Oleh: Ego Arianto.
Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.
Sumatera Barat mulai berkembang menjadi destinasi wisata sejak awal abad ke-20. Keindahan alam dan budayanya menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berpelesiran ke daerah di pesisir barat Pulau Sumatera ini.
Hingga akhir kekuasaan Belanda di Indonesia, aktivitas wisata lebih banyak dilakukan oleh orang Eropa. Mereka mengenal dan berwisata ke daerah ini berkat ajakan dan tulisan para pegiat wisata.
Selain informasi lisan, eksotisme destinasi wisata Sumatera Barat juga disebarluaskan lewat catatan perjalanan (travelogue) wisatawan dan puluhan buku panduan perjalanan.
Panduan perjalanan ini diterbitkan oleh maskapai pelayaran dan perhimpunan yang terkait dengan urusan kepariwisataan. Di dalam buku itu tercakup daftar destinasi, ilustrasi, gambar, dan rute perjalanan wisata.
Tak kalah penting, panduan itu juga dilengkapi dengan daftar hotel pilihan yang memungkinkan wisatawan bisa tinggal lebih lama di negeri yang dulu dijuluki ‘het Land van Tourist’ itu.
Hotel adalah salah satu sarana penting dalam dunia pariwisata. Jika wisatawan tidak memiliki keluarga atau kerabat di daerah tujuan wisata yang hendak dikunjunginya, maka hotel menjadi pilihan tempat menginap. Dulu, di Sumatera Barat, ada puluhan hotel yang pernah eksis.
Hotel-hotel itu tersebar di banyak daerah, terutama di Padang, yang merupakan ibukota Gouvernement Sumatra’s Westkust (Sumatera Barat).
Di antara sekian banyak hotel kala itu, Hotel Oranje di Padang adalah salah satu hotel yang penting perannya dalam menunjang pariwisata Sumatera Barat. Tentu didukung oleh sejumlah alasan.
Pertama, Hotel Oranje merupakan hotel terbesar di Sumatera Barat. Pun, fasilitas yang disediakan paling lengkap dan mewah dibandingkan dengan hotel-hotel lainnya.
Kedua, Hotel Oranje adalah hotel yang paling direkomendasikan sebagai tempat menginap bila berwisata ke Sumatera Barat.
Jika dibuat urutan, hotel ini menempati posisi teratas di antara daftar hotel yang paling sering dimuat dalam buku-buku panduan perjalanan wisata.
Hotel Terbesar di Sumatera Barat
Hingga berakhirnya kekuasaan Belanda, telah berdiri puluhan hotel di Sumatera Barat. Sejauh ini, belum ada data terkait jumlah keseluruhan hotel pada masa itu.
Tetapi, dengan menelusuri satu demi satu nama-nama hotel beserta keterangannya yang dimuat di berbagai surat kabar, didapat satu kesan umum.
Hotel-hotel itu, berdasarkan kepemilikan, terbagi menjadi tiga. Ada yang dimiliki oleh orang Eropa (khususnya Belanda). Ada juga yang dimiliki oleh pengusaha pribumi dan Tionghoa.
Pembagian kepemilikan ini juga mencerminkan kelas sosial tamu hotel, di mana hotel-hotel kepunyaan orang Eropa umumnya menjadi tempat menginap tamu dan wisatawan Eropa/Belanda.
Sungguhpun demikian, keberadaan hotel merupakan pertanda kemajuan suatu daerah. Beberapa hotel yang eksis di Sumatera Barat tempo dulu antara lain Hotel Oranje, Hotel Centraal, Hotel Sumatra, Hotel Atjeh, Hotel Tong Djoan, Hotel Kong Bie Hiang (Padang), Hotel Centrum, Park Hotel, Hotel Abdul Madjid (Fort de Kock/Bukittinggi), Hotel Merapi (Padang Panjang), Hotel Talang (Solok), Hotel Marapalam (Batusangkar), Hotel Soebangpas (Lubuk Selasih), Hotel Pajacombo (Payakumbuh), Hotel Ombilin (Sawah Lunto), dan lain-lain.
Di antara daftar hotel yang disebutkan itu, Hotel Oranje adalah hotel terbesar di Sumatera Barat–sebagaimana ditulis dalam Sumatra-bode (1905, 1908) dan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (1923). Pun, fasilitasnya paling lengkap dan berkelas.
Hotel dengan nama serupa: “Hotel Oranje”, sesungguhnya juga berdiri di kota lain. Selain di Padang, Hotel Oranje juga ada di Surabaya, Makassar, Bengkulu, dan Kutaraja (Aceh).
Tumbuhnya Hotel Oranje di Padang menjadi hotel terbesar tampaknya terjadi pada awal abad ke-20, seiring dengan selesainya perbaikan fisik bangunan.
Foto yang berjudul “Oranje Hotel te Padang” (Hotel Oranje di Padang) ini dibuat sekitar 1890 dan merupakan salah satu foto dalam album IIde reis Oost-Indië. Diperkirakan dibangun sekitar pertengahan hingga akhir abad ke-19, Hotel Oranje awalnya memiliki bentuk seperti rumah panggung, berbahan kayu, dan beratap rumbia.
Model ini persis seperti rumah-rumah orang Eropa di Padang umumnya. Hotel Oranje terletak di dekat lapangan Michiels (sekarang: Taman Melati) dan pernah digunakan sebagai tempat tinggal Gubernur Sumatra’s Westkust menjelang akhir abad ke-19.
Bangunan Hotel Oranje mengalami perubahan pada awal abad ke-20. Foto berjudul “Padang–Oranje-Hotel” di atas dibuat oleh Weenenk & Snel (Den Haag) sekitar tahun 1910. Foto ini menunjukkan telah berubahnya bentuk bangunan hotel: dari berbahan kayu dan berbentuk rumah panggung, menjadi berbahan batu dengan fasad depan ala bangunan Eropa.
Perubahan ini tak dapat dilepaskan dari kecenderungan umum yang terjadi di berbagai kota di Hindia-Belanda masa itu: konstruksi bangunan modern mulai menggantikan model tradisional.
Perubahan Hotel Oranje tak terbatas pada bangunan saja, tetapi juga pada fasilitas dan layanan yang ditawarkan. Surat kabar Sumatra-bode (05/08/1908) menyebut Hotel Oranje sebagai hotel “kelas satu” dan memiliki paviliun terpisah.
Fasilitasnya lengkap: ruang makan yang luas dan kamar mandi lengkap dengan bathtub shower. Bahkan, tamu hotel akan dijemput ke stasiun [Pulau Aie] dengan kereta kuda jika melakukan reservasi terlebih dahulu.
Reitsma, dalam Van Stockum’s Travellers’ Handbook for The Dutch East Indies (1930), menyebut Hotel Oranje memiliki 64 kamar. Tarif per kamarnya bergantung pada tipe kamar yang dipilih: single bedroom atau double bedroom.
Tarif untuk tipe single bedroom adalah 5-10 gulden per hari, sedangkan tipe double bedroom bertarif 17-18 gulden per hari. Tamu hotel bahkan mendapat potongan harga sebesar 10% jika minimal menginap selama 15 hari.
Tampak depan Hotel Oranje, Padang, dari sisi kanan sekitar tahun 1930-an (sumber: Officieele Toeristenbureau voor Nederlandsch-Indie, 1939).
Best Recommended Hotel
Hotel Oranje adalah salah satu hotel terbaik yang pernah ada. Hotel ini memiliki keunggulan yang membuatnya sulit untuk disetarai oleh hotel lain.
Selain ketersediaan fasilitas yang lengkap dan mewah, letak hotel ini juga strategis–dekat dengan sejumlah destinasi wisata di Kota Padang. Hal ini tentu menjadi pertimbangan tersendiri bagi wisatawan. Oleh sebab itu, Hotel Oranje selalu muncul dalam buku panduan perjalanan wisata Sumatera Barat.
Reisgids voor Nederlandsch-Indië (1906), buku panduan perjalanan yang disusun dan diterbitkan oleh Koninklijke Paketvaart Maatschappij (Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda), menyebut hotel ini sebagai hotel kelas satu yang sangat populer di kalangan wisatawan.
Hotel Oranje juga menyediakan kendaraan jemputan di stasiun [Pulau Aie] bagi tamunya. Dari Vacantiereizen per K.P.M. naar Sumatra (1924) diketahui bahwa hotel ini menjadi pilihan penginapan utama para wisatawan yang melakukan perjalanan darat dari Medan ke Padang.
Sementara itu, buku Van Stockum’s Travellers’ Handbook for The Dutch East Indies (1930) dan Handboek voor Toerisme in Nederlandsch-Indië (1938)–yang disusun dan diterbitkan oleh de Koninklijke Vereeniging Java Motor Club–menyebut lokasi hotel yang berdekatan dengan Muaro dan Gunung Padang, memungkinkan wisatawan dapat menikmati indahnya pemandangan Pantai Padang dan Samudra Hindia di satu sisi, dan Pantai Air Manis dengan Pulau Pisang Gadang dan Pulau Pisang Kecil di sisi yang lain.
Panduan perjalanan lainnya yang berjudul Sumatra (1939) menyebutkan bahwa Kota Padang menawarkan daya tarik kepada pengunjung dengan kedua hotelnya yang bagus: Hotel Oranje dan Hotel Centraal.
Padang merupakan titik awal perjalanan ke beberapa objek wisata yang menarik seperti Apenberg (Gunung Padang), Juliana-badplaats (Pemandian Juliana), dan mercusuar Soengeibrahmei (Sungai Beremas) di mana wisatawan dapat menikmati pemandangan Samudra Hindia yang indah.
Kini, meski Hotel Oranje sudah tak berbekas lagi, tapi jejak sejarahnya terus dikenang hingga sekarang. Beberapa foto yang menunjukkan bangunan dan ragam aktivitas di Hotel Oranje, masih dipajang di area lobi Hotel Truntum, Padang.
Hotel Truntum, yang dibangun di atas bekas lahan Hotel Oranje itu, yang juga termasuk daftar hotel terbesar dan terbaik di Sumatera Barat masa kini, seakan-akan meneruskan raihan yang dicapai pendahulunya.
Foto-foto itu mencoba membuat tamu hotel dan peminat sejarah kembali bernostalgia akan kejayaan Hotel Oranje di masa silam.(*)