Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Penutupan KKN Unand di Sikucua Timur Hadirkan Pertunjukan Silek Dongok

Muhammad Reza Bayu Permana • Selasa, 10 Februari 2026 | 14:49 WIB

KKN Reguler 1 UNAND 2026 Nagari Sikucua Timur Tampilkan Silek Dongok, Perkuat Pelestarian Budaya Minangkabau di Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padangpariaman.
KKN Reguler 1 UNAND 2026 Nagari Sikucua Timur Tampilkan Silek Dongok, Perkuat Pelestarian Budaya Minangkabau di Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padangpariaman.
PADEK.JAWAPOS.COM--Kamis, 5 Februari 2025, suasana berbeda terasa di pelataran Masjid Nurul Ikhlas, Kanagarian Sikucua Timur.

Malam itu, warna-warni kebersamaan tampak dari puluhan mahasiswa KKN Reguler I Universitas Andalas yang hadir dan menyatu bersama masyarakat untuk menyaksikan salah satu tradisi anak nagari.

Silek Dongok, warisan leluhur Nagari Sikucua Timur, ditampilkan di hadapan publik. Penampilan para anak silek tersebut benar-benar memukau warga yang memadati pelataran Masjid Nurul Ikhlas.

Nagari Sikucua merupakan salah satu nagari yang berada dalam wilayah administratif Kecamatan V Koto Kampung Dalam.

Nagari Sikucua sendiri terdiri dari beberapa jorong. Secara geografis, Nagari Sikucua terletak di dekat tapal batas Kabupaten Padangpariaman dengan Kabupaten Agam. Jumlah penduduknya mencapai 1.453 jiwa, yang terdiri atas 765 laki-laki dan 688 perempuan.

Silek Dongok secara rumpun termasuk ke dalam Silek Tuo di Ranah Minangkabau. Seni bela diri tradisional ini memiliki karakter dan ciri yang agak berbeda dibandingkan silek tuo lainnya di Minangkabau.

Salah satu pembeda utama terletak pada posisi tubuh pesilat. Silek Dongok dimainkan dengan posisi tubuh yang relatif lebih rendah dibandingkan posisi tubuh normal pesilat.

Sesuai dengan arti kata dongok (menunduk), tubuh pesilat cenderung merendah. Kuda-kuda sebagai benteng pertahanan terlihat sangat dekat dengan tanah, kira-kira setengah jongkok.

Posisi rendah ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas sekaligus menyulitkan lawan dalam membaca pergerakan pesilat.

Selain posisi tubuh yang rendah, pesilat Silek Dongok dituntut memiliki pandangan yang tajam dan fokus pada lawan.

Dengan posisi tubuh yang merendah, mata pesilat harus tetap waspada agar mampu mengamati serta membaca setiap gerak lawan secara akurat.

Pola serangan dalam Silek Dongok juga memiliki kekhasan tersendiri. Serangan dilakukan dari jarak dekat dan dalam tempo yang cepat.

Pesilat akan merapat dan mendekatkan diri ke lawan dengan tetap menjaga kehati-hatian.

Senjata andalan dalam Silek Dongok antara lain sapuan kaki, kuncian, hempasan, serta serangan cepat dari arah bawah yang mematikan.

Secara prinsip, Silek Dongok tidak bertumpu pada kekuatan fisik semata. Seorang pesilat tidak mengandalkan tenaga, melainkan kepiawaian dalam membaca pergerakan lawan, memancing serangan, serta mengunci lawan ketika telah masuk ke dalam jebakan serangan.

“Silek Dongok tidak hanya sebatas seni bela diri untuk bertahan hidup. Lebih dari itu, Silek Dongok mengandung makna dan filosofi yang dalam. Posisi tubuh yang rendah melambangkan kerendahan hati, tidak sombong. Kalaupun harus bertarung, dilakukan secara sederhana, cepat, dan efektif,” ujar Afdhal Koto yang juga salah seorang Wali Korong di Kanagarian Sikucua Timur.

Dalam perkembangannya, Silek Dongok telah mengalami kemajuan dalam bentuk pertunjukan.

Selain dapat dimainkan secara tunggal, untuk keperluan pertunjukan Silek Dongok biasanya dimainkan oleh dua orang pesilat yang saling berhadapan.

Bahkan, dalam semangat kebersamaan, silek ini juga dapat ditampilkan secara berkelompok dengan gerakan dan jurus yang dilakukan secara bersama-sama.

Sementara itu, Koordinator Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler I Universitas Andalas, Dr. Yasniwati, SH MH mengungkapkan bahwa KKN gelombang pertama ini telah berlangsung lebih dari satu bulan.

Mahasiswa turun langsung dan menyatu dengan masyarakat untuk menggali serta mengembangkan potensi nagari.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari edukasi lingkungan, pengelolaan sampah, optimalisasi objek wisata, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga pelestarian budaya.

“Penampilan Silek Dongok di hadapan ratusan warga di pelataran Masjid Nurul Ikhlas ini merupakan puncak kegiatan KKN. Setelah kegiatan ini, mahasiswa akan kembali ke kampus seiring dimulainya kembali agenda perkuliahan di Universitas Andalas,” ujar Yasniwati.

Dari pantauan mahasiswa KKN malam itu, ratusan warga Kanagarian Sikucua Timur hadir dan menyatu untuk menyaksikan tradisi leluhur tersebut.

Selain masyarakat umum, tokoh-tokoh adat juga turut hadir, terutama alim ulama dan niniak mamak yang menetap di Kanagarian Sikucua.

Selain pertunjukan, mahasiswa KKN Universitas Andalas juga menggelar diskusi bersama pelatih silek dan niniak mamak setempat.

Diskusi ini membahas sejarah, filosofi, serta teknik dasar Silek Dongok. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pendokumentasian pengetahuan lokal sekaligus perencanaan pelatihan silek bagi anak-anak dan remaja nagari ke depannya.

“Kami sengaja memilih dan menjadikan Silek Dongok sebagai puncak kegiatan KKN ini. Harapan kami, KKN Reguler I Universitas Andalas mampu mengangkat potensi Nagari Sikucua Timur. Semoga nagari ini semakin dikenal dengan berbagai keunggulan dan potensinya, termasuk tradisi dan budaya luhur yang masih terjaga hingga saat ini,” ujar Azib Fattah Mandala Putra, salah satu anggota KKN Reguler Universitas Andalas. (*)

Editor : Hendra Efison
#KKN Universitas Andalas #tradisi silek Minangkabau #Silek Dongok Sikucua Timur