M Reza Bayu, Padang—
Bagi mahasiswa Universitas Andalas, Aminah bukan hanya sekadar pedagang makanan. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan panjang kampus yang berdiri di perbukitan Limau Manis tersebut.
Aroma khas lotek racikannya telah akrab di hidung mahasiswa dari berbagai angkatan, mulai dari mahasiswa baru hingga para alumni.
Aminah memulai usahanya belasan tahun silam dengan tujuan sederhana, yakni menyambung hidup. Dengan keterbatasan modal dan peralatan sederhana, ia memberanikan diri berjualan lotek di lingkungan kampus.
Siapa sangka, ketekunannya menjaga kualitas rasa justru membuat dagangannya mampu bertahan di tengah menjamurnya tren kuliner modern yang silih berganti hadir di sekitar kampus.
Dalam kesehariannya, Aminah tidak pernah bekerja seorang diri. Ia selalu didampingi sang suami yang setia membantu menyiapkan bahan-bahan dagangan, mulai dari menggoreng kerupuk hingga memastikan persediaan sayuran tetap segar setiap hari. Kebersamaan pasangan suami istri ini menjadi pemandangan hangat yang kerap disaksikan di area Business Center.
Mereka berbagi peran secara alami. Sang suami bertanggung jawab pada persiapan teknis, sementara Aminah fokus pada racikan bumbu kacang yang menjadi kunci cita rasa lotek buatannya. Kekompakan itulah yang menjadi salah satu kekuatan usaha mereka tetap bertahan hingga kini.
Aminah mengungkapkan, berjualan di lingkungan kampus memiliki dinamika tersendiri. Ada masa ramai ketika perkuliahan sedang aktif, di mana dagangannya bisa habis dalam hitungan jam. Namun, ada pula masa sepi yang menuntut kesabaran ekstra, terutama saat libur panjang mahasiswa.
“Kalau mahasiswa libur, pendapatan pasti menurun drastis. Tapi itulah seninya berjualan di kampus. Kami belajar menabung saat ramai untuk menutupi kebutuhan saat sepi,” ujar Aminah dengan senyum tulus.
Bagi pasangan ini, lotek bukan hanya soal mencari nafkah harian. Dari hasil berjualan itulah mereka menyekolahkan anak-anak dan membangun masa depan keluarga. Setiap porsi yang terjual menjadi bagian dari perjuangan mereka mewujudkan mimpi-mimpi di rumah.
Selama 15 tahun berjualan, Aminah telah menyaksikan ribuan mahasiswa datang sebagai pendatang dan pergi sebagai sarjana. Tidak jarang, para alumni yang berkunjung kembali ke Unand menyempatkan diri mampir ke kedainya sekadar bernostalgia dengan cita rasa lotek yang tidak pernah berubah.
Kedekatan emosional dengan pelanggan menjadi salah satu alasan Aminah tetap bertahan hingga kini. Baginya, mahasiswa yang makan di kedainya sudah seperti anak sendiri. Banyak dari mereka yang berbagi cerita singkat tentang perkuliahan, kehidupan, hingga rencana masa depan sambil menunggu pesanan disiapkan.
Meski usianya hampir memasuki kepala lima, semangat Aminah tak menunjukkan tanda-tanda surut. Ia percaya, kejujuran dalam berdagang dan keikhlasan bekerja bersama pasangan menjadi resep utama panjang umur usahanya di Business Center Universitas Andalas.
Perjalanan Aminah menjadi potret nyata tentang dedikasi dan kerja keras pelaku usaha kecil. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, ia dan suaminya tetap setia pada cobek batu dan sayuran hijau mereka, membuktikan bahwa ketekunan selalu berbuah manis. (*)
Editor : Adetio Purtama