Laporan: Fajar R Vesky- Limapuluh Kota
Setelah bertahun mati suri akibat pandemi Covid-19, tradisi bakajang atau bersampan selepas Hari Raya Idul Fitri, kembali hadir di Nagari Gunuangmalintang. Menariknya, tradisi ini dihadirkan kembali selama lima hari, terhitung sejak Kamis siang (5/5), dengan swadaya murni masyarakat.
Lima buah kajang (perahu) berukuran besar dengan bentuk menyerupai kapal, berlayar di Batang (Sungai) Mahad yang membelah Nagari Gunuangmalintang, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, Kamis siang (5/5). Kajang-kajang itu dibuat masyarakat Nagari Gunuangmalintang untuk memeriahkan tradisi bakajang atau bersampan selepas Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi bakajang di Gunuangmalintang ini
sudah bertahun-tahun "mati suri" akibat pandemi Covid-19. Tahun ini, seiring dengan mulai berangsur normalnya situasi pandemi, tradisi bakajang digelar kembali.
"Sudah hampir tiga tahun tidak ada tradisi bakajang di Nagari Gunuangmalintang, karena pandemi virus korona. Alhamdulillah, tahun ini bakajang diadakan kembali dan kita bisa menikmatinya," kata S Nefri, warga Kecamatan Kapur IX yang datang ke Gunuangmalintang, kemarin siang.
Tradisi bakajang selepas Hari Raya Idul Fitri di Nagari Gunuangmalintang sendiri, hampir mirip dengan tradisi potang balimau yang berlangsung sebelum Ramadhan di Nagari Pangkalan sebagai nagari tetangga Gunuangmalintang. Tradisi Bakajang dimeriahkan dengan kesenian tradisional talempong pacik, dikia, dan alua pasambahan atau pidato adat.
"Tradisi Bakajang selalu dinantikan masyarakat Gunungmalintang. Karena acaranya tidak sekadar bersampan, tapi menyimpan pesan budaya orang Minang. Seperti seni talempong, dikia, ba'alua, dan lainnya," ujar Rinaldi alias Upok, warga Gunungmalintang.
Tradisi bakajang di Nagari Gunuangmalintang juga menjadi simbol penghormatan anak kemenakan terhadap penghulu dan bundo kanduang. "Biasanya, setiap kajang yang akan masuk dalam satu jorong, harus ada izin dari penghulu atau bundo kanduang di jorong itu. Cara minta izinnya, ya dengan memakai pidato adat atau alua pasambahan," kata Haji Chandra, tokoh masyarakat setempat.
Di Nagari Gunungmalintang sendiri, terdapat empat kepala suku. Masing-masing Datuak Bandaro dari Suku Domo, Datuak Sati dari Suku Melayu, Datuak Paduko Rajo dari Suku Paga Concang, dan Datuak Gindo Simarajo dari Suku Piliang. Kepada keempat kepala suku inilah, warga meminta izin untuk membuat kajang.
Dalam bakajang, warga Gunuangmalintang membawa sampan di sepanjang nagari itu. Mulai dari hilir Batang Maek di Jorong Koto Lamo menuju Jorong Batubolah. Terus ke Jorong Bancahlumpua, Jorong Koto Munsajik, dan berhenti di Jorong Baliakbukik.
Biasanya, tradisi bakajang digelar selama lima hari. Tahun ini, direncanakan juga akan berlangsung selama lima hari.
"Biasanya, hari kedua dan ketiga itu ramai sekali. Lebih ramai dari saat pembukaan. Begitu informasi dari Pak Wali Nagari," kata Kepala Dispapora Limapuluh Kota, Desri yang datang ke Gunuangmalintang, mendampingi Bupati Safaruruddin Dt Bandaro Rajo.
Desri mengakui, dalam acara bakajang tahun ini, seluruh kajang atau sampan yang digunakan, dibuat dengan swadaya masyarakat Gunuangmalintang. Pemerintah daerah baik kabupaten atau provinsi belum menyediakan anggaran untuk menyukseskan peristiwa kebudayaan ini.
"Anggaran dari kantor memang belum ada. Semuanya swadaya masyarakat. Meski demikian, secara manajemen, bimbingan, dan kooordinasi, tetap kita dampingi," kata Desri.
Besarnya swadaya dan partisipasi masyarakat Gunuangmalintang dalam penyelenggaraan bakajang, membuat tradisi ini mendapat penghargaan dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan tahun 2021 lalu. Tradisi bakajang menyisihkan Tari Banjar Kemuning dari Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, dan Soun of Green dari Kota Ambon, Maluku, yang masing-masing dapat juara kedua dan ketiga.
Saat itu, Bupati Limapuluh Kota Safaruddin Dt Bandaro Rajo mengaku bergembira dan bersyukur, tradisi bakajang mendapat penghargaan di pentas nasional. Safar berharap, dengan penghargaan yang didapat bakajang, tradisi-tradisi lainnya yang ada di Limapuluh Kota, termasuk juga destinasi-destinasi wisata yang ada di kabupaten ini, semakin dikenal luas di Indonesia dan mancanegara.
Safar juga penah meminta kepada Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olaharaga saat ini agar terus melakukan kolaborasi dengan dinas lain untuk memajukan sektor pariwisata. Sekaligus menyusun langkah dan konsep agar infrastruktur untuk fasilitas-fasilitas di setiap destinasi wisata yang ada saat ini menjadi lebih baik.
“Fasilitas penunjang di setiap destinasi wisata adalah hal yang perlu diperhatikan serius. Toilet, infrastruktur jalan, tempat ibadah, penginapan serta keamanan bagi setiap wisatawan adalah prioritas utama," tegas Bupati Safaruddin Dt Bandaro Rajo. (***) Editor : Hendra Efison