Pantauan di lokasi menunjukkan ubin pedestrian hancur dan terangkat akibat desakan akar pohon pelindung yang membesar, membentuk lubang di sejumlah titik trotoar.
Kerusakan tersebut berada di kawasan perkantoran utama Kota Padang yang memiliki aktivitas lalu lintas cukup padat setiap harinya.
Warga setempat, Dino (27), menyayangkan kondisi tersebut dan menilai trotoar di pusat kota seharusnya mendapat perawatan rutin dari pemerintah.
“Sangat menyedihkan melihat trotoar di pusat kota rusak parah. Seharusnya jalur pedestrian di kawasan sepenting ini mendapatkan perawatan rutin,” ujar Dino, Minggu (25/1/2026).
Ia menyarankan perbaikan dilakukan tanpa menebang pohon pelindung, dengan desain trotoar yang menyesuaikan alur pertumbuhan akar.
“Perbaikannya harus mengikuti alur akar pohon tanpa merusaknya. Kita butuh estetika sekaligus fungsi,” katanya.
Menurut Dino, kondisi infrastruktur pedestrian yang rusak berpotensi merusak citra Kota Padang, khususnya di mata wisatawan.
“Jika dibiarkan, ini jadi citra buruk bagi pelancong. Bagaimana orang mau jalan-jalan dengan nyaman kalau fasilitasnya hancur?” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan trotoar tetap penting meski tidak semua warga terbiasa berjalan kaki.
“Setiap warga berhak mendapatkan fasilitas kota yang rapi dan nyaman,” tegas Dino.
Akibat kerusakan tersebut, pejalan kaki terpaksa turun ke bahu jalan dan berbagi ruang dengan kendaraan bermotor yang melaju kencang.
Hingga Minggu (25/1/2026), belum terlihat adanya tindakan perbaikan dari instansi terkait terhadap kondisi trotoar di Jalan Rasuna Said.(CR3)
Editor : Hendra Efison