Mengki Kurniawan, Padang—
Tekanan psikologis ini dirasakan oleh sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri di Kota Padang. Mereka mengaku mulai merasa jenuh dan tertekan akibat ekspektasi lingkungan sekitar yang menuntut kelulusan dalam waktu tertentu.
Adi Nazif Putra, 23, mahasiswa jurusan Peternakan semester sembilan di salah satu perguruan tinggi negeri di Padang, mengatakan tekanan terbesar justru datang dari lingkungan terdekat, yakni keluarga.
Ia mengaku sedih karena hingga kini belum mampu menyelesaikan studinya, sementara sang adik sudah bersiap memasuki bangku kuliah.
“Keluarga sering sekali bertanya kapan tamat. Rasanya cukup tertekan, apalagi kalau melihat unggahan teman-teman yang merayakan kelulusan di media sosial. Rasanya seperti tertinggal jauh,” ujar Adi, Rabu (7/1).
Untuk mengatasi tekanan tersebut, Adi memilih menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas positif agar tidak terus larut dalam rasa sedih dan kecemasan.
Pengalaman serupa dirasakan Ozy Kurniawan, 25, mahasiswa jurusan Peternakan. Sebagai mahasiswa yang usianya telah memasuki pertengahan kepala dua, pertanyaan terkait jadwal wisuda menjadi hal yang hampir setiap hari ia dengar dari keluarga maupun rekan sejawat.
“Kalau sudah mulai merasa tertekan ditanya-tanya terus, saya biasanya langsung beribadah, olahraga, atau mencari kesibukan lain. Itu cara saya supaya pikiran tidak buntu karena tuntutan orang lain,” ungkap Ozy.
Sementara itu, Ivo Ardyusri, 23, mahasiswi jurusan Administrasi Publik, menilai pertanyaan “kapan wisuda” dari teman-teman terkadang terasa tidak tulus. Ia merasa tidak semua orang yang bertanya benar-benar peduli pada proses dan kendala yang sedang ia hadapi.
“Yang paling terasa itu pertanyaan dari keluarga. Kalau dari teman, saya merasa mereka tidak benar-benar peduli. Saya memilih tidak melihat story media sosial teman yang sedang wisuda supaya kesehatan mental saya tetap terjaga,” tuturnya.
Kisah lain datang dari Ulfa Dwi Sakinah, 22, mahasiswi jurusan Hukum. Meski sering mendapat tekanan dari keluarga untuk segera menyelesaikan kuliah, Ulfa memiliki cara tersendiri untuk mengelola stres yang dirasakannya.
“Tekanan paling besar memang dari keluarga. Kalau sudah sangat lelah dan stres, saya biasanya main game atau menangis di dalam kamar untuk melepas beban. Itu cara saya supaya bisa tenang lagi,” kata Ulfa.
Menurut Ulfa, menangis bukanlah tanda menyerah, melainkan bentuk penerimaan dan validasi atas rasa lelah yang ia rasakan selama proses perkuliahan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perjalanan akademik setiap mahasiswa memiliki tantangan yang berbeda. Kendala penelitian, komunikasi dengan dosen pembimbing, hingga persoalan pribadi kerap menjadi faktor penghambat yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Keempat mahasiswa tersebut sepakat bahwa dukungan dari orang terdekat sangat dibutuhkan. Namun, mereka berharap dukungan itu disampaikan dengan cara yang lebih empatik dan tidak menambah beban mental.
“Boleh saja mengingatkan kami untuk cepat tamat, tapi tolong perhatikan kondisi mental kami juga. Peduli itu bagus, tapi jangan sampai menyakiti perasaan. Setiap orang punya jalan dan masalah masing-masing,” pungkas mereka.
Dukungan emosional yang tepat dan lingkungan yang suportif dinilai jauh lebih efektif dalam membantu mahasiswa menyelesaikan studinya dibandingkan tekanan verbal yang terus-menerus.
Menghargai proses setiap individu menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa di masa-masa akhir perkuliahan. (*)
Editor : Adetio Purtama