Kegiatan ini menjadi forum strategis bagi pemerintah pusat dan daerah bersama FKUB se-Indonesia untuk memperkuat sinergi dalam menjaga persatuan bangsa dan keharmonisan sosial di masyarakat.
Wali Kota Padang menegaskan bahwa kerukunan umat beragama merupakan pilar penting pembangunan kota. Ia menjelaskan bahwa Padang telah lama tumbuh sebagai kota multikultural.
Menurutnya, keberagaman itu terjalin secara historis dan kultural, tercermin melalui istilah Urang Padang Jalan Barampek yang menggambarkan kolaborasi empat etnis besar—Minang, Nias, Tionghoa, dan India—yang hidup berdampingan dan bergotong royong membangun kota.
Fadly Amran menjabarkan bahwa karakter multikultural Padang telah terbentuk sejak abad ke-17 ketika kota ini berkembang sebagai kota pelabuhan yang dihuni berbagai etnis dan pemeluk agama.
*Interaksi yang berlangsung di bidang sosial, budaya, dan ekonomi membentuk kehidupan masyarakat yang majemuk," katanya.
Ia juga memaparkan berbagai praktik penguatan kerukunan yang dijalankan Pemerintah Kota Padang bersama FKUB, antara lain peninjauan pelaksanaan ibadah lintas agama, pernyataan sikap bersama menjelang bulan suci Ramadhan, aksi sosial lintas suku dan agama, serta pembinaan kerohanian bagi pelajar dari beragam latar belakang keagamaan.
Dalam Rakornas tersebut, Wali Kota Padang juga menyampaikan pengalaman penanganan konflik sosial di Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah.
"Konflik tersebut diselesaikan melalui pendekatan dialogis dan kolaboratif bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, FKUB, serta unsur Forkopimda," tambahnya.
Ia menegaskan bahwa kecepatan respons pemerintah daerah, dukungan tokoh agama, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam meredam konflik dan memulihkan harmoni sosial. (*)
Editor : Heri Sugiarto