Hal tersebut disampaikan oleh Kabag Perekonomian dan Sumberdaya Alam, Putra Dewangga, Jumat (8/4/2022).
Dijelaskan Putra, hal ini terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya; euforia kebebasan pascapandemi dan peningkatan permintaan barang di bulan Ramadan serta menjelang Idulfitri 1443 H.
Disebutkannya, penyebab utama naiknya harga barang dan jasa di Indonesia, termasuk di Kota Padangpanjang adalah isu global kenaikan harga minyak dunia yang dipicu perang Rusia-Ukraina. Rusia merupakan salah satu produsen minyak utama dunia, eksportir minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi.
Sanksi ekonomi Amerika Serikat berupa pelarangan ekspor minyak membuat berkurangnya pasokan minyak dunia. Sehingga harga minyak dunia melambung tinggi.
“Dampaknya, BBM dalam negeri terpaksa dinaikkan karena minyak olahan (BBM) Indonesia sebagian besar diimpor dari Singapura dan Malaysia. Walaupun Indonesia juga penghasil minyak, namun produksi minyak mentah Indonesia baru 700 ribu barel/hari. Sedangkan kebutuhan BMM Indonesia sangat besar, yaitu mencapai 1,4 juta barel/hari,” paparnya.
Dengan kondisi demikian, ulas Putra, tidak ada jalan lain, jika harga minyak mentah dunia naik, maka BBM dalam negeri pasti akan mengalami kenaikan pula. “Dampak ikutannya adalah semua biaya produksi barang dan jasa dalam negeri juga otomatis akan mengalami kenaikan. Karena adanya peningkatan tambahan biaya energi dan transportasi," terang Putra. (*) Editor : Hendra Efison