Salah seorang pedagang emas di Toko Sumbar Riau, Feri (30), membenarkan kondisi pasar emas yang dinamis dan sulit diprediksi dalam jangka pendek.
“Saat ini harga emas sudah berangsur naik lagi. Padahal, beberapa hari lalu sempat anjlok sampai Rp400 ribu per gram. Sekarang trennya mulai kembali ke atas,” ujar Feri saat ditemui di tokonya.
Rincian Harga Emas Terkini
Feri menjelaskan, harga emas pada Kamis mengalami kenaikan sekitar Rp50.000 per gram dibandingkan perdagangan hari sebelumnya. Adapun rincian harga yang berlaku saat ini, yakni:
- Emas murni 24 karat: Rp2.720.000 per gram
- Emas kadar 75 persen: Rp2.450.000 per gram
- Emas kadar 70 persen: Rp2.350.000 per gram
Menurutnya, pergerakan harga emas saat ini berlangsung sangat cepat, bahkan dalam hitungan jam.
“Kalau dibandingkan dengan harga kemarin, hari ini ada kenaikan Rp50 ribu per gram. Pergerakannya memang sangat cepat,” jelasnya.
Fluktuasi Harga Lebih Tajam
Feri menilai fluktuasi harga emas kali ini terasa jauh lebih tajam dibandingkan periode sebelumnya. Jika biasanya kenaikan atau penurunan harga hanya berkisar Rp10.000 hingga Rp20.000 per gram, kini selisih pergerakan harga bisa mencapai Rp100.000 per gram.
“Sekarang naik turunnya emas itu bisa di kisaran Rp100 ribu. Ini sangat berbeda dengan sebelumnya,” katanya.
Prediksi Harga hingga Ramadhan
Menatap pergerakan pasar ke depan, Feri optimistis tren kenaikan harga emas masih akan berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan. Ia menilai meningkatnya permintaan menjelang bulan puasa dan Hari Raya turut menjadi faktor pendorong.
Baca Juga: TK Islam Raudhatul Jannah: Sentra Multimedia dan Perpustakaan, Literasi Digital PAUD
“Saya memprediksi harga emas akan terus berangsur naik sampai Ramadhan. Biasanya permintaan meningkat dan secara global harga juga cenderung naik,” ungkapnya.
Transaksi Justru Lesu
Meski harga menunjukkan tren kenaikan, aktivitas jual beli emas di Pasar Raya Padang justru terpantau lesu. Feri mengungkapkan bahwa volume transaksi di tokonya menurun dibandingkan akhir bulan lalu.
“Walaupun harga naik, jual beli saat ini terasa cukup sepi. Banyak masyarakat masih menahan diri untuk bertransaksi,” tuturnya.
Ia menduga kondisi tersebut dipicu oleh faktor psikologis masyarakat yang khawatir terhadap ketidakstabilan harga.
“Masyarakat takut beli mahal, lalu besok harga turun lagi. Jadi mereka memilih menunggu sampai harga benar-benar stabil,” pungkas Feri. (cr3)
Editor : Adetio Purtama