Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Melihat Perjuangan Zahril Jajakan Buah Lokal: Dari Kebun Sendiri ke Pinggir Jalan

Mengki Kurniawan • Senin, 29 Desember 2025 | 10:10 WIB

Zahri, penjual buah keliling, saat menunggu pembeli.
Zahri, penjual buah keliling, saat menunggu pembeli.
Pagi masih basah oleh sisa embun saat Zahri, 60, mulai menyusun dagangannya di atas becak motor. Pria yang akrab disapa Zal ini bukan sekadar pedagang buah keliling biasa. Di atas kendaraan roda tiganya, berjejer aneka buah segar hasil kebun keluarga yang ia rawat sendiri di kawasan Lori, Lubukminturun. Seperti apa ceritanya?

Mengki Kurniawan, Padang—

Sirsak ranum, berbagai jenis pisang, lemon, jeruk nipis, hingga jeruk bali tersusun rapi di atas becak motor yang setiap hari menemaninya mencari nafkah. Seluruh buah tersebut dipetik langsung dari kebun milik orang tuanya yang telah ditanami sejak 1997 silam.

“Semua ini hasil kebun sendiri di Lori. Saya petik langsung supaya masih segar. Kalau ambil sendiri, saya tahu mana buah yang sudah pas matangnya,” ujar Zal saat ditemui di kawasan Jalan Batang Kapur, Alai Parak Kopi, Padang Utara.

Setiap hari, Zal menempuh perjalanan dari rumahnya di Siteba menuju lokasi mangkal di depan Leica Home Studio. Sejak selepas Subuh hingga pukul 18.00 WIB, ia setia menawarkan buah-buah lokal kepada warga yang melintas.

Bagi Zal, menjaga kualitas merupakan kunci utama bertahan di tengah gempuran toko buah modern. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk merawat kebun peninggalan orang tuanya, yang menjadi sumber penghidupan hingga kini.

“Buah ini warisan orangtua. Ada kepuasan tersendiri saat orang bilang buahnya enak, karena ini hasil pohon yang ditanam ayah dan ibu saya,” tuturnya dengan nada bangga.

Harga yang ditawarkan Zal pun relatif terjangkau. Pisang dijual mulai Rp 10.000 hingga Rp 20.000 per sisir, sementara lemon dibanderol Rp 20.000 per kilogram. Ia mengaku menyesuaikan harga dengan ukuran dan kondisi buah agar tetap bersaing.

“Kalau pisang lihat sisirnya. Lemon dan jeruk nipis saya jaga harganya supaya pelanggan tetap,” jelasnya.

Di antara dagangannya, jeruk bali dan lemon menjadi primadona. Banyak pelanggan membeli bukan sekadar untuk konsumsi, tetapi juga untuk kesehatan.

“Paling laku jeruk bali dan lemon. Katanya bagus buat kesehatan. Karena dari kebun sendiri, pembeli lebih percaya,” katanya.

Sebelum menetap di Jalan Batang Kapur, Zal merupakan pedagang berpengalaman. Ia pernah berjualan selama dua tahun di Pasar Tanah Kongsi dan lima tahun di Pasar Raya Padang.

Namun kini, ia memilih berjualan keliling dan mangkal di pinggir jalan. “Sekarang lebih nyaman begini. Lebih dekat dengan pembeli,” ucapnya.

Keberadaan Leica Home Studio di belakang lokasi mangkalnya turut memberi dampak positif. Saat studio ramai, dagangan Zal pun ikut laris. “Kalau studio lagi ramai foto, biasanya pembeli buah juga ramai,” ujarnya.

Minggu menjadi waktu paling ramai baginya. Banyak warga yang berolahraga atau berjalan santai di kawasan Alai Parak Kopi menyempatkan diri singgah membeli buah.

Tak hanya berjualan, Zal juga dikenal memiliki jiwa sosial. Ia kerap membantu pedagang kecil lain dengan memberi modal usaha. “Kadang saya modalkan orang jual kelapa muda. Kalau ramai, kita semua dapat rezeki,” katanya.

Namun, beberapa waktu terakhir, bencana banjir bandang di Kota Padang berdampak besar pada pendapatannya. Arus pembeli menurun drastis, membuat omzet hariannya anjlok hingga 70 persen.

“Biasanya bisa dapat sejuta sehari. Setelah banjir, jauh turun. Orang-orang masih fokus bereskan rumah,” keluhnya.

Meski demikian, Zal tetap bertahan dengan konsistensi kualitas, termasuk menjual kerupuk buatan sang istri. Ia berharap kondisi segera membaik.

“Semoga cuaca membaik dan tidak ada musibah lagi. Saya akan tetap di sini, jual buah segar dari kebun sendiri,” tutupnya. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Jajakan #pinggir jalan #kebun #buah #padang