannya tidak bisa mengaliri air ke sawah. Di sekitar Bendungan Kototuo ada sekitar 1.200 hektare sawah, yang terdampak sekitar 800 hektare,” ujar Yoice, Selasa (2/12).
Ia menjelaskan, kerusakan pada dua irigasi utama itu menyebabkan distribusi air tidak dapat berjalan normal. Saluran yang sebelumnya menjadi sumber pengairan kelompok tani kini tidak berfungsi sama sekali.
“Untuk Bendungan Gunung Nago, kondisinya hampir sama dengan Bendungan Kototuo. Kiri dan kanan sudah tidak bisa mengairi sawah lagi ke irigasi persawahan kelompok tani dan petani,” katanya.
Akibat kerusakan tersebut, Yoice menyebutkan sekitar 2.900 hektare sawah dari total 4.358 hektare lahan di Kota Padang terancam mengalami kekeringan. Dampaknya berpotensi meluas, terutama jika musim hujan tidak merata atau perbaikan irigasi membutuhkan waktu panjang.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Padang tidak tinggal diam. Saat ini, Dinas Pertanian tengah menyurati Balai Wilayah Sungai (BWS) V sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk menangani rehabilitasi dua bendungan besar tersebut. “Kita tengah berkoordinasi dengan BWS V karena persoalan teknis ini berada di bawah kewenangannya,” tuturnya.
Sebagai langkah darurat, kelompok tani mengusulkan pemanfaatan pompa berukuran besar untuk menaikkan air ke saluran irigasi setelah dilakukan pembersihan dari sedimen. Namun Yoice menekankan bahwa upaya tersebut hanya bersifat sementara.
“Untuk Bendungan Kototuo Kanan dan Gunung Nago, kita perlu saran teknis dari BWS V apakah solusi tersebut memungkinkan,” ujarnya.
Selain ancaman kekeringan, dampak lain yang tengah dihadapi petani adalah risiko puso atau gagal panen. Kondisi ini masih dalam pemantauan petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT).
“Merekalah yang nantinya akan memberikan rekomendasi apakah potensi puso bertambah. Data terus diperbarui, dan sejauh ini kita belum bisa memastikan apakah akan puso,” jelasnya.
Yoice menambahkan bahwa saat ini pihaknya tengah menyiapkan proposal kerusakan dan dampak bencana dengan berkoordinasi bersama Dinas PUPR Kota Padang serta BWS V. Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat proses rehabilitasi, mengingat Bendungan Kototuo dan Gunung Nago berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Sumbar.
“Kami berharap upaya ini dapat mempercepat pemulihan sektor pertanian dan mencegah kerugian lebih besar bagi petani,” tutupnya. (yud)
Editor : Adetio Purtama