Kabut Asap Mengganas, Masker Diburu Warga dan Harga Naik Rp5.000

Endang Pribadi • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 07:00 WIB
Warga Kota Padang mulai membeli masker dan obat batuk menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap, Senin (7/9/2026).
Warga Kota Padang mulai membeli masker dan obat batuk menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap, Senin (7/9/2026).

PADEK.JAWAPOS.COM— Memburuknya kualitas udara di Kota Padang mulai berdampak pada perdagangan masker. Permintaan masker di sejumlah toko obat melonjak sekitar 50 persen, sementara harga beberapa jenis masker naik hingga Rp5.000 per kotak.

Berdasarkan pemantauan, nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Padang berada pada kisaran 214 hingga 299 dan masuk kategori sangat tidak sehat.

Kondisi tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya konsentrasi PM2.5 atau partikel debu halus di udara.

Kabut asap kiriman dari provinsi tetangga turut memperburuk kualitas udara, ditambah emisi dari berbagai aktivitas lokal.

Meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap paparan polusi membuat permintaan masker di sejumlah toko obat ikut meningkat.

Salah seorang pemilik toko obat, Corry, mengatakan permintaan masker saat ini mengalami kenaikan sekitar 50 persen dibandingkan kondisi normal sebelum kualitas udara memburuk.

“Masker jenis duck atau yang sering disebut masker duckbill, dari harga Rp15 ribu per kotak, sekarang naik menjadi Rp20 ribu. Untuk masker KN94 dari Rp7 ribu isi sepuluh, sekarang naik menjadi Rp10 ribu,” kata Corry, Senin (7/9/2026).

Warga Mulai Memburu Masker

Menurut Corry, lonjakan permintaan terjadi setelah Pemerintah Kota Padang mewajibkan masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan menyusul memburuknya kualitas udara.

Masker kini menjadi salah satu barang yang banyak dicari warga, terutama mereka yang masih harus beraktivitas di luar rumah.

Selain masker, penjualan obat-obatan untuk mengatasi gejala flu dan batuk juga mengalami peningkatan.

Corry menyebut permintaan obat flu dan batuk naik sekitar 30 persen dibandingkan sebelum kondisi kabut asap melanda Kota Padang.

“Lonjakan penjualan juga terjadi di obat flu dan batuk. Pada saat ini naik menjadi 30 persen sebelum kabut asap,” ujarnya.

Peningkatan penjualan tersebut menunjukkan mulai munculnya dampak kondisi udara terhadap aktivitas masyarakat, termasuk kebutuhan untuk mengurangi risiko paparan polusi.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar

Pemerintah Kota Padang mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada kondisi tidak sehat.

Imbauan terutama ditujukan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, asma, maupun penyakit jantung.

Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang mampu membantu menyaring partikel halus seperti PM2.5 dianjurkan.

Jenis masker yang dapat digunakan antara lain N95, KN95, KF94, maupun masker bedah sesuai kebutuhan dan ketersediaan.

Masyarakat juga diminta memperbanyak aktivitas di dalam ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat.

Fenomena peningkatan permintaan masker juga mulai terlihat di perdagangan daring.

Sejumlah masyarakat dilaporkan memburu masker melalui berbagai platform e-commerce sebagai perlindungan dari paparan partikel di udara.

Di sejumlah daerah, kondisi tersebut bahkan memunculkan keluhan konsumen terkait kenaikan harga hingga pembatalan pesanan secara sepihak oleh penjual.

Bagi masyarakat Kota Padang, memburuknya kualitas udara kini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari dan kebutuhan kesehatan.

Kenaikan harga masker hingga Rp5.000 per kotak menjadi salah satu dampak yang mulai dirasakan warga seiring meningkatnya kebutuhan perlindungan dari paparan udara tercemar.(*)

Editor : Hendra Efison
kabut asap Padang ISPU Padang harga masker kualitas udara