Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Rumah Urut Ubek Patah Syamsudin di Sintoga, Wariskan Keahlian Turun-Temurun Pulihkan Tulang Pasien

Aris Prima Gunawan • Rabu, 12 November 2025 | 13:47 WIB

PENGOBATAN TRADISIONAL: Suasana Rumah Urut Ubek Patah Syamsudin di Nagari Toboh, kemarin. Biasanya di rumah ini tampak banyak kendaraan parkir saat pasien sedang ramai.
PENGOBATAN TRADISIONAL: Suasana Rumah Urut Ubek Patah Syamsudin di Nagari Toboh, kemarin. Biasanya di rumah ini tampak banyak kendaraan parkir saat pasien sedang ramai.

PADEK.JAWAPOs.COM-Bagi sebagian masyarakat, pengobatan tradisional melalui jasa urut masih menjadi pilihan utama dibandingkan tindakan medis modern.

Terutama bagi mereka yang mengalami terkilir, retak tulang, atau patah tulang tertutup. Tak heran jika hampir di setiap daerah muncul ahli urut dengan keahliannya masing-masing.

DI Kabupaten Padangpariaman, salah satu yang paling dikenal adalah Rumah Urut Ubek Patah Syamsudin di Nagari Toboh, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang (Sintoga).

Selama puluhan tahun, rumah urut itu telah menjadi rujukan banyak orang—tak hanya dari Padangpariaman, tapi juga dari berbagai daerah di Sumbar bahkan luar provinsi.

Reputasi itu bukan tanpa alasan. Syamsudin merupakan bagian dari keluarga besar ahli urut terkenal di daerah tersebut, yakni keturunan Haji Kaidir, nama yang sudah lama lekat dengan pengobatan tradisional tulang.

Seiring waktu, Syamsudin tak hanya membuka layanan urut, tetapi juga menyediakan fasilitas inap bagi pasien yang membutuhkan perawatan intensif.

Dua anaknya, Yuhendra dan Yulianto Firmansyah, turut membantu menjalankan usaha keluarga itu. Berkat keberadaan ruang inap tersebut, rumah mereka nyaris tak pernah sepi dari pasien—mulai dari warga lokal hingga pendatang dari provinsi tetangga.

Menurut Syamsudin, metode urut dengan sistem inap terbukti lebih efektif. “Dengan pasien tinggal di sini, kami bisa memantau perkembangannya setiap hari,” ujarnya, kemarin.

Pendekatan itu pula yang membuat para pasien merasa lebih aman dan nyaman selama proses pemulihan.

Salah satu pasiennya, Ali Asman, 43, warga Kota Pariaman, menjadi contoh keberhasilan metode ini. Akibat kecelakaan lalu lintas, Anasrul mengalami patah tulang di kaki kirinya. Alih-alih ke rumah sakit, ia memilih berobat ke tukang urut.

“Saya lebih percaya pengobatan urut. Kalau ke rumah sakit, rasanya menakutkan. Biasanya langsung dipasang pen besi,” ujarnya, yang juga bertugas sebagai anggota kepolisian di Pariaman.

Ia menambahkan, banyak temannya yang harus menggunakan pen logam pascaoperasi, dan merasa tidak nyaman karenanya. “Ada yang takut saat hujan petir, katanya pen di dalam tubuh terasa bergetar. Saya tak mau seperti itu,” katanya sambil tersenyum.

Menurut Ali, meski proses penyembuhan lewat urut cenderung lebih lama, hasilnya lebih alami dan minim efek samping. Ia bahkan pernah mengalami patah tulang di bahu beberapa tahun lalu, dan hingga kini kondisinya normal setelah diurut.

“Bahu saya sekarang baik-baik saja. Itu sebabnya saya percaya pada pengobatan tradisional,” ujarnya.

Salah seorang putra Syamsudin, Yuhendra, 47, mengakui bahwa keyakinan pasien menjadi faktor penting dalam penyembuhan. “Pengobatan urut ini soal kepercayaan. Banyak yang sudah sembuh total meski sebelumnya mengalami cedera cukup parah,” tuturnya.

Meski begitu, Yuhendra menegaskan, mereka hanya menangani pasien dengan patah tulang tertutup. “Kalau patah terbuka dan ada pendarahan, kami sarankan ke rumah sakit dulu,” jelasnya.

Untuk pasien dengan cedera serius, biasanya ia anjurkan menjalani pengobatan inap. “Kalau tinggal di sini, kami bisa kontrol kondisi pasien setiap saat. Asal mental dan fisiknya kuat, insya Allah bisa pulih,” katanya.

Dalam praktiknya, Yuhendra berusaha menjaga suasana santai saat mengurut, terutama untuk pasien anak-anak atau remaja. “Kalau pasien tegang, otot dan jaringan tubuh jadi kaku, susah diurut. Makanya saya selalu menghibur mereka dulu,” ucapnya.

Baginya, kemampuan mengurut bukan sekadar keterampilan, tetapi anugerah turun-temurun. “Keahlian ini sudah diwariskan dari nenek moyang kami. Tak bisa dipelajari lewat buku, tapi lewat kebiasaan dan keikhlasan membantu orang,” ujarnya dengan nada tenang.

Meski menguasai teknik urut tradisional, Yuhendra tak menafikan kemampuan tenaga medis. “Setiap metode punya keunggulan sendiri. Tapi kesembuhan juga tergantung semangat dan keyakinan pasien. Tugas kami hanya membantu,” tukasnya. (ARIS PRIMA GUNAWAN—Padangpariaman)

Editor : Novitri Selvia
#Rumah Urut Ubek Patah Syamsudin #Sintoga #jasa urut #nagari toboh gadang