Langkah ini diwujudkan melalui rapat koordinasi Gerakan Kebajikan Pancasila di Hall IKK Padangpariaman, Selasa (23/7/2025).
Anggota DPR RI Komisi XIII dari Fraksi PAN, H. Arisal Aziz, mengapresiasi kebijakan Bupati Padangpariaman yang membumikan nilai ABS-SBK dalam berbagai kebijakan daerah, mulai dari pelarangan hiburan malam melewati pukul 23.30 WIB, penguatan budaya gotong royong, hingga pelibatan tokoh masyarakat dalam musyawarah pembangunan.
“Ini adalah pengejawantahan ABS-SBK dan Pancasila dalam bentuk nyata. Bukan sekadar slogan, tetapi hidup dan dijalankan di tengah masyarakat,” ujar Arisal.
Acara ini dihadiri Bupati John Kenedy Azis bersama tokoh nasional, tokoh daerah, dan Direktur Advokasi BPIP Fuad Himawan.
Dalam sambutannya, Bupati John Kenedy Azis menegaskan bahwa gerakan kebajikan ini merupakan bentuk nyata pelaksanaan nilai ABS-SBK di tengah masyarakat.
“Nilai adat dan syariat harus terus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari karena merupakan warisan leluhur yang sejalan dengan kemanusiaan, gotong royong, dan toleransi sebagaimana termaktub dalam Pancasila,” ujarnya.
Bupati juga menekankan pentingnya peran relawan sebagai ujung tombak penjaga nilai ABS-SBK. “Dengan pendekatan humanis dan penuh kasih sayang, mari kita tanamkan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan gotong royong sebagai landasan kehidupan beradat dan bersyariat,” katanya.
Ia menambahkan bahwa setiap langkah pembangunan di Padangpariaman harus dilandasi nilai spiritual. “Mengamalkan ABS-SBK dan Pancasila bukan hanya pengabdian kepada daerah, tetapi juga ladang amal dan ibadah bagi kita semua,” tegasnya.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para relawan yang memperoleh pemahaman dan semangat baru untuk berkontribusi dalam pembangunan sosial di nagari masing-masing.
Melalui penguatan Gerakan Kebajikan Pancasila berbasis ABS-SBK, pemerintah daerah berharap nilai adat, syarak, dan Pancasila tetap menjadi panduan dalam membentuk masyarakat beradab, religius, dan berkepribadian Minangkabau.
Selain itu, para peserta dibekali materi mengenai komunikasi efektif, manajemen aksi sosial, dan etika relawan berbasis adat dan agama.
Diharapkan, relawan ini dapat menjadi agen perubahan yang menggerakkan kebaikan dan memperkuat identitas budaya serta spiritual masyarakat.(*)
Editor : Hendra Efison