Mengki Kurniawan, Pauh—
Peristiwa yang terjadi beberapa jam setelah waktu Subuh itu berlangsung sangat cepat. Air bah menghantam permukiman dengan kekuatan besar sehingga rumah-rumah yang berada tepat di tepi aliran sungai tidak memiliki kesempatan untuk bertahan.
Di antara bangunan yang tersapu bersih adalah Mushala Jami'aturrahmah, tempat warga biasa melaksanakan ibadah dan kegiatan keagamaan.
Namun, di tengah kehancuran yang masif, muncul satu kisah yang dianggap warga sebagai keajaiban. Seorang imam surau bernama Jos, 60, menjadi saksi hidup betapa dahsyatnya bencana itu. Rumahnya adalah satu dari sedikit bangunan yang tetap berdiri, bahkan tidak dimasuki air sama sekali meski berada tak jauh dari lokasi yang terdampak paling parah.
Jos, yang sehari-hari mengabdi sebagai imam di Mushala Jami'aturrahmah, mengaku telah merasakan firasat buruk sejak beberapa hari sebelum bencana terjadi. Intensitas hujan yang tinggi sejak Selasa (25/11) membuatnya lebih sering memantau kondisi sungai dari waktu ke waktu.
“Sejak Selasa itu, hati saya sudah tidak enak. Hujan turun tiada henti, dan saya terus-menerus memantau kondisi sungai,” kenangnya ketika ditemui pada Kamis (4/12) di sela-sela kegiatannya memperbaiki fondasi rumah.
Kekhawatiran yang dirasakannya ternyata menjadi nyata pada Jumat dini hari. Tidak lama setelah ia menunaikan salat Subuh, Jos mendengar suara gemuruh hebat yang datang dari arah sungai. Suara itu begitu asing, bahkan bagi dirinya yang telah puluhan tahun tinggal di Batubusuk. Saat itulah ia menyadari bahwa galodo telah datang.
Dalam kondisi panik, Jos berlari membangunkan warga yang masih banyak terlelap. Ia mengetuk pintu-pintu rumah warga sambil berteriak memperingatkan bahwa bahaya sudah di depan mata. Namun, begitu cepatnya air naik membuat warga tidak sempat menyelamatkan harta benda, hanya diri masing-masing yang bisa dibawa menjauh dari lokasi bencana.
Jos menyaksikan langsung bagaimana rumah-rumah yang berdiri di sepanjang bantaran sungai hancur diterjang air. Dalam hitungan detik, bangunan-bangunan itu lenyap terbawa arus. Mushalla Jami'aturrahmah, tempatnya memimpin shalat dan kegiatan mengaji, ikut tersapu tanpa menyisakan apa pun.
Yang membuat Jos tersentak adalah kenyataan bahwa rumahnya justru tetap berdiri kokoh. Dari sekian banyak bangunan yang rusak parah atau hanyut diterjang arus, rumahnya tidak tersentuh air sama sekali. Satu-satunya kerusakan terjadi pada bagian fondasi belakang yang sedikit tergerus arus.
Baca Juga: Taspen Padang Serahkan 108 Paket Bantuan Sembako untuk Korban Bencana
“Sangat menyakitkan melihat semua itu, rumah-rumah warga hilang sekejap. Saya sangat bersyukur rumah saya tidak disentuh galodo,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Bagi Jos, selamatnya rumah itu menjadi isyarat dari Yang Maha Kuasa. Ia mengaku yakin bahwa bencana ini adalah bagian dari teguran agar masyarakat kembali memperkuat hubungan spiritual. Ia menyesalkan bahwa beberapa waktu terakhir, banyak warga jarang datang ke surau untuk beribadah.
“Mungkin ini teguran dari Allah SWT agar kita kembali mengingat-Nya,” ujarnya dengan suara bergetar.
Meski memiliki rumah lain yang lebih aman dan berada tidak jauh dari Semen Padang Hospital (SPH) Bypass, Jos memilih untuk tetap tinggal dan tidak pergi dari Batu Busuk. Alasannya jelas: ia ingin membantu warga yang kehilangan tempat tinggal. Rumahnya yang selamat itu kini dihibahkannya sebagai posko pengungsian sementara untuk warga sekitar.
Tidak berhenti sampai di situ, Jos berencana menjadikan rumah tersebut sebagai pusat pendidikan agama bagi anak-anak Batubusuk setelah situasi pulih. Ia ingin rumah itu menjadi tempat belajar mengaji dan memperdalam pengetahuan agama bagi generasi muda di kampung tersebut.
“Saya berharap tempat ini bisa menjadi pusat belajar mengaji dan mendalami agama bagi generasi muda kita, agar mereka lebih dekat dengan Allah,” tegasnya.
Melalui musibah besar ini, Jos mengajak masyarakat Batu Busuk untuk mengambil hikmah. Ia menyerukan agar warga memperkuat iman dan memperbanyak ibadah sebagai benteng dari segala musibah yang mungkin terjadi di masa mendatang. (*)
Editor : Adetio Purtama