Warga Korong Hilalanggadang dan Korong Padangtoboh menyebut kondisi JLDS saat ini rusak berat dan sulit dilalui, bahkan oleh kendaraan roda dua.
“Banyak jurang dan badan jalan rusak. Rasanya seperti kami tidak tinggal di pusat pemerintahan kabupaten,” kata Norman (43), warga Parikmalintang, Kamis (9/1/2026).
Norman menuturkan JLDS sejak awal direncanakan sebagai infrastruktur strategis untuk menunjang kawasan Ibu Kota Kabupaten (IKK) Padangpariaman di Parikmalintang.
Namun, ia menilai pengerjaannya berjalan setengah hati. Pendataran badan jalan kerap dilakukan, tetapi tidak pernah diikuti pengaspalan sehingga tanah kembali tergerus air.
“Ini jelas merugikan negara karena proyeknya tidak selesai,” ujarnya.
Keluhan juga disampaikan Risman (42), warga yang tinggal di sekitar trase JLDS.
Ia mengatakan lahan pertanian produktif miliknya telah dibebaskan untuk pembangunan jalan, tetapi hingga kini proyek tak menunjukkan perkembangan signifikan.
“Dulu kami yakin jalan ini akan mendongkrak ekonomi. Kalau begini, lebih baik lahan itu tetap digarap untuk bertani,” ungkapnya.
Menurut Risman, kondisi jalan justru lebih berbahaya dibanding sebelumnya.
“Dulu jalannya kecil tapi masih bisa dilewati. Sekarang timbunannya rusak dan tidak terawat, malah menyulitkan warga,” katanya.
Ia meminta pemerintah membuktikan komitmen pembangunan karena janji melalui baliho tidak sesuai kenyataan di lapangan.
Sebelumnya, Anggota DPRD Padangpariaman dari Fraksi PAN, Alam Syahri, juga menyoroti kerusakan jalan di depan Kantor Bupati Padangpariaman yang dinilai tidak layak dilalui.
Jalur tersebut merupakan akses utama menuju kantor nagari, kantor camat, kantor bupati, hingga fasilitas kesehatan.
“Kalau harus memutar lewat Lubuak Aluang, bisa bertambah sekitar satu jam,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala PUPR Padangpariaman, El Abdes Marsyam, menyampaikan bahwa Bupati telah mengusulkan kelanjutan pembangunan JLDS kepada Pemerintah Provinsi Sumbar dan Kementerian PUPR.
Ia menyebut pemerintah daerah terus mendorong percepatan agar jalur strategis itu segera dapat digunakan masyarakat.(apg)
Editor : Hendra Efison