Kondisi tersebut dipicu oleh buruknya sistem drainase yang menyebabkan aliran air tersumbat. Akibatnya, sungai yang menjadi muara pembuangan limbah warga kehilangan sirkulasi, sehingga sampah dan endapan limbah terus menumpuk.
Selain merusak estetika lingkungan, kondisi ini juga menurunkan kualitas udara di sekitar permukiman dan fasilitas umum.
Yasir (47), warga setempat, mengungkapkan bahwa permasalahan pencemaran sungai ini telah berlangsung cukup lama.
Ia menyebut air yang tidak mengalir menyebabkan sisa detergen dan limbah domestik membusuk di tempat hingga menimbulkan aroma tidak sedap.
“Kondisi sungai yang sangat kotor ini disebabkan oleh sistem drainase yang buruk dan kesadaran masyarakat yang masih kurang dalam menjaga lingkungan,” ujar Yasir saat ditemui di lokasi, Jumat (23/1/2026).
Ia juga menyayangkan masih adanya warga yang membuang sampah langsung ke sungai. Menurutnya, letak sungai yang berdekatan dengan sekolah membuat siswa dan guru SDN 29 Purus harus menghirup udara tidak sehat setiap hari.
“Ini sangat mengganggu, apalagi lokasinya dekat sekolah. Kondisi ini jelas mengancam kesehatan anak-anak dan masyarakat. Ada potensi munculnya penyakit seperti demam berdarah dan gangguan pernapasan,” tambahnya.
Selain menimbulkan bau menyengat, genangan air kotor tersebut dikhawatirkan menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, yang berpotensi memicu penyebaran penyakit menular.
Warga menilai, jika tidak segera dilakukan pengerukan dan pembersihan, kawasan Purus berisiko menjadi titik rawan wabah penyakit.
Warga pun mendesak Pemerintah Kota Padang untuk segera melakukan perbaikan drainase serta pengerukan lumpur dan sampah di aliran sungai.
Baca Juga: Atasi Krisis, Air Segera Dialirkan ke Irigasi Gunung Nago
Selain pembenahan infrastruktur, edukasi lingkungan dan penegakan aturan terhadap perilaku membuang sampah sembarangan dinilai menjadi kunci utama agar pencemaran tidak terus berulang. (cr3)
Editor : Adetio Purtama