Penurunan ini terjadi setelah lonjakan permintaan tinggi pada H-2 Idulfitri, sementara harga daging tetap stabil.
Salah seorang pedagang, Edwar (55), menyebut aktivitas jual beli kini menurun drastis. Menurutnya, berakhirnya perayaan Lebaran membuat konsumsi daging segar di tingkat rumah tangga ikut menurun.
“Sekarang kondisi pasar memang sedang sepi. Harga sebenarnya masih stabil, tapi daya beli masyarakat untuk daging sapi turun jauh dibandingkan beberapa hari sebelum Lebaran,” ujar Edwar di lapaknya.
Harga Stabil, Pembeli Menurun
Edwar menjelaskan, harga daging sapi kualitas nomor satu saat ini berada di kisaran Rp150.000 hingga Rp160.000 per kilogram. Sementara untuk kualitas nomor dua atau bagian tulang rusuk dijual Rp120.000 hingga Rp130.000 per kilogram.
Meski harga tidak mengalami kenaikan, jumlah pembeli yang datang tetap jauh berkurang dibandingkan menjelang Lebaran. Ia mengungkapkan, saat ini penjualan hanya berkisar 20 hingga 30 kilogram per hari.
Angka tersebut jauh berbeda dengan kondisi H-2 Lebaran, di mana penjualan bisa mencapai ratusan kilogram karena tingginya kebutuhan masyarakat untuk keperluan memasak hidangan hari raya seperti rendang.
Lonjakan Penjualan Bersifat Musiman
Menurut Edwar, kondisi ini merupakan pola yang biasa terjadi setiap tahun. Permintaan daging meningkat signifikan menjelang Lebaran, lalu menurun setelah kebutuhan masyarakat terpenuhi.
“Kami memaklumi kondisi ini karena memang sudah momennya. Masyarakat butuh banyak daging saat mau Lebaran saja, setelah itu biasanya pasar akan sepi kembali untuk beberapa waktu,” katanya.
Harga Daging Dinilai Masih Tinggi
Di tengah lesunya penjualan, Edwar juga menyoroti harga daging sapi di Indonesia yang dinilai masih tinggi. Ia menyebut harga daging di dalam negeri lebih mahal dibandingkan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Menurutnya, tingginya harga menjadi beban bagi pedagang maupun konsumen. Masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli daging, sementara pedagang tidak memiliki ruang untuk menurunkan harga secara signifikan.
Rantai Pasok Berpengaruh
Untuk memenuhi kebutuhan dagangan, Edwar bersama rekannya Hengki mengambil pasokan dari sejumlah titik di Kota Padang, seperti Pasar Raya, kawasan Siteba, dan Tabing.
Rantai pasokan yang panjang serta biaya logistik disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingginya harga di tingkat pedagang eceran. Meskipun pasokan tersedia, harga dasar dari pusat pemotongan sudah cukup tinggi.
Saat ini, pedagang berharap kondisi pasar kembali normal dalam beberapa pekan ke depan. Mereka menantikan pulihnya daya beli masyarakat agar perputaran modal usaha dapat kembali berjalan lancar.(*)
Editor : Hendra Efison