Ajang tahunan ini sukses menjadi wadah pelestarian budaya Minangkabau di kalangan pelajar sekolah dasar.
Setelah bersaing ketat selama 30 menit per penampilan, SDN 05 Tungkal Utara, Kecamatan Pariaman Utara, keluar sebagai Juara I melalui siswi Kanya Dwi Ramadhani dengan perolehan nilai 136.
Wali Kota Pariaman Yota Balad, didampingi Wakil Wali Kota Mulyadi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai bentuk pewarisan nilai adat dan budaya Minangkabau kepada generasi muda.
“Selamat kepada anak-anak yang menjadi juara. Namun bagi yang belum berhasil, kami tetap bangga karena tidak semua orang mampu malingka carano. Kalian sudah membuktikan keahliannya dan itu luar biasa,” ujar Yota Balad.
Ia menjelaskan, tradisi “Malingka Carano” dan “Arai Pinang” memiliki makna filosofis mendalam.
“Carano melambangkan Baso jo Basi (tata krama dan kesantunan). Prosesi Malingka Carano mengajarkan kerapian, kehalusan budi, serta penghormatan terhadap tamu dan adat. Semua ini mencerminkan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” lanjutnya.
Festival yang diikuti oleh 86 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat ini menampilkan kemampuan siswa dalam memahami dan menampilkan prosesi adat Minangkabau dengan penuh makna.
Berikut daftar pemenang Festival “Malingka Carano Jo Arai Pinang” ke-III Tahun 2025:
- Juara I: Kanya Dwi Ramadhani (SDN 05 Tungkal Utara)
- Juara II: Zhikri Yahya Mardi (SDIT Ibnu Abbas)
- Juara III: Khairunnisa Salsabila (SDN 12 Cubadak Mentawai)
- Harapan I: Navisha Azzahra (SDN 09 Bato)
- Harapan II: Hanifa Humaira (SDN 02 Marunggi)
- Harapan III: Veluna Putri Dafni (SDN 03 Pauh Barat)
- Juara Favorit: Vania Ramadhani (SDN 08 Enam Lingkung)
Wali Kota Yota Balad menegaskan, penutupan festival bukanlah akhir dari upaya pelestarian budaya, melainkan momentum memperkuat komitmen bersama dalam menjaga warisan adat Minangkabau.
“Penutupan festival ini bukan akhir dari upaya kita melestarikan budaya. Ini adalah semangat baru bagi generasi muda, pemangku adat, dan masyarakat agar tradisi ini terus hidup dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pariaman. Pemerintah akan terus mendukung kegiatan yang mengangkat kearifan lokal seperti Festival Malingka Carano Jo Arai Pinang ini,” tutupnya.
Festival ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendidikan dan kreativitas generasi muda, sekaligus memperkuat identitas Kota Pariaman sebagai kota wisata yang berbudaya.(*)
Editor : Hendra Efison