Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kisah Indra, Perajin Layang-layang Legendaris: Bertahan karena Minim Kompetitor

Mengki Kurniawan • Senin, 8 Desember 2025 | 10:26 WIB

Indra, perajin dan penjual layangan, sedang membuat layangan di lapaknya, beberapa waktu lalu.
Indra, perajin dan penjual layangan, sedang membuat layangan di lapaknya, beberapa waktu lalu.

Deretan layang-layang aneka warna tampak tersusun rapi, siap menari di langit biru Kota Padang. Di balik pemandangan itu, berdiri seorang pria lanjut usia bernama Indra, 65. Selama lebih dari tiga dekade, ia setia menjaga tradisi permainan rakyat melalui kerajinan layang-layang yang ditekuninya sejak tahun 1992. Seperti apa kisahnya?

Mengki Kurniawan, Padang—

Indra bukan sekadar penjual layang-layang biasa. Ia adalah perajin sekaligus pedagang yang mendedikasikan hidupnya pada kerajinan tradisional tersebut. Di saat banyak permainan modern dan gawai mulai menggeser permainan rakyat, Indra justru memilih bertahan dengan kesederhanaan profesinya.

“Ini pekerjaan yang mudah, tidak ada tekanan dari siapa pun,” ujarnya saat ditemui di lapaknya, beberapa waktu lali.

Setiap hari, ia membuka lapaknya di sekitar kawasan Tarandam, tidak jauh dari tempat tinggalnya di Jalan DR. Wahidin II, Ganting Parak Gadang, Padang Timur.

Ia mulai berjualan sejak pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 18.00 WIB, tentu dengan catatan cuaca sedang bersahabat. Jenis layang-layang yang dijualnya pun cukup khas, yakni layang-layang darek dan layang-layang maco, dua jenis yang masih menjadi favorit masyarakat lokal.

Sebagian besar layang-layang yang dijual merupakan hasil rakitan tangannya sendiri. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan sekitar 10 buah layang-layang. Proses pembuatannya dilakukan dengan teliti, mulai dari merangkai rangka bambu, memasang kertas, hingga proses finishing.

Salah satu bahan penting yang digunakan adalah lem khusus, yang menurutnya didatangkan langsung dari Sijunjung, dengan agen pengambilan di kawasan Seberang Padang.

Kualitas bahan dan ketelitian dalam perakitan inilah yang membuat layang-layang buatan Indra dikenal kuat dan diminati pelanggan. Meski demikian, ia mengakui bahwa saat ini kondisi penjualan sedang mengalami penurunan dibandingkan masa-masa kejayaannya dahulu.

“Paling ramai itu tahun 2005. Waktu itu hampir delapan bulan dalam setahun orang candu main layangan,” kenangnya.

Jika dulu layang-layang hanya menjadi permainan musiman, kini permainan tersebut relatif dapat ditemui sepanjang tahun, meskipun intensitas peminatnya tidak selalu stabil.

Hari-hari paling ramai bagi Indra biasanya terjadi pada akhir pekan, khususnya Sabtu dan Minggu. Pada momen tersebut, permintaan sering meningkat sehingga ia kerap mengajak teman untuk membantu merakit layang-layang agar stok tetap tersedia.

Harga layang-layang buatannya dibanderol sekitar Rp15.000 per buah. Mayoritas pembelinya adalah anak-anak sekolah dasar, yang menunjukkan bahwa permainan tradisional ini masih memiliki tempat tersendiri di hati generasi muda, meski harus bersaing dengan teknologi modern.

Namun, perjalanan panjang Indra sebagai perajin layang-layang tidak selalu mulus. Cuaca menjadi tantangan terbesar, khususnya saat hujan turun dalam waktu yang lama.

“Kendala itu kalau hujan, apalagi hujan yang lama beberapa waktu lalu, itu betul-betul membuat penjualan terhenti,” keluhnya.

Dalam kondisi tersebut, ia terpaksa menutup lapak lebih awal atau bahkan tidak berjualan sama sekali karena layang-layang sangat bergantung pada cuaca cerah dan angin.

Sebelum menekuni usaha layang-layang, ia pernah berjualan makanan ringan di kawasan Pasar Raya Padang. Ia kemudian memilih beralih menjadi perajin layang-layang karena pekerjaan ini dinilai lebih sederhana dan memiliki tingkat persaingan yang minim.

Hingga kini, ia menjadi salah satu dari sedikit perajin sekaligus penjual layang-layang yang masih bertahan puluhan tahun di Kota Padang. (*)

Editor : Adetio Purtama