Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Pesona Kota Tua Padang dalam Buku Panduan Wisata Tempo Dulu (Bagian II)

Ego Arianto • Sabtu, 21 September 2024 | 13:16 WIB

Wisatawan Eropa dan ‘urang awak’ di Apenberg, Padang, sekitar tahun 1921 (sumber: KITLV-Leiden University Libraries No. 117237)
Wisatawan Eropa dan ‘urang awak’ di Apenberg, Padang, sekitar tahun 1921 (sumber: KITLV-Leiden University Libraries No. 117237)
Oleh: Ego Arianto, Analis Sumber Sejarah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang.

KAWASAN Kota Tua Padang telah sejak lama menjadi daerah tujuan wisata. Pada bagian pertama dari seri tulisan “Kota Tua Padang”, kita telah sajikan ragam keindahan destinasi ini berdasarkan catatan-catatan wisatawan yang berkunjung pada dekade 1850-an hingga 1860-an.

Dari waktu ke waktu, sektor pariwisata di Kawasan Kota Tua Padang terus berubah. Tak hanya sekadar soal statistik jumlah wisatawan, tetapi juga tentang bagaimana para pemangku kepentingan mengelola kawasan ini.

Kini, pada bagian kedua ini, kita sajikan ragam daya tarik wisata Kota Tua Padang dari sejumlah buku panduan wisata.

Berbeda dengan bagian pertama – yang penyajiannya mengacu pada tulisan-tulisan dari individu wisatawan – bagian kedua ini menggunakan buku-buku panduan wisata (guidebooks).

Buku-buku tersebut disusun dan diterbitkan oleh sejumlah pemangku kepentingan, khususnya asosiasi pariwisata dan perusahaan (termasuk biro) perjalanan.

Istilah tempo dulu dalam tulisan ini merujuk pada periode kolonial Belanda.

Kota Tua Padang mengacu pada sebuah kawasan yang dianggap sebagai cikal bakal Kota Padang dewasa ini.

Kawasan ini mencakup empat kelurahan yang tersebar di dua kecamatan: Berok Nipah dan Kampung Pondok (Padang Barat), Pasa Gadang dan Belakang Pondok (Padang Selatan).

Pada kawasan ini terdapat puluhan bangunan bersejarah periode kolonial, baik yang telah berstatus cagar budaya maupun yang diduga cagar budaya.

Tempo dulu pernah berdiri dua kantor asosiasi pariwisata di Padang: Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) dan Vereeniging Touristenbelang op Sumatra (VTS). Keduanya berbeda.

VTV adalah perhimpunan pariwisata milik pemerintah yang didirikan di Batavia (Jakarta) pada 1908. VTV tidak memiliki gedung sendiri di Padang, tetapi menumpang pada kantor firma Internatio di sekitar Handelskade (Jalan Batang Arau) dan Emmahaven (Teluk Bayur).

Sementara itu, VTS ialah perhimpunan pariwisata lokal yang didirikan di Padang pada 1916.

Kantor perhimpunan ini sering berpindah lokasi, di antaranya pernah menempati sebuah gedung di Bentengweg (Jalan Bagindo Aziz Chan) dan gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) di Handelskade.

Meski demikian, kedua perhimpunan itu sama-sama aktif dalam mempromosikan pariwisata di Padang dan Sumatra Barat.

Misalnya, melalui penerbitan buku panduan wisata. Jika VTV menerbitkan “Padang en Omstreken” (1920) dan “Sumatra” (sekitar 1930-an), maka VTS menerbitkan “Bezoekt de Padangsche Bovenlanden: den schoonsten diamant in den gordel van smaragd” (1917).

Tak mau ketinggalan, beberapa perusahaan pelayaran dan klub motor juga ikut menerbitkan buku panduan. Di antaranya adalah Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), Rotterdamsche Lloyd (RL), dan Java Motor Club (JMC).

KPM, yang kantor perwakilannya di Padang terletak di Grevekade (Jalan Batang Arau), menerbitkan “Reisgids voor Nederlandsch-Indie” (1896).

Ini menjadi buku panduan perjalanan pertama ke berbagai tempat di Hindia-Belanda. RL, yang menempatkan agennya di kantor firma Internatio di Emmahaven, menerbitkan buku “Java and Sumatra: The Holiday Paradise” (1927).

JMC, yang juga memiliki kantor perwakilan sendiri di Handelskade, menerbitkan “Handboek voor Toerisme in Nederlandsch-Indie” (1925).

Selain itu, terdapat pula buku panduan yang disusun oleh individu-individu, yang pernah bekerja pada asosiasi pariwisata, perusahaan pelayaran, hingga perkeretaapian.

Misalnya, buku “Van Stockum’s Travellers’ Handbook for the Dutch East Indies” (1930) yang disusun oleh S.A. Reitsma, mantan pejabat tinggi jawatan kereta api Hindia-Belanda.

Yang menjadi pertanyaan adalah: apa saja daya tarik wisata di Kawasan Kota Tua Padang yang disajikan dalam buku-buku panduan wisata tersebut? Bagaimana informasi wisata itu disajikan?

Daya Tarik Wisata

Daya tarik wisata adalah produk utama dari suatu destinasi pariwisata. Robert Mill dalam Tourism: The International Business (1990) menyebut, “attractions draw people to a destination.”

Daya tarik ini berkaitan dengan apa yang bisa dilihat serta apa yang bisa dilakukan oleh para wisatawan.

Melalui buku-buku panduan wisata di atas, diketahui bahwa daya tarik wisata di Kota Tua Padang tempo dulu sudah mencakup daya tarik wisata alam dan wisata budaya. Jumlahnya memang tidak banyak.

Seperti disebut dalam Van Stockum’s Travellers’ Handbook for the Dutch East Indies (1930): Padang memiliki sedikit hal yang menarik bagi wisatawan.

Daya tarik wisata yang termasuk dalam kategori wisata alam antara lain Gunung Monyet dan Gunung Padang. Kedua objek ini sebetulnya terletak di sekitar (alih-alih di dalam) kawasan kota tua.

Meski keduanya berada pada satu perbukitan yang sama, buku panduan Reisgids voor Nederlandsch-Indie (1896) membedakan Gunung Padang untuk bukit yang agak tinggi (329 meter) dan Gunung Monyet untuk bukit yang lebih rendah (104 meter).

Untuk sampai di kedua objek ini, ada dua pilihan cara. Pertama, dari Muaro, wisatawan harus menyeberangi Batang Arau dengan menggunakan perahu kecil. Tarifnya sekitar 20 sen pergi-pulang.

Sesampainya di seberang sungai, wisatawan disarankan membeli pisang di salah satu warung terdekat, untuk dibagi-bagikan ke puluhan monyet di Gunung Monyet. Dengan sedikit imbalan, wisatawan dapat diantar dan dipandu oleh ‘urang awak’.

Tak berapa lama setelah mendaki perbukitan, wisatawan akan melihat puluhan monyet muncul dari segala arah.

Wisatawan dapat menikmati pertengkaran di antara mereka untuk memperebutkan pisang-pisang, yang biasanya dimenangkan oleh monyet yang paling besar dan kuat.

Dari sini, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan yang indah dari Pantai Padang dan Samudra Hindia.

Pilihan kedua adalah dengan memanfaatkan layanan dari hotel tempat wisatawan menginap.

Jika wisatawan menggunakan mobil dari hotel, sopir akan bertindak sebagai pemandu, membeli pisang, membayar tarif penyeberangan, dan sebagainya. Paket wisata ini berdurasi dua jam dan menghabiskan sekitar 5 gulden.

Jika wisatawan masih memiliki waktu, mereka dapat melanjutkan perjalanan menuju Emmahaven melalui Gunung Padang.

Di sini, wisatawan akan melewati makam-makam Tionghoa yang dengan mudah dapat ditemukan di sepanjang jalan sembari menikmati keindahan pemandangan pantai, bebatuan besar, pegunungan, dan sebagainya.

Dari Emmahaven, setelah mengakhiri perjalanan wisatanya, wisatawan dapat kembali ke hotel dengan salah satu dari tiga pilihan sarana transportasi: kereta, sado, atau mobil.

Sementara itu, objek yang termasuk dalam kategori wisata budaya antara lain Monumen De Greve di pinggir Batang Arau dan sebuah kelenteng di Kampung Pondok.

Sesuai namanya, Monumen De Greve dibangun pada 1880 untuk mengenang Willem Hendrik de Greve. Ia adalah insinyur pertambangan Belanda yang berjasa meneliti dan menemukan cadangan batubara di Sawahlunto pada pertengahan dasawarsa 1860-an dan awal 1870-an.

Monumen ini memiliki tinggi 6 meter dan lebar 2 meter. Daya tarik objek ini terutama terletak pada keindahan dan kekhasan simbol-simbol yang melekat pada struktur monumen.

Bagian utama monumen berupa panil inskripsi dari marmer Carrara dan dipahatkan ukiran timbul.

Pada bagian depan terdapat inskripsi “Aan de nagedachtenis van W. H. de Greve, ingenieur 1ste klasse der mijnen”–yang berarti: untuk mengenang W. H. de Greve, insinyur pertambangan tingkat satu.

Di sekitar inskripsi ini, terdapat ukiran simbol Glück Auf. Glück Auf adalah seruan atau ucapan salam dalam bahasa Jerman di kalangan pekerja tambang, yang bermakna semacam harapan agar para pekerja selamat dan berhasil dalam menggali tambang.

Sementara itu, di bagian belakang terdapat inskripsi “geboren te Franeker den 15 April 1840, noodlottig omgekomen op een wetenschappelijken togt te Dorian-Gadang den 22n October 1872”–yang berarti: lahir di Franeker pada 15 April 1840, meninggal naas dalam sebuah ekspedisi ilmiah di Durian-Gadang pada 22 Oktober 1872.

Sementara itu, tidak banyak informasi yang diberikan tentang kelenteng di Kampung Pondok, selain sebagai tempat peribadatan penduduk Tionghoa.

Bangunan-bangunan kolonial di Kota Tua Padang yang masih bertahan hingga saat ini, pada umumnya dibangun sepanjang paruh pertama abad ke-20.

Bangunan-bangunan itu tidak disebut sebagai objek wisata dalam buku-buku panduan wisata tempo dulu; karena awalnya memang tidak didesain atau difungsikan sebagai objek wisata.

Misalnya, untuk menyebut beberapa contoh: kantor dan gudang perusahaan Geo Wehry & Co di Batang Arau–yang kini akan dijadikan restoran/kafe, kantor perusahaan Guntzel & Schumacher (kini: Angel Wings), kantor bank De Javasche Bank di Muaro (kini: Museum Bank Indonesia), kantor bank Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij (kini: Bank Mandiri KCP Padang Muaro), Masjid Muhammadan dan kawasan pertokoan milik penduduk Timur Asing (Tionghoa dan India) di Pasa Gadang.

Baca Juga: Vereeniging Touristenbelang op Sumatra, Badan Promosi Pariwisata Sumatera Barat Tempo Dulu

Kini, seiring dengan tren di dunia pariwisata yang menjadikan Kawasan Kota Tua sebagai destinasi unggulan, bangunan-bangunan kolonial itu mulai dilirik dan dipercantik untuk menarik kunjungan wisatawan.

Jika tempo dulu–asosiasi pariwisata, perusahaan, hingga biro perjalanan–berhasil menerbitkan buku panduan perjalanan ke Kota Tua Padang, maka pemangku kepentingan pariwisata daerah hari ini, saya yakin, bisa pula melakukannya dengan lebih baik.(*)

Editor : Heri Sugiarto
#buku panduan wisata #Wisata Kota Padang #gunung padang #wisata tempo dulu #Vereeniging Touristenbelang op Sumatra #Ego Arianto #Vereeniging Toeristenverkeer #kolonial belanda #kota tua padang